Pakan Makin Mahal, Kemarau dan Karhutla Gerus Keuntungan Peternak di Tapin
Dampak kemarau yang diikuti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan peternak di Tapin.
KABARKALSEL.COM, RANTAU – Dampak kemarau yang diikuti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan peternak di Tapin.
Memang belum ditemukan perihal kematian ternak dalam jumlah besar. Namun cuaca panas dan dampak karhutla memengaruhi kondisi kesehatan dan produktivitas ternak.
“Gangguan yang terjadi di antaranya penurunan nafsu makan, dehidrasi, dan stres panas," ungkap Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tapin, Erwin, dikutip dari Antara, Selasa (12/10/2026).
"Kemudian perlambatan pertumbuhan ternak dan penurunan produksi telur ayam, terutama di wilayah yang dekat dengan lokasi karhutla,” sambungnya.
Tekanan terhadap peternak tidak hanya berasal dari panas. Kemarau juga mengurangi ketersediaan tanaman hijau yang menjadi sumber pakan utama, terutama sapi dan kambing.
"Dampak yang mulai terlihat dari penurunan bobot badan ternak akibat keterbatasan pasokan hijauan. Khusus usaha unggas, stres panas turut memengaruhi produksi telur," beber Erwin.
Sejumlah wilayah yang terdampak kondisi tersebut meliputi Kecamatan Tapin Tengah, Tapin Selatan dan sebagian Binuang.
Sebagian padang rumput yang biasa digunakan untuk menggembalakan ternak di Tapin Tengah, dilaporkan sudah dilalap karhutla. Kondisi serupa juga terjadi di lahan pakau hijau di Tapin Selatan dan Binuang.
Selain persoalan ketersediaan hijauan, peternak juga menghadapi kenaikan biaya produksi. Penyebabnya harga pakan ternak yang meningkat sekitar 8 hingga 10 persen.
Kenaikan tersebut dipengaruhi harga jagung untuk pakan, kedelai impor, dan ongkos angkut yang terdampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Kenaikan biaya membuat keuntungan peternak semakin menipis, terutama usaha peternakan sapi dan ayam petelur,” tukas Erwin.
Untuk menekan pengeluaran, sebagian peternak mulai memanfaatkan pakan fermentasi dan bahan pakan alternatif untuk menggantikan sebagian pakan konvensional.
"Untungnya populasi ternak masih relatif aman dan belum mengalami penurunan. Usaha sapi potong masih dinilai menguntungkan. Sedangkan harga jual ayam dan telur cenderung stagnan atau mengalami penurunan tipis," tutup Erwin.



