Harga Cabai Hiyung Meroket, Petani di Tapin Justru Tertekan

Dampak kemarau yang diikuti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), produksi cabai hiyung di Tapin ikut merosot hingga 40 persen.

Oct 20, 2026 - 19:38
Oct 20, 2026 - 19:38
Harga Cabai Hiyung Meroket, Petani di Tapin Justru Tertekan
Seorang petani memanen cabai hiyung di tengah musim kemarau panjang dan ancaman karhutla yang melanda Tapin, Selasa (20/10/2026). Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, RANTAU – Dampak kemarau yang diikuti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), produksi cabai hiyung di Tapin ikut merosot hingga 40 persen.

Produksi cabai yang sebelumnya mencapai 50 kilogram per minggu, sekarang tercatat menyusut hingga menjadi sekitar 30 kilogram. 

"Penurunan hasil panen itu turut mengurangi pasokan cabai ke pasaran," papar Ketua Kelompok Tani Karya Baru, Junaidi, dikutip dari Antara, Selasa (20/10/2026).

"Oleh karena kurang pasokan, harga jual juga mengalami kenaikan sebesar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram menjadi Rp125 ribu per kilogram," sambungnya.

Meski harga melonjak lebih dari dua kali lipat, petani tidak serta-merta menikmati peningkatan pendapatan. Jumlah cabai yang bisa dipanen semakin sedikit, sehingga kenaikan harga belum tentu mampu mengimbangi kerugian.

Tercatat sekitar 12 hektare lahan cabai hiyung hangus akibat karhutla. Lahan terdampak merupakan bagian dari total 139 hektare lahan cabai hiyung yang dikelola 11 kelompok tani.

"Selain penurunan produksi, pengurangan luas lahan akibat kebakaran juga memengaruhi pasokan. Apabila kemarau dan karhutla terus berlangsung, produksi akan terus berturun," tukas Junaidi.