Harga Semangka Anjlok, Petani Tanah Bumbu Pilih Beralih Tanam Cabai

Harga semangka yang merosot membuat sebagian petani di Tanah Bumbu harus memutar strategi.

Aug 21, 2026 - 16:43
Aug 21, 2026 - 16:43
Harga Semangka Anjlok, Petani Tanah Bumbu Pilih Beralih Tanam Cabai
Seorang pedagang buah semangka menunggu pembeli di Pasar Tradisional Bauntung Batuah Martapura, Banjar, Senin (27/4/2020). Foto: Info Publik

KABARKALSEL.COM, BATULICIN - Harga semangka yang anjlok membuat sebagian petani di Tanah Bumbu harus memutar strategi. 

Ketika harga buah semangka di tingkat petani jatuh dari Rp8.600 menjadi sekitar Rp5.500 per kilogram, cabai rawit mulai dilirik sebagai komoditas yang dinilai lebih menjanjikan.

Seperti yang dilakukan Alfiannor. Pria berusia 40 tahun ini mengurangi ketergantungan kepada semangka dan mengembangkan budidaya cabai di lahan sekitar 0,7 hektare.

"Harga semangka semakin turun menjadi sekitar Rp5.500 per kilogram. Salah satunya disebabkan pasokan semangka dari Hulu Sungai Selatan yang melimpah," papar Alfiannor dikutip dari Antara, Jumat (21/08/2026).

Bukan hanya persoalan harga. Musim kemarau juga menjadi pertimbangan Alfiannor untuk mengubah komoditas yang ditanam.

Keterbatasan pasokan air membuat budidaya semangka menjadi lebih berat, sehingga Alfiannor mencoba peruntungan melalui tanaman cabai yang dinilai memiliki prospek lebih menarik.

Untuk membudidayakan cabai, Alfiannor menyiapkan modal sekitar Rp40 juta untuk lahan seluas 0,7 hektare. Dengan jarak tanam 50×50 sentimeter atau 60×60 sentimeter, Alfiannor menanam sekitar 8.000 bibit cabai rawit.

Setelah memasuki usia sekitar 2,5 bulan atau 75 hari atau masa awal panen, Alfiannor memperkirakan produksi dapat mencapai 1,6 ton cabai per bulan.

"Namun angka produksi tersebut sangat bergantung tanaman harus mendapatkan perawatan sejak dini, terutama menjaga imunitas, mengendalikan kelembapan, dan rutin memantau kondisi daun," papar Alfiannor.

"Penyakit seperti daun kering, layu, hingga penyakit patek harus segera diantisipasi agar tidak mengganggu produktivitas tanaman," sambungnya.

Adapun harga cabai di tingkat petani disebut mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram. Pun dibandingkan semangka, umur produktif cabai hingga sekitar satu tahun dengan perawatan yang baik.

Meski begitu, bukan berarti budidaya cabai bebas dari persoalan. Sejumlah petani swadaya masih harus menghadapi biaya produksi tinggi. 

Salah satu beban yang dirasakan adalah kenaikan harga pupuk nonsubsidi. Harga pupuk yang sebelumnya sekitar Rp700.000 per karung sekarang meningkat menjadi Rp925.000.

"Kami berharap Pemkan Tanah Bumbu memberikan perhatian lebih kepada petani swadaya. Salah satunya memberikan bantuan alat dan mesin pertanian untuk menekan biaya operasional, sekaligus meningkatkan produktivitas lahan," harap Alfiannor.

Sementara Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tanah Bumbu, Robby Chandra, menjelaskan pemerintah telah mendukung upaya petani dalam menjaga stabilitas kebutuhan pangan.

"Sebelumnya Pemkab Tanah Bumbu telah menyalurkan bantuan melalui APBN dan APBD kepada kelompok tani guna mendukung produksi pangan dan mencegah inflasi," tukas Robby.

Bantuan yang telah disalurkan di antaranya pompa air, traktor roda dua, dan traktor roda empat. Selain bantuan alsintan, DKPP Tanah Bumbu juga menjalankan program pengembangan cabai dan sayuran di kelompok-kelompok tani.

Program tersebut kemudian turut diperkuat melalui kegiatan mini ekspo produsen benih di Desa Manunggal, Kecamatan Karang Bintang.