Kabut Asap Karhutla Ancam Kesehatan Jangka Panjang, Pakar ULM Ungkap Bahaya PM2.5
Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimut Kalimantan Selatan selama beberapa bulan terakhir, bukan sekadar menyebabkan mata perih, batuk dan sesak napas.
KABARKALSEL.COM, BANJARBARU – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimut Kalimantan Selatan selama beberapa bulan terakhir, bukan sekadar menyebabkan mata perih, batuk dan sesak napas.
Bahkan dua pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap paparan asap karhutla sebagai bencana biasa yang harus diterima begitu saja.
"Asap akibat karhutla bukan polusi udara biasa, melainkan campuran kompleks berbagai zat kimia berbahaya yang dapat masuk ke tubuh melalui sistem pernapasan," ungkap Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan ULM, Profesor Husaini, dikutip dari Antara.
"Bahaya asap karhutla tidak selalu langsung terlihat. Masyarakat mungkin hanya merasakan mata perih, batuk, atau sesak napas. Padahal paparan polutan tertentu juga dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang," imbuhnya.
Salah satu komponen yang paling diwaspadai adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5. Dengan ukuran yang sangat kecil, partikel ini mampu menembus jauh ke dalam paru-paru.
Paparan partikel tersebut dapat memicu peradangan dan berkontribusi terhadap gangguan kesehatan di luar sistem pernapasan.
"PM2.5 berukuran jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia yang berkisar 50 hingga 70 mikrometer," tambah pakar kesehatan masyarakat Profesor Syamsul Arifin.
Seiring ukuran yang sangat kecil, partikel tersebut dapat mencapai alveolus atau kantung udara paru-paru. Sebagian komponen polutan yang terhirup berpotensi memengaruhi sistem peredaran darah.
Selain PM2.5, asap karhutla mengandung partikel PM10, karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), dan berbagai senyawa organik yang dihasilkan dari proses pembakaran.
CO dapat mengikat hemoglobin dalam darah dan menghambat pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh. Sedangkan SO2 dan NO2 berpotensi mengiritasi saluran pernapasan, sekaligus memperburuk gangguan paru-paru.
Bahaya lain berasal dari senyawa organik seperti benzena, formaldehida, dan hidrokarbon aromatik polisiklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), termasuk benzo[a]pyrene.
Sejumlah senyawa tersebut diketahui bersifat karsinogenik atau dapat meningkatkan risiko kanker. Seperti benzena yang berkaitan dengan peningkatan risiko leukemia. Sementara PAH dapat menyebabkan kerusakan DNA dan meningkatkan risiko kanker.
"Makanya menganggap kabut asap sebagai bencana biasa yang harus diterima dengan pasrah merupakan kesimpulan keliru dan berbahaya," tukas Syamsul Arifin
Kendati paparan asap karhutla perlu diwaspadai semua kalangan, sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan. Mereka antara lain bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita asma dan penyakit paru-paru maupun jantung.
Khusus kelompok tersebut, polusi asap dapat memperburuk penyakit yang sudah diidap dan meningkatkan risiko komplikasi, sehingga pembatasan paparan perlu dilakukan lebih ketat ketika kualitas udara memburuk.
"Semakin berat aktivitas fisik di luar ruangan, semakin cepat dan dalam seseorang bernapas. Kondisi ini dapat meningkatkan jumlah partikel yang terhirup, sehingga memperbesar dosis paparan polutan ke paru-paru," jelas Syamsul.
Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat kabut asap karhutla, masyarakat disarankan menggunakan respirator N95 atau KN95 yang memenuhi standar dan terpasang rapat di wajah.
Respirator tersebut dirancang menyaring setidaknya 95 persen partikel uji dalam kondisi pengujian tertentu, tetapi tidak melindungi pemakai dari gas beracun seperti karbon monoksida.
Kemudian mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika asap pekat atau kualitas udara berada di tingkat tidak sehat, serta menutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar.
Masyarakat juga dapat menggunakan pembersih udara dengan filter HEPA untuk membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.
Selanjutnya mencukupi kebutuhan air putih untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi, juga membilas mata dengan air bersih apabila mengalami iritasi akibat asap.
"Seandainya mengalami gejala berat seperti nyeri dada, jantung berdebar, pusing mendadak, atau kesulitan bernapas, sebaiknya segera mencari pertolongan medis," tegas Syamsul.
Selain perlindungan individu, para pakar sepakat menekankan pencegahan karhutla dalam situasi kemarau berkepanjangan, suhu tinggi, dan kondisi vegetasi yang mengering.
Pun penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Perlindungan masyarakat dari paparan asap, pemulihan ekosistem gambut, dan pencegahan kebakaran berulang harus menjadi bagian dari upaya terpadu.
"Upaya penanganan perlu mencakup pemantauan titik panas, deteksi kebakaran bawah permukaan, pembasahan kembali lahan gambut, serta penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal," beber Husaini.
"Tanpa pencegahan, pengendalian, dan penegakan hukum yang tegas serta berkelanjutan, karhutla akan terus menjadi ancaman tahunan kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan," tutupnya.



