Sungai Tapin Kerap Keruh, Bendungan Linuh Menjadi Kunci Stabilisasi Pasokan Air PDAM
Kekeruhan air di Sungai Tapin menjadi tantangan PDAM Tapin (PT Bastari Maju Tapin) dalam menjaga kelancaran pasokan air bersih untuk pelanggan.
KABARKALSEL.COM, RANTAU - Kekeruhan air di Sungai Tapin menjadi tantangan PDAM Tapin (PT Bastari Maju Tapin) dalam menjaga kelancaran pasokan air bersih untuk pelanggan.
Kondisi Sungai Tapin sering berfluktuasi terutama selepas hujan deras. Perubahan ini berdampak langsung terhadap kestabilan kualitas air baku yang diolah menjadi air siap konsumsi.
Terlebih PDAM Tapin masih mengandalkan sumber air baku dari Sungai Tapin yang diolah di Instalasi Pengolahan Air (IPA), sebelum disalurkan ke pelanggan.
“Kami perlu waktu sekitar 2 jam untuk menyesuaikan proses pengolahan air, ketika tingkat kekeruhan meningkat setelah hujan,” papar Direktur PT Bastari Maju Tapin, Alimin Fauzi, dikutip dari Antara, Selasa (07/10/2025).
Ketika kekeruhan sudah mencapai angka tertinggi dalam satuan Nephelometric Turbidity Unit (NTU), sistem pompa disesuaikan untuk menjaga agar distribusi tetap berjalan.
“Kalau air sangat keruh, kami menggunakan pompa kecil agar pasokan tetap mengalir, meski debit berkurang. Begitu kondisi membaik, pompa besar kembali dioperasikan,” jelas Alimin.
Sebagai langkah jangka panjang, PDAM Tapin akan memanfaatkan Bendungan Linuh di Desa Linuh, Kecamatan Bungur, sebagai sumber air baku baru mulai 2026.
Opsi tersebut terbilang ideal, karena intake air baku yang memanfaatkan Bendungan Linuh mampu menyuplai air hingga 250 liter per detik dari potensi 500 liter per detik.
Sementara untuk wilayah perkotaan, terutama Rantau dan sekitarnya, pasokan air baku masih terbantu dari Sungai Kandang di Desa Sungai Rutas, Kecamatan Candi Laras Selatan.
“Kami menargetkan bisa memaksimalkan pemanfaatan air dari Bendung Linuh mulai 2026. Dengan begitu, pelayanan air bersih di Tapin akan lebih stabil,” tutup Alimin.