Kuliner Ramadhan Baiman di Jembatan Barito: Pusat Ekonomi Baru atau Zero Sum Game?

Pusat Kuliner Ramadhan Baiman 1447 Hijriah di Taman Jembatan Barito digadang-gadang sebagai pusat ekonomi baru. Namun di balik ambisi besar ini, mengapa Pemkab Barito Kuala (Batola) harus mengorbankan tradisi pasar wadai di Marabahan?

Feb 24, 2026 - 19:42
Feb 24, 2026 - 21:39
Kuliner Ramadhan Baiman di Jembatan Barito: Pusat Ekonomi Baru atau Zero Sum Game?
Suasana Pusat Kuliner Ramadhan Baiman 1447 Hijriah yang memiliki view mentereng berupa Jembatan Barito dan Pulau Bakut. Foto: Prokopim Batola

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Pusat Kuliner Ramadhan Baiman 1447 Hijriah di Taman Jembatan Barito digadang-gadang sebagai pusat ekonomi baru. Namun di balik ambisi besar ini, mengapa Pemkab Barito Kuala (Batola) harus mengorbankan tradisi pasar wadai di Marabahan?

Keberadaan pusat kuliner itu sendiri banyak mendapat perhatian masyarakat. Ini persis ketika Pemkab Batola berencana memindahkan pusat perayaan Hari Jadi ke-65, sebelum akhirnya tetap digelar di Marabahan.

Sejumlah masyarakat mengacungkan tangan tanda setuju, tetapi sebagian lain justru mempertanyakan alasan pemindahan tersebut.

"Pendirian Kuliner Ramadhan Baiman 1447 Hijriah di Taman Jembatan Barito dapat dinilai dari dua sisi," ungkap akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Nasrullah, Selasa (24/03/2026). 

Sisi pertama menunjukkan political will Pemkab Batola cukup powerfull dalam memobilisasi kekuatan struktural. Mulai dari dinas-dinas hingga pemerintah desa, semua digerakkan untuk mengisi dan menyukseskan pasar tersebut.

"Namun di sisi lain, kekuatan mobilisasi itu justru berbalik menjadi paradoks, ketika Pasar Wadai Ramadan yang biasa digelar di depan rumah dinas bupati di Marabahan direlokasi," beber Nasrullah.

Padahal pasar yang hanya hadir setahun sekali itu bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi telah menjadi ruang sosial dan kultural yang sakral untuk masyarakat.

Terlebih sejak era Bupati Abdul Aziz atau puluhan tahun lalu, pasar wadai di depan rumah dinas bupati telah menjadi memori kolektif. 

Berita Terkait:

Tenda Pasar Ramadan Roboh Diterjang Angin, Video Sikap Pejabat Batola Tuai Polemik

Solusi Pedagang Marabahan Batola, Pasar Wadai Digelar di Area Parkir Kubah Datu Abdusshamad

“Publik berhak bertanya, kegentingan apa yang membuat pasar tersebut ditiadakan? Makanya Pemkab Batola perlu menghadirkan alasan yang benar-benar kuat dan rasional atas relokasi tersebut," tukas Nasrullah.

Tanpa argumentasi yang transparan, relokasi berpotensi dibaca bukan sebagai inovasi, melainkan penghapusan ruang publik yang telah memiliki legitimasi sosial.

"Pengembangan Kuliner Ramadhan Baiman juga semestinya tidak ditempatkan dalam kerangka zero sum game atau menghilangkan yang lama untuk menghidupkan yang baru," beber Nasrullah.

"Justru Pemkab Batola bisa memperluas dampak ekonomi dengan membuka beberapa titik pasar wadai di lokasi strategis lain," sambung putra kelahiran Kuripan ini.

Mengingat sekarang letak Kuliner Ramadhan Baiman berada di lokasi strategis, tepatnya di Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Pemkab Batola juga berada di depan peluang besar.

"Itu menjadi tantangan untuk Pemkab Batola. Mereka harus berani mendeklarasikan keberadaan pusat gravitasi ekonomi baru dengan territorial branding berupa pasar wadai terbesar di Kalselteng," tegas Nasrullah.

Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah mempromosikan Kuliner Ramadhan Baiman 1447 Hijriah.

Dalam rangkaian territorial branding, promosi harus digencarkan melalui baliho di Banjarmasin dan Banjarbaru, serta Bandara Syamsudin Noor. Pun iklan di media cetak, daring, dan platform digital dinilai mutlak dilakukan.

"Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah Pemkab Batola sanggup menjawab tantangan besar tersebut secara konsisten dan berkelanjutan?" tutup Nasrullah.