Harga Pertamax dan Dex Series Naik, Ancaman Konflik Timur Tengah Membayangi
Memasuki Maret 2026, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dari Pertamina kembali mengalami kenaikan.
KABARKALSEL.COM, JAKARTA - Memasuki Maret 2026, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dari Pertamina kembali mengalami kenaikan.
Penyesuaian harga tersebut berlaku untuk seluruh jenis BBM non subsidi, baik Pertamax Series maupun Dex Series. Seluruh produk mengalami kenaikan harga dibandingkan Februari 2026.
Kenaikan dilakukan seiring dengan peningkatan harga minyak mentah dunia, dan pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Penyesuaian harga BBM umum dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum," demikian penjelasan Pertamina.
Meski terjadi kenaikan untuk seluruh BBM non subsidi, Pertamina memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami perubahan.
Harga Pertalite tetap dipatok Rp10.000 per liter. Sementara Biosolar atau solar bersubsidi masih dijual seharga Rp6.800 per liter.
Namun dalam beberapa pekan kedepan, harga minyak berpotensi terdampak ketegangan antara Amerika Serikat dan Isreal dengan Iran.
Terlebih posisi Iran berdekatan dengan Selat Hormuz yang dilalui pelayaran hampir seperlima pasokan minyak dunia. Juga sekitar 20 hingga 25 persen perdagangan gas alam cair atau LNG global.
Andai jalur itu terganggu, harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak hingga 120 hingga 150 dolar AS per barel. Untuk negara importir minyak seperti Indonesia, lonjakan ini bisa menjelma menjadi tekanan nyata kepada anggaran negara.
"Harga minyak sekarang berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, berarti akan menjadi rekor," ungkap ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, dikutip dari Metro TV.
"Kalau kemudian berdampak kepada penyesuaian harga BBM bersubsidi, inflasi akan terjadi dan menurunkan daya beli masyarakat," tambahnya.
Tidak hanya minyak dan gas, konflik di Timur Tengah juga dikhawatirkan bakal meningkatkan biaya distribusi barang di Indonesia secara signifikan.
"Kalau terjadi kenaikan harga solar sebesar 30 persen, diperkirakan kenaikan ongkos angkut bisa mencapai 10,5 hingga 12 persen," beber CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, dikutip dari Tempo.
Besaran kenaikan ongkos angkut didasari asumsi komponen BBM yang mencapai 35 hingga 40 persen dari total biaya operasi truk.
"Kenaikan ongkos distribusi bakal mempengaruhi harga barang, mengingat rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sebesar 14 persen dari harga produk," tukas Setijadi.
Terlebih logistik Indonesia masih bertumpu kepada transportasi jalan, sehingga sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi. Risiko terbesar selanjutnya adalah tekanan inflasi biaya distribusi, khususnya komoditas pangan dan kebutuhan pokok.
"Akibatnya industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda. Mereka mengalami kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak dan peningkatan biaya distribusi domestik," jelas Setijadi.
"Kemudian sektor konstruksi dan UMKM relatif rentan, karena peningkatan biaya angkut maupun keterbatasan margin," sambungnya.
Dengan kerentanan tersebut, pemerintah didorong menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif dan mempercepat diversifikasi energi.
Juga penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api. Penguatan distribusi itu dinilai penting untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar.
"Perlu pula dilakukan efisiensi rute distribusi, konsolidasi muatan, dan penerapan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar dalam kontrak logistik," beber Setijadi.
"Tanpa reformasi struktural sistem logistik, setiap gejolak global berisiko menjadi tekanan harga domestik dan pelemahan daya beli masyarakat," tutupnya.
Berikut daftar harga BBM Maret 2026 di seluruh kawasan dan provinsi:
Aceh dan Sumatera Utara
Pertamax: Rp 12.600
Pertamax Turbo: Rp 13.350
Dexlite: Rp 14.500
Pertamina Dex: Rp 14.800
Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung
Pertamax: Rp 12.600
Pertamax Turbo: Rp 13.350
Dexlite: Rp 14.500
Pertamina Dex: Rp 14.800
Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau
Pertamax: Rp 12.900
Pertamax Turbo: Rp 13.650
Dexlite: Rp 14.800
Pertamina Dex: 15.100 FTZ
Sabang
Pertamax: Rp 11.550
Dexlite: Rp 13.250 FTZ
Batam
Pertamax: Rp 11.750
Pertamax Turbo: Rp 12.400
Dexlite: Rp 13.450
Pertamina Dex: Rp 13.800
Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur
Pertamax: Rp 12.300
Pertamax Turbo: Rp 13.100
Pertamax Green 95: Rp 12.900
Dexlite: Rp 14.200
Pertamina Dex: Rp 14.500
Bali dan Nusa Tenggara Barat
Pertamax: Rp 12.300
Pertamax Turbo: Rp 13.100
Dexlite: Rp 14.200
Pertamina Dex: Rp 14.500
Nusa Tenggara Timur
Pertamax: Rp 12.600
Pertamax Turbo: Rp 13.350
Dexlite: Rp 14.500
Pertamina Dex: Rp 14.800
Kalimantan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur
Pertamax: Rp 12.600
Pertamax Turbo: Rp 13.350
Dexlite: Rp 14.500
Pertamina Dex: Rp 14.800
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara
Pertamax: Rp 12.900
Pertamax Turbo: Rp 13.650
Dexlite: Rp 14.800
Pertamina Dex: Rp 15.100
Sulawesi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat
Pertamax: Rp 12.600
Pertamax Turbo: Rp 13.350
Dexlite: Rp 14.500
Pertamina Dex: Rp 14.800
Maluku dan Papua Maluku dan Maluku Utara
Pertamax: Rp 12.600
Dexlite: Rp 14.500
Papua
Pertamax: Rp 12.600
Dexlite: Rp 14.500
Pertamax Turbo: Rp 14.800
Papua Barat dan Papua Barat Daya
Pertamax: Rp 12.600
Dexlite: Rp 14.500
Pertamina Dex: Rp 14.800
Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan
Pertamax: Rp 12.600
Dexlite: Rp 14.500