Evaluasi Kuliner Ramadan Baiman Harus Berdasarkan Sains, Bukan Cuma Spekulasi

Empat kali kejadian angin kencang yang menerpa Kuliner Ramadan Baiman 1447 Hijriah di Taman Jembatan Barito dalam satu periode pelaksanaan, memicu sorotan akademisi.

Maret 5, 2026 - 21:48
Maret 5, 2026 - 21:52
Evaluasi Kuliner Ramadan Baiman Harus Berdasarkan Sains, Bukan Cuma Spekulasi
Kuliner Ramadan Baiman di Taman Jembatan Barito yang sudah empat kali diterjang angin kencang. Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Empat kali kejadian angin kencang yang menerpa Kuliner Ramadan Baiman 1447 Hijriah di Taman Jembatan Barito dalam satu periode pelaksanaan, memicu sorotan akademisi. 

Antropolog yang juga dosen Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, mendesak Pemkab Barito Kuala (Batola) segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan lokasi.

Terlebih angin kencang tersebut berulang kali merusak lapak pedagang. Kondisi ini tidak hanya berdampak kepada keamanan pengunjung, tetapi juga kerugian ekonomi kepada pedagang.

"Setelah empat kali kejadian, selayaknya bupati selaku kepala pemerintah daerah mengevaluasi kelayakan lokasi agar tidak terjebak dalam pusaran zero sum game," ungkap Nasrullah, Kamis (05/03/2026).

"Namun evaluasi dimaksud mesti memiliki satu prasyarat bahwa kepala daerah mesti pro sains agar persyaratan bisa terlaksana," tegas putra kelahiran Kecamatan Kuripan ini.

Berita Terkait:

Tenda Pasar Ramadan Roboh Diterjang Angin, Video Sikap Pejabat Batola Tuai Polemik

DPRD Batola Minta Evaluasi dan Penguatan Kuliner Ramadan Baiman

Keputusan berbasis sains bukan sekadar soal cuaca, melainkan menyangkut tata kelola kebijakan publik yang rasional dan akuntabel.

Langkah pertama yang ditekankan adalah meminta kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terkait kondisi cuaca dan potensi risiko.

"Hasil kajian BNPB dan BMKG dapat mengarahkan kepada langkah kedua untuk dilanjutkan di lokasi yang sama atau perlu penyesuaian," jelas Nasrullah.

Nasrullah juga mengingatkan bahwa pembiaran tanpa evaluasi ilmiah, justru dapat memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat.

Berita Terkait:

Kuliner Ramadan Baiman di Jembatan Barito: Pusat Ekonomi Baru atau Zero Sum Game?

Sudah Dikunjungi Warga, Taman Jembatan Barito Ternyata Belum Resmi Dibuka

“Ini bukan anti-sains. Justru dalam kajian antropologi, kemunculan perspektif mitologi, dinamisme, animisme, hingga hal-hal supranatural adalah fenomena sosial yang bisa terjadi ketika sesuatu tak dijelaskan secara rasional,” tukas Nasrullah.

Sebelumnya salah seorang warga yang biasa berjualan di sekitar Taman Jembatan Barito, Nanang, menyayangkan penebangan banyak pohon ukuran besar di sekitar lokasi.

Adapun penebangan pohon dilakukan atas persetujuan Pemkab Batola dengan tujuan memperluas areal, seiring persiapan puncak Hari Jadi ke-66 yang semula direncanakan berlangsung di Taman Jembatan Barito. 

"Tanpa perlindungan pepohonan, angin langsung menghantam barisan tenda. Terlebih lokasi juga berdekatan dengan sungai," beber Nanang.