Analisis Sentimen Barito Putera Jelang Championship, Sejumlah Suporter Masih Trauma
Menjelang kickoff Pegadaian Championship musim 2025/2026, sentimen terhadap kemampuan pemain dan manajemen Barito Putera menunjukkan tren yang kompleks dan menarik.
KABARKALSEL.COM, BANJARMASIN - Menjelang kickoff Pegadaian Championship musim 2025/2026, sentimen terhadap kemampuan pemain dan manajemen Barito Putera menunjukkan tren yang kompleks dan menarik.
Barito Putera tidak lagi berkompetisi di Liga 1 atau sekarang bernama BRI Super League, setelah terdegradasi di akhir musim 2024/2025.
Namun demikian, Laskar Antasari tidak berlama-lama meratapi kegagalan. Persiapan pun dilakukan untuk mengarungi Pegadaian Championship atau nama baru dari Liga 2.
Respons tersebut memunculkan berbagai sentimen dari suporter. Menggunakan komentar di media sosial Barito Putera sebagai sumber data, hasil analisis berbasis leksikon menunjukkan cukup banyak sentimen positif dibanding negatif.
Sentimen positif itu disebabkan langkah-langkah yang diambil manajemen, seperti pergantian pelatih, perekrutan pemain, dan peningkatan fasilitas.
Kepercayaan terhadap komitmen CEO Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman, juga menjadi salah satu faktor penentu dalam sentimen positif. Suporter melihat Hasnuryadi sebagai sosok yang peduli dan bertanggung jawab.
Juga ditemukan sentimen netral. Hal ini menunjukkan keberadaan kelompok yang masih menunggu bukti nyata dari segala janji perubahan.
Sementara sentimen negatif disebabkan keraguan dan kekecewaan mendalam dari sebagian suporter. Mereka menuntut bukti nyata di lapangan, bukan hanya pernyataan. Pengalaman buruk musim lalu membuat suporter skeptis.
Beberapa komentar suporter juga mempertanyakan kualitas pemain baru, terutama pemain asing. Terdapat kekhawatiran bahwa masalah yang sama akan terulang.
Ketidakpuasan terhadap transparansi keuangan dan pengambilan keputusan oleh manajemen, juga berkontribusi kepada sentimen negatif.
Menyikapi fenomena tersebut, manajemen disarankan lebih transparan dalam pengambilan keputusan. Komunikasi yang terbuka dan jujur dengan suporter berarti penting untuk membangun kepercayaan.
Tidak kalah penting dalam membangun kepercayaan adalah memperhatikan masukan dan membangun dialog yang konstruktif dengan suporter.
Kemudian perekrutan pemain harus lebih selektif dan berfokus kepada kualitas, bukan hanya popularitas. Evaluasi kinerja pemain secara berkala juga diperlukan.
Adapun terkait keberlangsungan klub, Barito Putera juga disarankan membuat program pengembangan pemain muda yang lebih terstruktur.