Antisipasi Dampak Karhutla, Kalsel Pasang Status Siaga Darurat

Mengantisipasi dampak buruk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kalimantan Selatan memasang status siaga darurat.

Aug 4, 2025 - 18:20
Aug 5, 2025 - 01:47
Antisipasi Dampak Karhutla, Kalsel Pasang Status Siaga Darurat
Gubernur Kalimantan Selatan, H Muhidin, memimpin rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana karhutla, Senin (04/08/2025). Foto: MC Banjarbaru

KABARKALSEL.COM, BANJARMASIN - Mengantisipasi dampak buruk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kalimantan Selatan telah menetapkan status siaga darurat.

Penetapan diputuskan dalam rapat koordinasi kesiapsiagaan bencana yang langsung dipimpin Gubernur H Muhidin di Gedung Idham Chalid, Senin (04/08/2025).

Juga berhadir Kapolda Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan bersama Forkopimda Kalsel, sejumlah kepala daerah dan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), SKPD Lingkup Pemprov Kalsel dan instansi vertikal terkait,

“Diputuskan dalam rapat koordinasi bahwa Kalsel menetapkan status siaga darurat karhutla. Penyebabnya sudah dua kabupaten/kota  (Banjarbaru dan Hulu Sungai Selatan) yang menetapkan status siaga darurat," papar Muhidin.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan BPBD Kalsel sejak 1 Januari hingga 3 Agustus 2025, total lahan terdampak karhutla mencapai 155,36 hektare di seluruh kabupaten/kota dari 73 kejadian. Sedangkan hotspot yang ditemukan mencapai 1.922 titik. 

Selanjutnya diinstruksikan kepada seluruh kepala daerah di Kalsel, agar menganggarkan peralatan pemadam kebakaran untuk setiap desa.

“Dari laporan yang disampaikan oleh seluruh kepala daerah, semua daerah harus menyiapkan peralatan pemadam kebakaran dengan sistem satu desa satu alat pemadam," beber Muhidin. 

"Kami berharap dalam tahun anggaran 2026, semua pemerintah daerah dapat menganggarkan untuk seluruh desa di daerah masing-masing,” imbuhnya.

Lantas sebagai langkah pencegahan, dilarang membuka lahan dengan cara membakar. Kemudian seluruh pihak diminta melakukan upaya pencegahan karhutla.

Sementara Rosyanto menegaskan bahwa Polda Kalsel sudah melakukan beberapa langkah penting untuk mengantisipasi karhutla.

“Selain melakukan beberapa kali rapat koordinasi bersama TNI dan BPBD, kami telah mengeluarkan maklumat terkait karhutla," jelas Rosyanto.
 
"Salah satunya adalah larangan melakukan pembakaran hutan dan lahan. Apabila masih terjadi, maka akan dijatuhkan sanksi pidana kepada pelaku,” tegasnya.

Kesepakatan lain dalam rapar koordinasti adalah aktivasi pos komando penanganan karhutla dan rencana kontingensi menjadi rencana operasi. 

Kemudian menggelar apel siaga karhutla yang direncanakan dilakukan, Kamis (07/08/2025), serta rencana pembasahan/perendaman ring 1 di Landasan Ulin untuk melindungi Bandara Syamsudin Noor dari dampak karhutla.

Adapun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini puncak kemarau di Kalsel yang diprakirakan terjadi Agustus hingga Oktober 2025.

“Peringatan ditujukan kepada Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, Banjarbaru, dan Banjarmasin,” papar Klaus Johannes Apoh Damanik, Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel.

Wilayah yang mengalami puncak musim kemarau mulai Agustus, adalah Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Banjarbaru, Banjarmasin, Barito Kuala, serta sebagian besar di Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru bagian darat.

Kemudian mulai September 2025, puncak kemarau terjadi di Kotabaru, Pulau Sebuku bagian Pulau Laut. Selanjutnya puncak kemarau di Kotabaru bagian Pulau Laut, Tanah Bumbu bagian selatan, Tanah Laut bagian timur, dan Kotabaru bagian timur di darat dimulai Oktober 2025.

Sementara curah hujan di Kalsel hingga akhir Juli sudah mengalami penurunan dengan kategori menengah. Bahkan di Kalsel bagian barat sudah mengalami kemarau lebih awal.

BMKG juga telah mendeteksi empat titik di Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan tidak terjadi hujan selama 21 hingga 30 hari berturut-turut. 

"Kemudian beberapa wilayah lain berturut-turut selama 6 hingga 10 hari dan 11 hingga 20 hari tidak lagi turun hujan," tutup Klaus Johannes.