DIR Jelapat Direhabilitasi, Wacana Wisata Petik Nanas di Mekarsari Batola Kembali Mencuat
Seiring rehabilitasi Daerah Irigasi Rawa (DIR) Jelapat, wacana pembuatan destinasi wisata petik nanas dan susur sungai kembali diapungkan di Kecamatan Mekarsari, Barito Kuala (Batola).
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Seiring rehabilitasi Daerah Irigasi Rawa (DIR) Jelapat, wacana pembuatan destinasi wisata petik nanas dan susur sungai kembali diapungkan di Kecamatan Mekarsari, Barito Kuala (Batola).
Rehabilitasi dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III melalui SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Kalimantan III Kalimantan Selatan.
DIR Jelapat yang memiliki luas total 3.000 hektare merupakan salah satu dari 13 DIR kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui BWS Kalimantan III.
Sepenuhnya menggunakan APBN, proyek rehabilitasi tersebut menjadi angin segar untuk masyarakat di Kecamatan Tamban dan Mekarsari, khususnya petani padi maupun hortikultura di Desa Jelapat II.
"Kami mengapresiasi pengerukan saluran primer dan sekunder yang dilakukan BWS Kalimantan III. Kami berharap sungai lebih bersih dan lancar mengalir ke Sungai Barito," papar petani nanas di Jelapat II, Armain, Selasa (23/09/2025).
"Lebih jauh lagi, hasil pertanian dan kebun berpotensi meningkat. Sebelumnya lahan pertanian sering terendam, termasuk kebun nanas," sambungnya.
Selain menormalisasi irigasi, tanggul yang dibentuk dari tanah hasil kerukan membuka lebar-lebar potensi lain berupa wisata petik nanas dan susur sungai.
"Kami sudah mengajukan proposal kepada Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Batola untuk meminta bantuan bibit nanas. Kami berencana menanami tanggul dengan nanas sebagai cikal bakal wisata petik nanas," ungkap Armain.
Mekarsari sendiri terkenal dengan Festival Nanas yang digelar setiap tahun sejak 2016. Ribuan biji nanas disusun menjadi berbagai bentuk, lalu dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar maupun pengunjung.
"Kami mendukung sepenuhnya keinginan kelompok petani di Desa Jelapat II untuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat wisata petik nanas dan susur sungai sebagai destinasi wisata baru di Batola," sahut Agus Supriyadi, Camat Mekarsari.
"Kami juga mendorong agar para petani nanas mendapat pelatihan dan bantuan promosi, baik dari Pemkab Batola maupun Pemprov Kalimantan Selatan. Tentunya upaya ini akan mendatangkan manfaat ekonomi untuk masyarakat sekitar, sekaligus peningkatan pendapatan daerah," sambungnya.
Melalui analisis usaha tani per hektare lahan, petani nanas memperoleh keuntungan sebesar Rp89.645.000. Penyebabnya biaya produksi per hektare dengan 15.000 rumpun nanas sebesar Rp68.555.000.
Nanas Tamban (ananas comosus) yang dikembangkan di Mekarsari, juga memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya dapat tumbuh di lahan pasang surut tipe A. Maksudnya lahan terluapi air sungai, ketika terjadi pasang besar dan pasang kecil air laut.
Kemudian cita rasa nanas Tamban yang berada di atas rata-rata. Mulai dari berasa manis segar dengan kandungan gula 11,7 hingga 13,4 brix.
Kemudian memiliki kandungan vitamin C sebesar 27 hingga 28 miligram per 100 gram, serta mengandung air 85 hingga 86,4 persen dan aroma buah harum.
Ditilik lebih jauh, ide wisata petik nanas dan susur sungai di Mekarsasi sebenarnya sudah dicanangkan Pemkab Batola sejak 2020. Namun akibat pandemi Covid-19, rencana ini belum terealisasi sampai sekarang.
Wacana tersebut cukup beralasan, mengingat Mekarsari merupakan wilayah yang paling banyak mengembangkan nanas di antara kecamatan-kecamatan lain di Batola.
Pembudidayaan nanas tersebar di 9 desa, dan dikelola oleh 35 kelompok tani yang masing-masing menggarap lahan seluas sekitar 1 hektare. Di antara 9 desa, Jelapat II terbilang cukup sukses.
Tidak hanya dikonsumsi langsung, petani setempat juga berkreasi dengan bahan olahan serba nanas seperti sirup, dodol, selai, jelly dan minuman sari nanas.
Namun selain banjir, petani nanas di Mekarsari masih terkendala infrastruktur jalan yang menyulitkan pemasaran. Akibatnya petani lebih banyak terhubung dengan tengkulak dibanding menjual sendiri hasil panen.
Kemudian untuk memperluas area tanam, petani setempat tak didukung peralatan mekanis seperti excavator untuk mengolah lahan. Padahal dibutuhkan bedengan sebagai media tanam nanas.
Setidaknya harus dibuat bedengan setinggi lebih dari 1 meter yang berguna menghindari nanas dari genangan air, terutama setiap musim hujan.