Di Balik Kemeriahan Panggung Hari Jadi Batola, Seniman Lokal Menyimpan Kecewa
Di antara hiruk-pikuk puncak peringatan Hari Jadi ke-66 Barito Kuala (Batola), Minggu (04/01/2026), ternyata terselip sedikit kekecewaan.
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Di antara hiruk-pikuk puncak peringatan Hari Jadi ke-66 Barito Kuala (Batola), Minggu (04/01/2026), ternyata terselip sedikit kekecewaan.
Mengusung tema 'Merangkul Semua Membangun Batola', puncak peringatan dihadiri sejumlah pejabat daerah, termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, serta Bupati H Bahrul Ilmi dan Wakil Bupati Herman Susilo sebagai tuan rumah.
Juga ditampilkan ragam kesenian seperti kirab irama oleh Marching Band Diva Swara Dharma, aksi bela diri tradisional kuntau dari Gerakan Peduli dan Berantas Kemiskinan (Geppak), serta madihin yang dibawakan trio Gazali Rumi, Rizki Fadillah dan Alba Goestiya (Madihin Papikat).
Tidak ketinggalan tarian yang masing-masing ditampilkan Sanggar Permata Ije Jela (SPIJ) dan Sanggar Idaman. SPIJ menampilan Mahelat Lebo, sedangkan Idaman mempertunjukkan Kami Masyarakat Batola.
Memang semuanya tampak baik-baik saja. Namun akan muncul pertanyaan besar, ketika melihat latar belakang penampil. Sebut saja Diva Swara Dharma yang notabene berasal dari Banjarbaru.
Padahal Batola memiliki Drum Band Generasi Muda Selidah Marabahan (GMSM) yang kerap tampil di berbagai event besar, termasuk sejumlah kompetisi. Ironisnya dalam struktur organisasi, pelindung GMSM adalah Bupati, Dandim 1005 dan Kapolres Batola.
Oleh karena tidak tampil di rumah sendiri, GMSM pun sempat diisukan bubar oleh komunitas drum band yang lain. Penyebabnya lebih dulu tersiar kabar bahwa event organizer Hari Jadi Batola memilih menampilkan Diva Swara Dharma.
"Makanya kami bingung. Rasanya tidak mungkin pemerintahan sekarang tidak mengetahui eksistensi GMSM. Terlebih sebelumnya kami tampil mengisi upacara kenaikan dan penurunan bendera 17 Agustus 2025," ungkap Erik Sandi, Ketua Umum GMSM.
"Tentunya kami merasa terpukul. Kami sebagai tuan rumah, tetapi orang lain yang diminta tampil di momen hari jadi. Padahal dari segi penampilan, kami bisa bersaing dengan mereka (Diva Swara Dharma) dan pernah saling berkompetisi," tegasnya.
Namun demikian, kejadian tersebut tak lantas menyurutkan semangat GMSM. Mereka menegaskan akan terus berlatih seperti biasa, sembari menunggu momentum memperlihatkan performa terbaik.
"Selain tetap latihan rutin, mungkin kami harus jemput bola dan memperkenalkan diri lebih luas lagi. Mudahan dalam MTQN Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan 2026 mendatang, kami diberikan kesempatan," beber Erik.
Tidak hanya drum band, penampilan Sanggar Idaman yang berasal dari Banjarbaru pun memantik sorotan. Faktanya selain SPIJ, Batola juga memiliki Sanggar Seni Sinar Pusaka.
Didirikan mendiang H Pa Rudi, Sinar Pusaka sudah eksis selama 28 tahun atau lebih tua dibanding SPIJ. Pun mereka pula yang mentransformasikan ritual pengobatan badewa menjadi pertunjukan seni tari.
Diketahui sejak akhir 2025, badewa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari Kalsel bersama pembuatan tajau, manopeng banyiur, pembuatan tanggui, tari babangsai dan bakanjar, parang bungkul, kain sarigading, pais sagu, massukiri, kintung, dan baahuy.
Sinar Pusaka yang berada di Jalan Arya Bujangga, Kelurahan Berangas Timur, Kecamatan Alalak, juga melestarikan seni japin, kuda gepang, tari topeng, wayang kulit dan musik panting kepada ratusan siswa dari tingkat TK hingga SMA.
"Sejujurnya kami sudah terbiasa (diacuhkan), karena sejak awal kurang didukung dan jarang diminta tampil. Kalau tidak salah, kami terakhir mengisi acara Hari Jadi Batola ke-47 atau 19 tahun yang lalu," beber Rusmini Zaidan, Ketua Sanggar Seni Sinar Pusaka yang juga salah seorang putri H Pa Rudi.
"Mungkin karena didirikan mandiri, makanya kami terbiasa diacuhkan. Faktanya dengan didukung atau diacuhkan, kami tetap hidup. Lagipula tidak mungkin memaksa orang lain atau pemerintah untuk menghargai kami," tukasnya.
Padahal kalau seandainya diminta tampil, Sinar Pusaka menegaskan kesiapan, terutama di momen seperti Hari Jadi Batola sebagai bentuk sumbangsih kepada daerah sendiri.
"Seandainya dilibatkan dalam tari massal sekalipun, kami juga bersedia. Terlebih seniman juga membutuhkan wadah untuk tampil, terutama anak-anak yang memiliki kemauan melestarikan seni dan budaya," tegas Rusmini.
"Seyogyanya kalau Hari Jadi Batola, penampil dalam sesi kesenian adalah seniman Batola juga. Kalau Hari Jadi Banjarbaru, berarti seniman dari Banjarbaru yang tampil," cecarnya.
Terlepas dari kekecewaan, Rusmini menegaskan tetap mengemban amanah orang tua untuk menggawangi Sinar Pusaka, sekaligus melestarikan seni budaya daerah.
"Kami terakhir diminta menurunkan 50 penari anak-anak dalam Temu Karya Taman Budaya Nasional XXIV/2025 di Banjarmasin. Makanya sekalipun sudah lama tidak mengisi Hari Jadi Batola, kami bersyukur masih memiliki wadah dan dihargai di tempat lain," tutup Rusmini.