Kickoff Program REDD+, Dishut Kalsel Tanami Lahan Tidur di Banjarbaru

Pemprov Kalimantan Selatan memulai proses penanaman pohon melalui pendanaan Results Based Payment (RBP) Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) Green Climate Fun (GCF) Output 2.

Dec 4, 2025 - 17:22
Dec 10, 2025 - 21:24
Kickoff Program REDD+, Dishut Kalsel Tanami Lahan Tidur di Banjarbaru
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, mengawali penanaman pohon melalui pendanaan RBP REDD+ GCF Output 2. Foto: MC Kalsel

KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Pemprov Kalimantan Selatan memulai proses penanaman pohon melalui pendanaan Results Based Payment (RBP) Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) Green Climate Fun (GCF) Output 2.

Dana dari lembaga internasional tersebut diberikan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) atas kinerja Kalsel menurunkan emisi dalam periode 2014 hingga 2016. 

Adapun kegiatan yang dibiayai RBP REDD+ GCF Output 2 meliputi rehabilitasi hutan dan lahan, pengamanan hutan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta bantuan sarana produktif perhutanan sosial dan Program Kampung Iklim (Proklim).

“Untuk rehabilitasi hutan dan lahan, dilaksanakan di Areal Penggunaan Lain (APL) sesuai kewenangan Dinas Kehutanan," papar Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, Kamis (04/12/2025).

"Di antaranya lahan Pemprov Kalsel di Banjarbaru dan tanah milik masyarakat di Banjar, Kotabaru, Balangan dan Hulu Sungai Utara,” tambahnya. 

Penentuan lokasi untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di lahan Pemprov Kalsel maupun lokasi Kelompok Tani Hutan (KTH), diawali kegiatan prakondisi berupa ground check terkait penutupan lahan dan kondisi eksisting lapangan

Adapun di lokasi tanah pemerintah seluas 300 hektare, penutupan lahan berupa tanaman karet yang tidak produktif dan semak belukar.

Sedangkan di lokasi RHL seluas 100 hektare, dilakukan pembersihan lahan seluas 47,40 hektare dulu untuk ditanami Multi Purpose Trees Species (MPTS) seperti buah mangga, manggis, alpukat, matoa, cempedak, nangka dan kuini.

“Sementara sisa lahan seluas 52,60 hektare, dibersihkan dengan strip jalur tanpa melakukan penebangan pohon. Lahan ini akan ditanami eucalyptus dan ulin,” jelas Fathimatuzzahra.

“Setelah ditanamo tanaman kehutanan dan MPTS yang sesuai, lahan tersebut akan menjadi lebih produktif, memberikan manfaat ekonomi dan manfaat ekologi dalam jangka panjang,” tutupnya.