Median Jalan Trans Kalimantan di Handil Bakti: Solusi Ketertiban atau Sumber Keluhan Warga?

Meski belum rampung, pemasangan median atau pembatas jalan di Jalan Trans Kalimantan, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Barito Kuala (Batola), memicu beragam reaksi warga di media sosial.

Nov 17, 2025 - 23:51
Nov 18, 2025 - 02:53
Median Jalan Trans Kalimantan di Handil Bakti: Solusi Ketertiban atau Sumber Keluhan Warga?
Salah satu putar balik di Jalan Trans Kalimantan yang telah dipasangi media jalan oleh Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) selaku pengelola jalan nasional. Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Meski belum rampung, pemasangan median atau pembatas jalan di Jalan Trans Kalimantan, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Barito Kuala (Batola), memicu beragam reaksi warga di media sosial.

Keluhan paling dominan adalah posisi putar balik yang dinilai terlalu jauh dari kompleks-kompleks perumahan padat seperti Semangat Dalam, Teratai Putih, Keruing Indah dan Dalam Sakti.

Akibatnya pengguna jalan harus menempuh jarak lebih panjang, hingga waktu tempuh meningkat terutama selama jam sibuk. Dikhawatirkan banyak yang akhirnya memilih melawan arus, karena menghindari mutar jauh.

Beberapa warga merasakan jalan justru semakin macet, terutama ketika arus kendaraan ramai dari arah Banjarmasin. Jalan yang sebelumnya sudah sempit (kipit), terasa makin sesak setelah ditambah pembatas.

Beberapa warga berpendapat daripada membangun median panjang, lebih baik memperbanyak penerangan jalan karena kondisi Jalan Trans Kalimantan di Handil Bakti masih gelap.

Warga lain juga mengusulkan agar pihak terkait agar fokus saja kepada pelebaran atau perbaikan titik-titik yang sering menjadi bottleneck.

Terlepas dari kontra, juga tidak sedikit masyarakat yang menilai penempatan media jalan membawa banyak manfaat dari sisi keselamatan dan ketertiban lalu lintas. 

Mereka menegaskan pembatas jalan dapat menghindari pengendara membelok mendadak yang sering membuat pengendara lain kaget. 

Juga mencegah kendaraan kecil menyeberang sembarangan, sehingga membuat arus lalu lintas lebih terarah. Sementara kendaraan besar seperti truk, tetap berada di jalur dan tidak berpindah seenaknya.

Di sisi lain, pemasangan median dianggap sebagai wujud modernisasi tata kota. Terlebih Jalan Trans Kalimantan di Handil Bakti berbatasan langsung dengan Banjarmasin, tepatnya Jalan Brigjen H Hasan Basri di Kecamatan Banjarmasin Utara.

Masyarakat yang mendukung juga meyakini semua hanya soal kebiasaan dan penyesuaian. Kalau sudah terbiasa, putar balik tidak akan terasa jauh lagi. 

Salah satu unggahan warga di media sosial yang mempertanyakan jumlah putar balik, setelah Jalan Trans Kalimantan di Kelurahan Handil Bakti dipasangi media jalan. Foto: Facebook

Pun waktu yang hilang hanya beberapa menit, dianggap masih wajar demi keamanan. Terlebih tidak sedikit warga Alalak yang pernah berdomisili maupun sedang bekerja di Banjarmasin, sehingga sudah merasakan jauh atau dekat putar balik.

Diketahui hanya disediakan empat putar balik di ruas jalan nasional tersebut, khususnya dari depan Jembatan Terminal Handil Bakti hingga Simpang Serapat atau sejauh sekitar 4,39 kilometer.

"Terkait penempatan putar balik sepenuhnya kewenangan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) dan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Selatan," papar Kepala Dinas Perhubungan Batola H Jaya Hidayatullah, melalui Kabid Perhubungan Darat Dewy Aryanti, Senin (17/11/2025).

"Sebelumnya mereka telah melaksanakan kajian teknis berdasarkan aturan besar dan panjang jalan. Juga telah melaksanakan uji Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR)," imbuhnya. 

LHR sendiri merupakan penghitungan volume rata-rata jumlah kendaraan yang melewati suatu titik di jalan raya dalam satu hari.

Adapun jarak antara satu putar balik dengan putar balik yang lain pun ikut diperhitungkan agar tidak terjadi tumpukan kendaraan, mengingat banyak kompleks perumahan di Handil Bakti.

"Memang jarak antar putar balik berbeda. Terutama di bagian jalan yang banyak jalan keluar masuk perumahan, jarak antar putar balik lebih panjang," jelas Dewy.

"Kalau dilihat Handil Bakti sama saja seperti di Kayu Tangi (Jalan Brigjen H Hasan Basri). Mungkin masyarakat belum terbiasa, karena sebelumnya langsung menyeberang atau memutar saja," sambungnya.

Sebenarnya tidak cuma masyarakat yang menyuarakan agar putar balik diperbanyak. Pengelola gudang perlengkapan rumah tangga di Handil Bakti juga sempat menanyakan hal serupa.
 
"Mereka juga sempat mempertanyakan perihal jalur putar balik, karena sewaktu-waktu keluar masuk tronton dari gudang. Namun karena pihak terkait berbicara faktor keselamatan secara menyeluruh, diputuskan hanya disediakan empat putar balik," tukas Dewy.

"Selanjutnya karena sudah dipasangi median, jalan tersebut menjadi jalur bebas hambatan sehingga tidak akan lagi tersedia space parkir yang memakan bahu jalan," tutupnya.