Pemuda Batola dan Irama Sarunai yang Hampir Hilang

DI tengah derasnya arus modernisasi dan budaya populer, warisan lokal kerap tergeser dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu hal yang mulai kehilangan tempatnya adalah adat bakuntau, seni bela diri tradisional Banjar yang secara historis selalu diiringi oleh bunyi khas alat musik sarunai.

Oct 29, 2025 - 22:33
Dec 6, 2025 - 22:45
Pemuda Batola dan Irama Sarunai yang Hampir Hilang
Dikenal sebagai alat musik tiup, sarunai dimainkan saat pementasan seni bela diri silat yang dikenal sebagai bakuntau. Foto: Aural Archipelago

DI tengah derasnya arus modernisasi dan budaya populer, warisan lokal kerap tergeser dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu hal yang mulai kehilangan tempatnya adalah adat bakuntau, seni bela diri tradisional Banjar yang secara historis selalu diiringi oleh bunyi khas alat musik sarunai. 

Di Barito Kuala, gerak Bakuntau masih ditampilkan dalam berbagai upacara dan perayaan, tetapi pemuda yang mampu memainkan sarunai untuk menghidupkan ritme dan nuansa pertunjukan semakin jarang terdengar. 

Kehadiran gerak tanpa musik membuat pertunjukan kehilangan keseimbangan, tubuh menari namun napas budaya terasa pudar. 

Oleh karena itu, fokus pelestarian tidak cukup hanya pada bentuk gerak, melainkan juga pada regenerasi pemain sarunai yang kini hampir punah di kalangan pemuda.

Penurunan jumlah pemain sarunai terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Pertama, dominasi musik modern dan kemudahan akses hiburan digital membuat pemuda lebih memilih instrumen populer dan hiburan cepat saji di media sosial ketimbang mempelajari alat tradisional yang memerlukan latihan panjang. 

Kedua, pola pewarisan keterampilan yang selama ini belajar langsung kepada pemain senior terganggu karena jumlah pemain tua yang menguasai teknik asli semakin sedikit dan mereka sering tidak memiliki waktu atau sarana untuk mengajar secara intensif. 

Ketiga, ketersediaan pembuat alat dan bahan baku juga semakin menipis sehingga pembuatan sarunai menjadi lebih mahal dan sulit diakses. 

Keempat, ada persepsi bahwa memainkan alat tradisi kurang bergengsi dan kurang menjanjikan prospek ekonomi, sehingga minat generasi muda mengendur.

Padahal sarunai memiliki peran penting dan makna simbolik yang mendalam dalam budaya Banjar. Alunan nadanya tidak sekadar mengiringi, tetapi mengatur tempo pementasan bakuntau, menandai setiap transisi, serta menghadirkan nuansa emosional yang menyatukan penonton dan pelaku. 

Lebih dari sekadar seni bunyi, belajar memainkan sarunai menanamkan nilai kesabaran, ketekunan, keharmonisan, dan penghargaan terhadap warisan leluhur yang selama ini menjadi dasar etika masyarakat Banjar. 

Dalam kerangka visi Batola Sejahtera, Agamis, Terpadu, dan Unggul (SATU), melestarikan sarunai berarti menjaga modal budaya yang memperkuat identitas daerah sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 

Kehilangan generasi yang mampu memainkan sarunai bukan hanya berarti hilangnya sebuah bunyi, tetapi juga pudarnya nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri masyarakat. Untuk itu dibutuhkan strategi terukur yang menempatkan pemuda sebagai aktor utama regenerasi. 

Langkah awal adalah melakukan pemetaan dan dokumentasi terhadap pemain, pengrajin alat, repertoar, dan teknik bermain sarunai di tingkat desa dan kecamatan sehingga pengetahuan yang tersisa dapat diselamatkan. 

Selanjutnya mengembangkan program apprenticeship formal seperti 'Sahabat Sarunai' yang menghubungkan pemuda dengan pemain senior melalui jadwal latihan terstruktur, insentif berupa uang saku atau kredit akademik, serta sertifikasi keterampilan yang diakui oleh sekolah dan lembaga kebudayaan. 

Penting pula mengintegrasikan pengenalan sarunai ke dalam ekstrakurikuler sekolah dan sanggar seni agar anak-anak memperoleh paparan awal dan latihan rutin. 

Di era digital, pemanfaatan teknologi menjadi kunci: produksi video tutorial, arsip audio berkualitas, kampanye media sosial, serta kolaborasi dengan musisi kontemporer untuk menciptakan aransemen hibrida akan meningkatkan daya tarik sarunai. 

Terakhir, dorong keberlanjutan melalui dukungan bagi pembuat alat tradisional dan pengembangan usaha mikro yang membuat pembuatan sarunai menjadi sumber penghidupan bagi pengrajin lokal.

Gerak bakuntau tanpa nada sarunai adalah kehilangan makna, karena keduanya saling melengkapi dan memberi pengalaman budaya yang utuh. 

Pemuda Barito Kuala tidak cukup hanya mahir menarikan gerakan, namun mereka juga harus diberi ruang, penghargaan, dan kesempatan untuk menguasai Sarunai agar dapat meneruskan tradisi dengan penuh tanggung jawab. 

Jika komunitas, sekolah, sanggar, organisasi pemuda, dan pemerintah daerah bekerja bersama baik untuk mendata, membina, menginovasi, dan memberi ruang apresiasi maka suara sarunai yang nyaris hilang dapat kembali mengisi lapangan adat, merajut hubungan antargenerasi, dan menjaga identitas Banjar tetap hidup. 

Mari pemuda Barito Kuala menjadi penjaga harmoni budaya yang bukan hanya berani bertarung di gelanggang, tetapi juga berani meniup sarunai dengan bangga.

Oleh: Abdul Hadi
(Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Matematika dan IPA. Kelahiran dan tinggal di Desa Jelapat Baru, Kecamatan Tamban, Barito Kuala)

Catatan Redaksi:
Artikel opini ini merupakan pandangan pribadi penulis. Redaksi memberikan ruang bagi pembaca untuk mengekspresikan gagasan dan pandangan sepanjang sesuai dengan kaidah jurnalistik dan etika publikasi.