Soal Konsumsi Ikan, Capaian Kalsel di Atas Rata-rata Nasional
Memiliki sumber daya perairan yang cukup luas, ternyata banyak mempengaruhi pola hidup masyarakat Kalimantan Selatan.
KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Memiliki sumber daya perairan yang cukup luas, ternyata banyak mempengaruhi pola hidup masyarakat Kalimantan Selatan.
Faktanya tingkat konsumsi ikan masyarakat di Kalsel mencapai 65,72 kilogram per kapita setiap tahun. Catatan ini di atas rata-rata nasional sebesar 58 kilogram.
"Meski lebih tinggi dari rata-rata nasional, kami tetap ingin mendorong agar masyarakat makin gemar makan ikan," ungkap Gubernur Kalsel melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) M Syarifuddin ketika membuka Lomba Masak Serba Ikan di Banjarbaru, Selasa (05/08/2025).
Peningkatan konsumsi ikan diyakini berperang penting dalam meningkatkan kecerdasan dan kesehatan tubuh, sekaligus menjadi bagian strategi Pemprov Kalsel untuk menurunkan angka stunting yang masih berada di atas 22 persen.
"Tentunya edukasi melalui kegiatan kuliner seperti Lomba Masak Serba Ikan menjadi strategi efektif untuk membentuk pola konsumsi sehat di masyarakat," beber Syarifuddin.
"Apalagi Ikan kaya protein dan omega-3 yang sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, serta pencegahan stunting," sambungnya.
Lomba Masak Serba Ikan sendiri digelar Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kalsel.
Diikuti perwakilan 13 kabupaten/kota, peserta menyajikan beragam menu olahan berbahan dasar ikan dalam kategori menu keluarga, menu balita, dan kudapan.
"Kami menetapkan ikan patin dan bandeng sebagai bahan utama, karena tingkat serapan yang tergolong rendah. Serapan patin hanya 24,18 persen, sedangkan bandeng 14,58 persen," jelas Rusdi Hartono, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel.
"Diharapkan Lomba Masak Serba Ikan memunculkan diversifikasi olahan yang bisa mendorong peningkatan konsumsi kedua jenis ikan tersebut," imbuhnya.
Didasari penilaian para juri, kategori menu keluarga dimenangi perwakilan Banjar. Kemudian Barito Kuala sebagai runner up, dan Tanah Bumbu di peringkat ketiga.
Sementara kategori menu balita, gelar juara diboyong duta Hulu Sungai Utara. Tapin di peringkat kedua, disusul Banjarmasin di urutan ketiga.
Sedangkan dalam kategori menu kudapan, perwakilan Hulu Sungai Tengah memborong juara dan runner up. Adapun Kotabaru menempati peringkat ketiga.
Selain berhak atas trofi, para pemenang lomba juga mendapatkan uang pembinaan senilai Rp3 juta untuk juara, runner up Rp2,5 juta dan Rp2 juta untuk peringkat ketiga.
"Setelah pelaksanaan lomba, kami akan melakukan pemantauan agar makanan yang diolah tidak berhenti sampai kompetisi saja. Kami berharap menu juara diterapkan secara nyata di kabupaten/kota hingga ke desa," tutup Rusdi.