Batola Coffee Grounds: Jejak Pemuda Merawat Lingkungan dari Secangkir Kopi

SETIAP cangkir kopi yang kita nikmati meninggalkan jejak kecil yang jarang disadari yaitu segenggam ampas kopi. Di balik aroma yang menenangkan dan suasana hangat coffee shop, tersimpan persoalan lingkungan yang terus tumbuh seiring dengan meningkatnya budaya “ngopi” di kalangan masyarakat dan anak muda.

Oct 30, 2025 - 18:04
Oct 30, 2025 - 18:04
Batola Coffee Grounds: Jejak Pemuda Merawat Lingkungan dari Secangkir Kopi
Ampas kopi masih dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang bernilai ekonomis. Foto: Antero Aceh

SETIAP cangkir kopi yang kita nikmati meninggalkan jejak kecil yang jarang disadari yaitu segenggam ampas kopi. Di balik aroma yang menenangkan dan suasana hangat coffee shop, tersimpan persoalan lingkungan yang terus tumbuh seiring dengan meningkatnya budaya “ngopi” di kalangan masyarakat dan anak muda. 

Di Kecamatan Marabahan sendiri terhitung ada sekitar 7 coffe shop yang aktif, meskipun tidak hanya menjual aneka kopi, tetapi kopi tetap menjadi daya tarik utama. Namun yang menjadi pertanyaan adalah ke mana perginya semua ampas kopi itu setelah gelas terakhir dikosongkan?

Berdasarkan obeservasi langsung ke beberapa coffee shop, menemukan fakta bahwa setiap harinya 1 coffe shop menghasilkan sekitar setengah hingga satu kilogram ampas kopi yang belum terkelola dan berakhir dan hanya di tempat sampah. 

Artinya, dalam sebulan kira-kira ada seratur kilogram limbah ampas kopi yang berakhir di tempat sampah. Sekilas terlihat sepele dan tidak menyadari hal tersebut, tetapi jika menumpuk tanpa pengelolaan yang terstruktur, ampas kopi dapat membusuk, mengeluarkan bau tidak sedap, bahkan melepaskan gas metana yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global. 

Ironisnya ampas kopi justru menyimpan potensi besar jika dimanfaatkan dengan tepat bahkan memberikan dampak untuk berbagai sektor.

Dari keresahan itulah muncul gagasan 'Batola Coffee Grounds'. Sebuah inisiatif sederhana yang berangkat dari keyakinan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari hal kecil di sekitar kita yaitu mengubah limbah ampas kopi tidak hanya menjadi produk bernilai jual, tetapi juga membentuk sebuah ekosistem. 

Inisiatif ini berupaya mengumpulkan ampas kopi dari coffee shop, lalu mengolahnya menjadi produk ramah lingkungan seperti briket, tatakan gelas, dan lilin aromaterapi, kemudian melakukan penjualan produk di coffee shop tersebut dengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. 

Selain memberi solusi terhadap persoalan limbah, kegiatan ini juga membuka ruang bagi pemuda untuk berkreasi dan berkolaborasi.

Kekuatan 'Batola Coffee Grounds' terletak pada semangat gotong royong dan kolaborasi nyata lintas sektor. Pemuda menjadi motor penggerak, sementara para pelaku usaha kopi menjadi mitra yang berperan penting dalam menyediakan bahan baku utama. 

Setiap coffee shop yang ikut berpartisipasi tidak hanya berkontribusi terhadap lingkungan, tetapi juga memperoleh nilai tambah melalui citra green branding. 

Produk hasil olahan bisa dijual kembali di kedai mereka sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi sirkular, sehingga ekosistem itu akan tumbuh dan terbentuk.

Inisiatif ini bukan sekadar proyek daur ulang, melainkan bagian dari gerakan sosial yang menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan muda. Generasi muda di Kabupaten Barito Kuala perlu melihat bahwa menjaga lingkungan bukan tugas segelintir orang, tetapi tanggung jawab bersama dan bisa dimulai dari sekitar.

Lebih dari sekadar manfaat lingkungan, 'Batola Coffee Grounds' turut menumbuhkan peluang ekonomi kreatif berbasis komunitas. Proses pembuatan briket, tatakan gelas, dan lilin aromaterapi sederhana dapat dilakukan secara mandiri dengan bahan dan alat yang mudah dijangkau. 

Kegiatan ini membuka lapangan kerja kecil bagi masyarakat dan pemuda, menumbuhkan semangat kewirausahaan sosial, dan menggerakkan roda ekonomi lokal tanpa harus meninggalkan nilai keberlanjutan.

Langkah kecil ini sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pada poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin 13 tentang aksi terhadap perubahan iklim. 

Artinya, pemuda di Kabupaten Barito Kuala dapat turut berperan dalam agenda global hanya dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka.

Saya percaya masa depan Barito Kuala yang Sejahtera, Agamis, Terpadu, dan Unggul (SATU) tidak hanya dibangun lewat infrastruktur megah, tetapi juga lewat inisiatif sederhana yang lahir dari kepedulian warganya. 

'Batola Coffee Grounds' menjadi bukti bahwa inovasi lingkungan bisa hadir dari tangan-tangan pemuda yang kreatif dan peduli. Dari ampas kopi yang dulunya dianggap sampah, kini lahir harapan baru bagi lingkungan, ekonomi, dan pemuda. 

Setiap tetes kopi yang kita nikmati hari ini semestinya mengingatkan kita bahwa bumi membutuhkan tindakan nyata, karena menjaga lingkungan tidak selalu harus dengan kampanye besar, kadang cukup dengan secangkir kopi, dan kemauan untuk tidak menyisakan ampasnya.

Oleh: Muhammad Hidayatullah
(Warga Barito Kuala tinggal di Kecamatan Marabahan)

Catatan Redaksi:
Artikel opini ini merupakan pandangan pribadi penulis. Redaksi memberikan ruang bagi pembaca untuk mengekspresikan gagasan dan pandangan sepanjang sesuai dengan kaidah jurnalistik dan etika publikasi.