Dampak Danum Bangai di Batola Semakin Parah, Puluhan Ribu Ton Ikan Nila Mati

Dampak danum bangai di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola) semakin parah. Hanya dalam lima hari terakhir, ribuan ton ikan nila dalam keramba apung mati.

Jan 26, 2026 - 16:15
Jan 26, 2026 - 23:03
Dampak Danum Bangai di Batola Semakin Parah, Puluhan Ribu Ton Ikan Nila Mati
Kepala DKPP Batola, Suwartono Susanto, meninjau keramba yang terdampak danum bangai di Kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpai, Senin (26/01/2026). Foto: Kabar Kalsel

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Dampak danum bangai di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola) semakin parah. Hanya dalam lima hari terakhir, ribuan ton ikan nila dalam keramba apung mati. 

Total 19 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) yang terdampak. Sebagian besar berada di Kecamatan Marabahan dan Bakumpai.

"Data sementara ikan nila yang mati berjumlah 77.240 ribu ton, belum termasuk bibit. Rata-rata ikan yang mati siap panen 2 sampai 3 ons per ekor," papar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola, Suwartono Susanto, Senin (26/01/2026).

"Adapun estimasi kerugian Rp2,7 miliar dihitung dari harga Rp35 per kilogram di tingkat petani," sambungnya.

Kejadian itu pun telak memukul para pembudidaya ikan. Terlebih ikan-ikan yang telah mati, sebenarnya dipersiapkan untuk kebutuhan sepanjang bulan puasa.

"Tentunya kematian massal ikan sangat memukul. Terlebih sejumlah pembudidaya ikan telah mengalami gagal panen padi," sahut Suryadi, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batola.

"Peristiwa serupa pernah terjadi di awal 2016 dan 2019. Jumlah kematian hampir sama, tetapi sekarang kematian ikan terbilang mendadak," imbuhnya.

Di sisi lain, ikan nila yang mati tidak merata. Meski mulai megap-megap, nila yang baru dilepas sekitar dua minggu lebih tahan perubahan air. Demikian pula ikan patin dan lele.

Untuk memperlambat kematian, DKPP Batola menganjurkan pemasangan aerator di setiap lubang keramba.

"Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Selatan dan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT), terkait kesulitan yang dihadapi pokdakan di Batola," tutup Suwartono.