Darurat Karhutla Sudah Berakhir, Dinsos Kalsel Tetap Bersiaga
Sekalipun status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah dicabut, Dinas Sosial (Dinsos) Kalimantan Selatan tetap bersiaga.
KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Sekalipun status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah dicabut, Dinas Sosial (Dinsos) Kalimantan Selatan tetap bersiaga.
Penerapan status siaga darurat karhutla yang berlaku sejak 4 Agustus 2025. Lantas seiring intensitas hujan yang mulai meningkat, status ini resmi 30 September 2025.
Namun demikian, Dinsos Kalsel memastikan bahwa kesiapsiagaan tetap dilakukan, kendati meski status darurat sudah dicabut.
“Potensi karhutla tidak bisa diabaikan, sehingga kami tetap siaga penuh,” tegas Kepala Dinsos Kalsel Muhammad Farhanie, melalui Kepala Bidang Penanganan Bencana Achmadi, Jumat (03/10/2025).
"Kami juga mengingatkan masyarakat agar waspada, karena sewaktu-waktu cuaca masih panas terik, meski sudah memasuki musim hujan," imbuhnya.
Sepanjang Agustus hingga awal September 2025, wilayah dengan kasus karhutla cukup tinggi meliputi Banjar, Barito Kuala, Tapin, Banjarbaru, dan Hulu Sungai Selatan.
“Alhamdulillah sekarang penanganan karhutla tidak separah tahun-tahun lalu. Beberapa lokasi yang sebelumnya kering, sekarang sudah berair sehingga memudahkan proses pemadaman,” beber Achmadi.
Dinsos Kalsel juga turun langsung ke sejumlah lokasi terdampak karhutla, khususnya Banjarbaru dan Banjar ang termasuk daerah rawan karhutla.
Dalam setiap kejadian, Dinsos Kalsel menurunkan Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pelopor Perdamaian, mobil tangki, hingga mobil rescue untuk percepatan penanganan di lapangan.
“Kami berusaha hadir secepat mungkin agar api tidak meluas, sesuai dengan jangkauan. Namun untuk titik yang sulit dijangkau, penanganan dilakukan dengan bantuan heli bombing dari BNPB," tambah Achmadi.
Faktor cuaca menjadi kunci penting dalam mengendalikan karhutla sepanjang 2025. Selama 10 hari operasi hujan buatan, ditambah hujan alami yang cukup sering turun, potensi kebakaran berkurang drastis.
“Memang karhutla tetap terjadi, tapi dengan intensitas dan dampak yang jauh lebih. Ini menjadi pelajaran penting bahwa dukungan cuaca dan koordinasi lintas sektor sangat menentukan,” tutup Achmadi.