'Panen Raya' Ikan di Sungai Barito Batola, Fenomena Alam atau Krisis Lingkungan?
Fenomena ikan mengapung dan mudah ditangkap di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola), memantik perhatian masyarakat. Namun di balik euforia, akademisi mengingatkan potensi masalah lingkungan dan kesehatan.
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Fenomena ikan mengapung dan mudah ditangkap di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola), memantik perhatian masyarakat. Namun di balik euforia, akademisi mengingatkan potensi masalah lingkungan dan kesehatan.
Setidaknya dalam tiga hari terakhir, berbagai jenis dan ukuran ikan sungai terlihat mengambang ke permukaan, terutama di kawasan perairan Kecamatan Marabahan dan Bakumpai. Pergerakan ikan pun tampak lemah dan tidak selincah biasanya.
Tak pelak banyak warga yang turun langsung ke sungai untuk menangkap ikan, baik menggunakan alat tangkap sederhana maupun dengan tangan kosong.
Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, menyebut fenomena itu dalam Bahasa Bakumpai dikenal sebagai danum bangai.
Peristiwa tersebut umumnya terjadi akibat peralihan kondisi air dari pasang menuju surut atau air rawa ke sungai. Biasanya terjadi setelah banjir di hulu yang memiliki banyak rawa atau dataran rendah.
Seiring perjalanan air rawa ke sungai, sejumlah gulma seperti enceng gondok, pampai dan rerumputan yang terbawa mengalami pembusukan.
"Pembusukan itu kemudian mencemari sungai, menurunkan kadar oksigen, sehingga ikan mengalami stres, kekurangan oksigen hingga bahkan mati,” ungkap Nasrullah, Minggu (26/01/2026).
Biasanya danum bangai terjadi lebih dahulu di Kecamatan Kuripan atau hulu sungai dan bukan sebaliknya. Fenomena ini juga berkaitan dengan dinamika alam Kecamatan Danau Panggang di Hulu Sungai Utara yang berbatasan langsung dengan Kuripan.
Berita Terkait: Ribuan Ikan Mati Massal di Marabahan Batola, Sungai Barito Diduga Tercemar dari Hulu
"Namun situasi yang terjadi sejak 22 Januari 2026 ini cenderung berlebihan. Peristiwa serupa memang pernah terjadi puluhan tahun silam, tetapi berskala lebih kecil dan tidak seaneh sekarang," tukas Nasrullah.
"Mengingat jumlah dan ukuran ikan yang mati, Pemkab Batola seharusnya jangan cuma menonton. Mereka harus memberikan penjelasan terhadap gejala alam yang mungkin menyimpan persoalan lingkungan dan kesehatan serius," imbuhnya.
Setidaknya terdapat tiga pertanyaan krusial yang perlu segera dijawab secara ilmiah oleh pemerintah daerah. Pertanyaan pertama adalah terkait penyebab utama danum bangai.
“Apakah murni disebabkan faktor alam, atau terdapat kemungkinan dipicu zat lain yang menyebabkan kematian ikan dalam skala besar?” tanya Nasrullah.
Kemudian pertanyaan kedua adalah soal keamanan konsumsi ikan. Perlu kejelasan tentang kelayakan konsumsi ikan-ikan yang mati atau tertangkap tersebut, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
"Adapun pertanyaan ketiga menyangkut populasi ikan di Sungai Barito. Faktanya banyak ikan yang mati atau tertangkap justru berukuran besar dan berpotensi sebagai indukan," tegas Nasrullah.
Adapun seluruh jawaban yang diberikan harus bersifat ilmiah, terukur, dan transparan agar masyarakat tidak berada dalam ketidakpastian.
“Pemkab Batola bisa bekerja sama dengan akademisi di bidang perikanan, biologi, kimia, dan disiplin ilmu lain untuk mengkaji danum bangai secara komprehensif,” pungkas Nasrullah.