Peran Pemuda Membangun Melalui Inovasi: Dari Potensi Lokal Menuju Prosperitas Daerah

KABUPATEN Barito Kuala (Batola) memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi wilayah mandiri secara ekonomi. Namun, potensi tanpa inovasi ibarat ladang subur yang tak digarap.

Oct 30, 2025 - 17:54
Oct 30, 2025 - 18:09
Peran Pemuda Membangun Melalui Inovasi: Dari Potensi Lokal Menuju Prosperitas Daerah
Barito Kuala memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi wilayah mandiri secara ekonomi. Namun potensi tanpa inovasi ibarat ladang subur yang tak digarap. Foto: BPJN Kalsel

KABUPATEN Barito Kuala (Batola) memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi wilayah mandiri secara ekonomi. Namun potensi tanpa inovasi ibarat ladang subur yang tak digarap. 

Dengan semangat Batola Satu, masyarakat khususnya para pemuda perlu menumbuhkan kepercayaan diri untuk berinovasi, mengolah potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan. 

Batola bukan sekadar daerah agraris. Ia adalah rumah bagi kekayaan alam dan budaya yang beragam. Dari sungai hingga rawa, dari perkebunan hingga perikanan, setiap jengkal tanahnya menyimpan peluang untuk tumbuh. 

Namun agar potensi itu membawa dampak yang signifikan, perlu ada sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, pemerintah dan pemuda sebagai motor penggerak untuk membangun
ekosistem ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Pemuda menjadi harapan sebagai motor penggerak inovasi dan kolaborasi. Pemuda adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki semangat kolaborasi yang tinggi. Dalam konteks berinovasi pemuda bukan sekedar penonton tetapi sebagai aktor utama dalam berinovasi. 

Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Barito Kuala (BPS, 2023), kelompok usia produktif 16-30 Tahun di Kabupaten Barito Kuala mencapai lebih dari 35 persen dari total populasi. 

Jumlah ini menunjukan bahwa pemuda berpotensi besar menjadi kekuatan dalam mendorong pembangunan khususnya pertumbuhan ekonomi daerah.

Kabupaten Barito Kuala memiliki beragam potensi yang menarik untuk dikembangkan. Di Kecamatan Anjir Muara, Kecamatan Anjir Pasar, hingga Kecamatan Jejangkit, bentangan sawah luas menjadi sumber penghasil beras yang terkenal kualitasnya. 

Namun hingga kini, beras tersebut masih dijual dalam bentuk curah tanpa merek yang kuat. Di sinilah peran pemuda hadir untuk memanfaatkan platform e-commerce dan media sosial untuk membangun branding 'Beras Anjir Premium' dengan kemasan modern, label mutu, serta sistem penjualan yang mudah diakses. 

Kolaborasi antara Pemuda, kelompok tani, koperasi, dan pemerintah daerah akan memperkuat rantai pasok sekaligus menjadikan Beras Anjir sebagai ikon ketahanan pangan Batola.

Sementara di Kecamatan Tabunganen, memiliki tambak produktif yang menghasilkan kepiting, udang, dan ikan air payau. Sayangnya, potensi besar ini belum optimal karena minim inovasi pascapanen. 

Pemuda bisa berperan sebagai penggerak teknologi olahan membentuk start-up kuliner dan mengembangkan inovasi produk berbahan dasar hasil panen. Dengan dukungan pelatihan produksi, pengemasan higienis yang juga menarik hingga proses pemasaran. 

Kerja sama dengan jaringan minimarket besar yang menyediakan etalase khusus 'Produk Unggulan Batola' akan memperluas jangkauan produk lokal.

Beranjak ke Kecamatan Belawang, tangan-tangan kreatif pengrajin purun tikus di Desa Parimata dan Bambangin menjadi contoh bahwa inovasi tak harus berangkat dari hal besar. Dari bahan sederhana seperti gulma rawa, lahirlah tas, tikar, hingga dompet bernilai tinggi. 

Pemuda di sini dapat berperan sebagai desainer muda dan digital marketer yang memperkenalkan anyaman purun sebagai produk eco fashion modern, sekaligus membuka akses ekspor melalui platform digital.

Di Kecamatan Mandastana, khususnya Desa Puntik Dalam atau Puntik Tengah, jeruk lokal unggulan menjadi identitas kebanggaan. Namun jeruk dari Puntik masih dijual dalam bentuk segar dengan nilai jual rendah saat panen raya. 

Pemuda kreatif bisa mengubah situasi ini dengan berinovasi membuat sirup alami, hingga produk olahan berbasis jeruk. Dengan dukungan digital marketing dan sertifikasi halal, 'Jeruk Puntik' dapat naik kelas menjadi oleh-oleh khas Batola yang berdaya saing.

Adapun di Kecamatan Bakumpai, Kecamatan Cerbon, Kecamatan Kuripan, dan Kecamatan Marabahan, memiliki potensi dalam perikanan air tawar lokal. 

Di tangan pemuda inovatif, potensi ini bisa dikembangkan menjadi produk olahan berbahan dasar ikan, adapun di daerah ini memiliki olahan ikan khas seperti haruan bakaluk yang juga perlu untuk diperkenalkan sebagai ikon warisan budaya kuliner.

Melalui Koperasi Pemuda Batola, mereka dapat mengelola produksi bersama, memperoleh akses permodalan, serta memperkuat branding 'Haruan Bekaluk Khas Batola' sebagai simbol kuliner daerah yang mengangkat nilai ekonomi sekaligus identitas budaya.

Kecamatan Tamban dan Mekarsari menonjol dengan Nanas Tamban yang manis dan segar. Pemuda bersama UMKM dapat menciptakan home industry olahan berbahan dasar nanas dengan ide pengemasan modern dengan branding Tamban Tropical Series.

Sementara di daerah sekitar Tamban yang juga penghasil kelapa, pemuda bisa berinovasi membuat produk turunan berbahan dasar kelapa.

Kecamatan Tabukan dan Kecamatan Rantau Badauh dikenal dengan hasil perkebunan musiman, terutama rambutan dan jeruk. Di wilayah ini, pemuda dapat mengembangkan wisata agro dan mengemas hasil panen sebagai fruit gift box lokal dengan sistem pre order digital, menciptakan peluang baru dari hasil bumi musiman.

Sedangkan di Wanaraya, hasil perkebunan karet dan sawit menjadi andalan. Namun karena selama ini dijual mentah, nilai tambahnya masih rendah. 

Pemuda bisa menjadi agen perubahan dengan menciptakan produk turunan sawit dan karet ramah lingkungan berlabel 'Produk Asli Wanaraya'. 

Produk-produk yang dibuat, bukan hanya membuka lapangan kerja baru, tetapi juga memperlihatkan kemampuan pemuda daerah dalam mengelola sumber daya lokal secara
berkelanjutan.

Menurut Kementerian Koperasi dan UKM (2023), lebih dari 60 persen UMKM di Indonesia tumbuh pesat setelah mendapat pelatihan dan akses digital. 

Dari data yang ada dapat menjadi dasar untuk mengupayakan pertumbuhan yang pesat melalui sistem yang dibuat sedemikian rupa, seperti membentuk tim pendampingan inovasi daerah yang melibatkan pemuda khususnya pemuda asli daerah, membuka ruang pelatihan, serta menyiapkan etalase khusus “Produk Unggulan Batola” di pusat perbelanjaan yang ada di daerah Batola. 

Dukungan tersebut menjadi jembatan bagi pemuda untuk mengembangkan ide, berjejaring, dan menjadikan inovasi sebagai budaya lokal.

Pemerintah, Koperasi dan UMKM menjadi penggerak perekonomian rakyat, sementara pemuda menjadi motor penggerak yang menghubungkan antara inovasi, potensi, tradisi dan teknologi. 

Kolaborasi ini akan menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang sehat dan mandiri dan akan membawa dampak yang besar untuk Kabupaten Barito Kuala.

Potensi tersebut menunjukkan bahwa Batola tidak kekurangan sumber daya, melainkan menunggu sentuhan inovasi dari generasi mudanya. 

Pemerintah daerah dapat mendukung gerakan ini dengan dukungan yang sistematis, ruang pelatihan kewirausahaan, inkubasi produk, hingga kerja sama dengan jaringan ritel besar untuk memasarkan hasil potensi yang dikelola pemuda Batola.

Membangun perekonomian memang bukan hal sederhana, namun setiap hal besar selalu dimulai dari langkah kecil. Di Batola, langkah itu bisa dimulai dari keberanian pemuda untuk berinovasi terhadap potensi-potensi kecil di sekitar mereka. 

Dari tangan pemuda, lahir semangat perubahan mengubah potensi menjadi prosperitas, dan menjadikan Batola Satu bukan hanya slogan, tapi semangat nyata menuju kesejahteraan bersama

Oleh: Lidia Agustina
(Warga Barito Kuala tinggal di Kecamatan Wanaraya)

Catatan Redaksi:
Artikel opini ini merupakan pandangan pribadi penulis. Redaksi memberikan ruang bagi pembaca untuk mengekspresikan gagasan dan pandangan sepanjang sesuai dengan kaidah jurnalistik dan etika publikasi.