Ribuan Ikan Mati Massal di Marabahan Batola, Sungai Barito Diduga Tercemar dari Hulu

Diduga akibat penurunan kualitas air Sungai Barito, ribuan ikan nila mati dalam keramba apung di Kecamatan Marabahan, Barito Kuala (Batola).

Jan 24, 2026 - 18:22
Jan 27, 2026 - 03:40
Ribuan Ikan Mati Massal di Marabahan Batola, Sungai Barito Diduga Tercemar dari Hulu
Seorang warga mengambil bangkai ikan nila yang sudah mati dalam keramba apung di Sungai Barito, Kecamatan Marabahan, Sabtu (24/01/2026). Foto: Kabar Kalsel

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Diduga akibat penurunan kualitas air Sungai Barito, ribuan ikan nila mati dalam keramba apung di Kecamatan Marabahan, Barito Kuala (Batola).

Kejadian luar biasa itu terdeteksi mulai terjadi, Sabtu (24/01/2026) pagi. Ikan tidak mendadak mati, melainkan lebih dulu mengapung selama beberapa jam seperti kekurangan oksigen.

Pun kematian massal tidak berlangsung serentak di satu tempat. Peristiwa ini pertama kali terjadi di keramba apung warga Jalan Panglima Wangkang di Kelurahan Marabahan Kota. Ini merupakan kawasan terdekat dengan muara Sungai Nagara.

Kemudian berangsur-angsur menjalar ke hilir menuju Desa Penghulu hingga Desa Bagus yang berada di dekat Jembatan Rumpiang.

Tidak hanya di keramba, ikan liar seperti patin dan tapah berbagai ukuran pun terlihat mengambang. Tak pelak warga beramai-ramai turun ke sungai untuk menangkap ikan yang masih bisa dimanfaatkan.

"Gejala kematian sudah tampak nyata sejak, Kamis (22/01/2026) pagi. Hampir semua ikan kehilangan nafsu makan," papar Supriyadi, petambak ikan di Kelurahan Marabahan Kota.

"Lantas berangsur-angsur ikan mulai mati, terutama yang sudah berusia 3 bulan. Kalau dihitung-hitung sejak pagi, ikan yang mati mendekati 1 ton," imbuhnya. 

Menyikapi situasi yang terjadi, para petambak pun bergegas menjual ikan. Kalau masih tersisa, tidak sedikit yang dibagikan kepada tetangga.

Adapun di Kelurahan Ulu Benteng, belum diperoleh laporan perihal kematian ikan. Pun demikian di Kecamatan Bakumpai, khususnya Kelurahan Lepasan yang berseberangan langsung dengan Marabahan.

Baca Juga: Tatkala Bahasa Bakumpai Perlahan Kehilangan Bunyi di Tanah Kelahiran

"Sampai sekarang masih aman, meski banyak juga ikan yang mulai megap-megap. Mudahan kejadian 2014 dan 2019 lalu tidak terulang," sahut papar Rahmatillah, warga Kelurahan Lepasan.

Sementara mengutip laporan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola, analisis awal penyebab kematian adalah penurunan kualitas air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito yang datang dari arah hulu.

Analisis awal itu didukung hasil pengukuran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola. Pengukuran di intake PDAM Marabahan menunjukkan Biological Oxygen Demand (BOD) telah mencapai 6,85 poin (cemar sedang). Sedangkan Chemical Oxygen Demand (COD) tercatat 3,57 poin (cemar ringan).

Adapun hasil pengukuran di Tapin, BOD tercatat 4,39 poin (cemar ringan) dan COD 2,8 poin (cemar ringan). Namun pH atau derajat keasaman mencapai 2,93 (cemar berat).

Hasil sebaliknya terlihat dari pengukuran di DAS Barito di Hulu Sungai Tengah, karena NH3 amoniak telah mencapai 11,34 poin atau cemar berat. Kemudian amoniak DAS Barito di Tabalong tercatat 14,79 atau cemar berat.

"Dari hasil analisis sementara, telah terjadi cemaran berat di DAS Barito akibat amoniak dan pH yang bersumber dari arah hulu," jelas Kabid Perikanan Budidaya DKPP Batola, Akhmad Husin, kepada kabarkalsel.com.  

Adapun total jumlah ikan nila yang mati diperkirakan 3,5 ton dengan ukuran rata-rata 2 hingga 3 ons per ekor, "Untuk sementara sudah 3 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) yang melaporkan kasus kematian," tambah Husin.

Untuk mengantisipasi kerugian lebih besar, pembudidaya diimbau secepatnya menjual ikan yang sudah memasuki masa panen. Kemudian menghentikan sementara pemberian pakan kepada ikan yang masih hidup.

"Kami juga mengimbau untuk sementara jangan yang menebar benih ikan di keramba sampai kondisi kualitas air membaik," tutup Husin.