Warga Antar Raya Batola Minta PT BPP Setop Pompanisasi ke Anjir Talaran

Warga Desa Antar Raya di Kecamatan Marabahan, Barito Kuala (Batola) meminta agar pembuangan air dari perkebunan sawit PT Barito Putera Plantation (BPP) tidak lagi diarahkan ke Anjir Talaran.

Nov 4, 2025 - 22:37
Nov 4, 2025 - 22:38
Warga Antar Raya Batola Minta PT BPP Setop Pompanisasi ke Anjir Talaran
Salah satu pompa air PT BPP yang dikeluhkan warga Desa Antar Raya, karena meningkatkan debit air Anjir Talaran. Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Warga Desa Antar Raya di Kecamatan Marabahan, Barito Kuala (Batola) meminta agar PT Barito Putera Plantation (BPP) menyetop pembuangan air dari perkebunan sawit ke Anjir Talaran. 

Penyebabnya air yang dipompa dari perkebunan itu ikut meningkatkan debit air di lahan pertanian dan hortikultura warga selama dua tahun terakhir. Tidak hanya Antar Raya, lahan warga Desa Antar Baru dan Antar Jaya juga terdampak.

Keinginan tersebut bahkan telah diutarakan warga kepada perwakilan perusahan dalam pertemuan yang difasilitasi Pemdes Antar Raya, Selasa (04/11/2025).

"Kami hanya meminta pompa jangan lagi dioperasikan. Debit air yang sudah tinggi selama musim hujan, seharusnya jangan ditambah lagi," tegas Hadransyah, salah seorang perwakilan warga.

"Mungkin daripada diarahkan ke Anjir Talaran, lebih baik air dari perkebunan dialirkan langsung ke Sungai Barito melalui Palingkau atau Balukung,” imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Antar Raya, Samsuriadi, menegaskan telah berupaya memfasilitasi masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami memfasilitasi masyarakat agar kejadian tahun lalu tidak terulang. Sesuai permintaan masyarakat, pengaliran air ke desa dihentikan selamanya,” ungkap Samsuriadi.

Pertemuan warga dengan perwakilan perusahaan di Kantor Desa Antar Raya, Kecamatan Marabahan, Selasa (04/11/2025). Foto: Kabar Kalsel

Setidaknya terdapat enam titik pompa air yang diduga mengalirkan air dari perkebunan ke permukiman. Ditambah intensitas hujan, warga khawatir kembali tidak dapat bercocok tanam sesuai jadwal.

"Tahun lalu (2024) akibat debit air di lahan masih tinggi, musim tanam padi ikut mundur dari yang biasanya dimulai Maret menjadi Mei," tukas Samsuriadi.

"Selain memundurkan jadwal tanam padi, dampak debit air tinggi juga membuat tanaman hortikultura tidak berbuah maksimal," sambungnya.

Manager Humas PT BPP, Setiyono, dalam kesempatan terpisah menjelaskan penyetopan pompanisasi perlu dikaji terlebih dahulu, karena berkaitan dengan investasi manajemen air. 

"Keputusan tidak dapat diambil secara sepihak, sebelum dilakukan pengecekan bersama masyarakat. Kami juga menghitung luas areal yang harus dikeringkan dengan memperhatikan curah hujan," jelasnya.

Sesuai keterangan masyarakat, pompanisasi yang dilakukan PT BPP baru berlangsung dalam dua tahun terakhir, "Ini merupakan laporan pertama dari masyarakat, kendati pompa sudah beroperasi sekitar dua tahun," tutup Setiyono.