Analisis Sentimen Ungkap Isu Dana Mengendap di Bank Kalsel Belum Sepenuhnya Reda
Meski klarifikasi sudah dikeluarkan, kepercayaan publik terhadap Bank Kalsel tampaknya belum sepenuhnya pulih.
KABARKALSEL.COM, BANJARBARU – Meski klarifikasi sudah dikeluarkan, kepercayaan publik terhadap Bank Kalsel tampaknya belum sepenuhnya pulih.
Laporan analisis sentimen terbaru mengungkap bahwa kritik masih mendominasi percakapan publik, terkait isu dana mengendap triliunan rupiah yang sempat menghebohkan jagat maya di pertengahan Oktober 2025.
Dari total 60 data unggahan dan komentar publik yang dianalisis, 48 persen menunjukkan sentimen negatif, 32 persen netral, dan hanya 20 persen positif.
"Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun klarifikasi Bank Kalsel cukup menenangkan, asap kekecewaan publik masih tebal," papar pakar IT Akhmad Fakhrizal Harudiansyah yang melakukan analisis sentimen.
Hanya Meredam
Isu bermula 20 Oktober 2025, ketika data Bank Indonesia yang diungkap Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut Pemkot Banjarbaru memiliki endapan dana di Bank Kalsel sebesar Rp5,165 triliun.
Tak lama kemudian, Bank Kalsel mengklarifikasi bahwa hal tersebut murni akibat human error atau kesalahan pencatatan. Dana milik Pemprov Kalsel tercatat keliru sebagai milik Pemkot Banjarbaru.
Meski diklaim tidak sepeser pun dana hilang publik masih bereaksi keras. Mereka mempertanyakan cara bank bekerja, sehingga salah menginput dana triliunan.
Dalam analisis sentimen periode 20 hingga 26 Oktober 2025, sentimen negatif mencapai 60 persen atau mencerminkan kemarahan dan keterkejutan publik.
Setelah klarifikasi resmi Bank Kalsel, sentimen negatif turun menjadi 35 persen. Adapun sentimen netral naik menjadi 40 persen.
“Artinya klarifikasi cukup berhasil meredam, tapi belum sepenuhnya menghapus kritik,” tegas Fakhrizal
Tema Kritik Publik
Analisis lebih jauh menemukan tiga tema utama yang menjadi sorotan publik:
- Kelalaian yang Tidak Profesional
Publik menilai kesalahan input triliunan rupiah bukan perkara sepele. Banyak yang mempertanyakan standar operasional Bank Kalsel.
- Sindiran Politik dan Nepotisme
Sebagian warganet mengaitkan insiden ini dengan isu politik lokal dan praktik nepotisme, membuat perbincangan melebar dari masalah teknis ke ranah kepercayaan publik.
- Citra dan Reputasi Daerah
Beberapa media nasional menilai kesalahan ini mencoreng nama baik Kalimantan Selatan di tingkat nasional.
Menariknya postingan bernada kritik atau sindiran menyebar lima kali lebih cepat dibandingkan unggahan klarifikasi atau apresiasi. Rata-rata unggahan negatif memperoleh 50 likes, sedangkan unggahan positif hanya 10 likes.
Dengan demikian, informasi negatif terbukti jauh lebih viral dan berpotensi merusak citra lembaga maupun pemerintah daerah.
Metodologi Analisis
Dalam laporan tersebut, Fakhrizal menggunakan metode klasifikasi manual berbasis Natural Language Processing (NLP) dengan pendekatan rule-based dan active learning.
Metode tersebut dipilih, karena sistem otomatis berbasis Machine Learning sering keliru menafsirkan konteks lokal, terutama sindiran khas masyarakat Kalsel.
“Contohnya, komentar seperti ‘Ya gitu lah’ atau ‘pola pikir kang parkir’ sering dianggap netral oleh robot, padahal bernada sindiran tajam,” jelas Fakhrizal.
Dengan pendekatan manual, tingkat akurasi analisis mencapai lebih dari 95 persen, sehingga memastikan interpretasi sentimen benar-benar sesuai konteks lokal.
Rekomendasi Aksi Cepat
Meski api sudah padam, percikan ketidakpercayaan publik masih menyala. Risiko terbesar bukan lagi kepada saldo dana, melainkan penurunan kepercayaan (trust) terhadap Bank Kalsel dan pemerintah daerah.
Tiga langkah strategis yang direkomendasikan adalah:
- Audit dan Otomatisasi Sistem Antasena
Melakukan audit cepat serta pembaruan sistem input data untuk mencegah kesalahan manusia (human error) serupa.
- Kampanye Transparansi Publik Berkelanjutan
Mengomunikasikan proses perbaikan secara terbuka agar publik mengetahui langkah konkret yang diambil.
- Edukasi Keuangan dan Digitalisasi Layanan
Meningkatkan literasi keuangan dan memperkuat sistem digital agar layanan bank daerah semakin akuntabel.
"Krisis reputasi tidak selesai hanya dengan klarifikasi, melainkan memerlukan langkah nyata dan komunikasi yang konsisten. Bank Kalsel berhasil memadamkan api, tapi asap ketidakpercayaan masih belum hilang,” tutup Fakhrizal.