Banjir dan Longsor di Sumatera: Korban Tewas Tembus 442 Jiwa, 402 Masih Hilang

Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh kembali bertambah.

Dec 1, 2025 - 08:31
Dec 1, 2025 - 12:32
Banjir dan Longsor di Sumatera: Korban Tewas Tembus 442 Jiwa, 402 Masih Hilang
Korban tewas akibat banjir dan longsor yang menerjang Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh terus bertambah. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, PADANG - Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh kembali bertambah. 

Dalam laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (01/12/2025), 442 orang meninggal dunia dan 402 orang lain dinyatakan hilang.

Sumatera Utara menjadi wilayah yang dampak terparah dengan 226 korban meninggal dunia, 209 hilang dan 603 luka-luka. Korban berasal dari Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Padang Sidempuan, Deli Serdang, hingga Nias.

Sedangkan jumlah pengungsi juga terus meningkat dan tersebar antara lain di Tapanuli Utara 3.600 jiwa, Tapanuli Tengah 1.659 jiwa, Tapanuli Selatan 4.661 jiwa, Sibolga 4.456 jiwa, Humbang Hasundutan 2.200 jiwa dan Mandailing Natal 1.378 jiwa.

Akses darat juga masih banyak yang terputus. Jalan Tarutung–Sibolga mengalami kerusakan parah di sejumlah titik, sehingga belum seluruhnya bisa dilalui. 

"Personel gabungan BNPB, TNI, Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, dan pemerintah daerah terus mempercepat operasi pencarian, pertolongan, distribusi logistik, dan pembukaan akses wilayah terisolasi," ungkap Kepala BNPB Suharyanto dikutip dari CNN.

"Sementara upaya-upaya normalisasi terus berjalan. Namun alat berat baru bisa menembus sekitar 40 kilometer, khususnya di Jalan Tarutung-Sibolga” tambahnya.

Sementara di Sumatera Barat, 129 jiwa dilaporkan meninggal dunia, 118 hilang dan 16 luka-luka. Korban tersebar di Agam, Padang Panjang, Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Solok, dan Pesisir Selatan.

Sedangkan jumlah pengungsi di Sumatera Barat mencapai 11.820 KK atau 77.918 jiwa, dengan konsentrasi terbesar di Padang dan Pesisir Selatan.

Adapun di Aceh, 96 warga meninggal dunia dan 75 orang dinyatakan hilang. Kemudian sebanyak 62.000 kepala keluarga di berbagai kabupaten/kota juga harus mengungsi.

Wilayah terdampak meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya.

Bencana banjir bandang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh disebabkan curah hujan ekstrem yang terjadi sejak, Minggu (23/11/2025).

Namun banyak pihak menilai hujan bukan penyebab utama, melainkan deforestasi di Harangan Tapanuli atau Batang Tour yang menghilangkan daya serap alami tanah.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara melalui siniar official memperlihatkan data rekaman citra satelit yang menunjukkan peningkatan pembukaan lahan hutan untuk Proyek Strategis Negara (PSN) dan tambang. 

PLTA North Sumatera Hydro Enegry (NSHE) merupakan salah satu PSN yang berdiri tepat di DAS Batang Toru atau meliputi Kecamatan Simarboru, Marancar dan Batang Toru.

Data tersebut diperkuat dengan fakta ribuan kayu gelondongan yang ikut terseret banjir di Sumatera Utara. Kemeterian Kehutanan menyebut kayu-kayu yang terbawa banjir dapat berasal dari beragam sumber.

Mulai dari pohon lapuk, pohon tumbang, material bawaan sungai, area bekas penebangan legal, hingga penyalahgunaan Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) dan pembalakan liar (illegal logging).