Dinkes dan DLH Batola Ungkap Kondisi Air Sungai Barito Selama Danum Bangai

Fenomena 'panen raya' dan kematian ikan dalam keramba apung selama periode danum bangai di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola), memicu perhatian lintas instansi terkait kualitas air.

Jan 26, 2026 - 22:35
Jan 26, 2026 - 23:00
Dinkes dan DLH Batola Ungkap Kondisi Air Sungai Barito Selama Danum Bangai
Petugas BPBAT Mandiangin mengambil sampel ikan dari keramba apung di Kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpai, Senin (26/01/2026). Foto: Kabar Kalsel

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Fenomena 'panen raya' dan kematian ikan dalam keramba apung selama periode danum bangai di Sungai Barito, Barito Kuala (Batola), memicu perhatian lintas instansi terkait kualitas air.

Kematian ikan dalam keramba apung terdeteksi mulai terjadi, Sabtu (24/01/2026) pagi, khususnya di Kecamatan Marabahan dan Bakumpai.

Sementara sehari sebelumnya, banyak ikan liar berbagai jenis dan ukuran mengambang ke permukaan, sehingga dengan mudah ditangkap.

Situasi tersebut lantas menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kualitas air Sungai Barito. Sampai akhirnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Batola melakukan pengujian sampel di empat titik berbeda.

"Pengujian menggunakan 19 parameter sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Batola, Sugimin, Senin (26/01/2026).

"Hasilnya air Sungai Barito yang juga dimanfaatkan sebagai bahan baku PDAM Batola dinyatakan tidak memiliki risiko keamanan," sambungnya.

19 parameter yang diukur di antaranya total coliform, suhu, total disolve solid, nitrat, besi, manganese, timbal, arsen, flouride, dan aluminium.

“Memang terdapat 4 parameter yang melebihi ambang batas seperti kekeruhan dan pH (keasaman). Kekeruhan berada di kisaran 8 hingga 14 poin, sementara pH antara 5,4 sampai 5,7 poin," tukas Sugimin.

"Namun secara umum, air Sungai Barito masih layak sebagai bahan baku air minum,” sambungnya.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola, Abdi Maulana, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan di tiga titik berbeda menunjukkan Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam air berada di level rendah.

Berita Terkait:

Dampak Danum Bangai di Batola Semakin Parah, Puluhan Ribu Ton Ikan Nila Mati

'Panen Raya' Ikan di Sungai Barito Batola, Fenomena Alam atau Krisis Lingkungan?

“Titik paling rendah berada di pertemuan Sungai Barito dengan Sungai Nagara di Kelurahan Lepasan dengan DO hanya 0,15 mg/l," jelas Abdi.

"Sedangkan di Desa Bagus, atau sekitar Jembatan Rumpiang, DO tercatat sekitar 3 mg/l. Adapun pH air di titik-titik pemantauan berangsur membaik hingga mendekati level 6,” sambungnya.

Penurunan kadar oksigen terlarut tersebut dinilai menjadi faktor utama penyebab ikan-ikan di keramba mengalami kematian massal. 

Mengutip Jurnal Perikanan dan Kelautan 2025, penurunan DO umumnya dipicu peningkatan bahan organik atau limbah, suhu air yang tinggi, dan kondisi eutrofikasi atau kelebihan nutrisi di perairan.

"Meski demikian, pemicu peningkatan bahan organik masih memerlukan kajian lebih lanjut," beber Abdi.

Selain kondisi air, pengambilan sampel ikan dari keramba apung di Kelurahan Lepasan, Desa Bagus dan Kelurahan Ulu Benteng juga sudah dilakukan Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin.

Selanjutnya sampel akan diuji di laboratorium BPBAT Mandiangin untuk mengetahui penyebab kematian, khususnya yang berada dalam keramba apung.
 
"Untuk sementara DO menjadi parameter paling rendah dan sangat memengaruhi ikan, terutama ikan nila di keramba," ungkap Bambang Setyo Sihananto, Pengelola Kesehatan Ikan BPBAT Mandiangin. 

"Oleh karena kematian disebabkan kekurangan DO, ikan masih dalam level aman dikonsumsi. Terlebih ikan patin dan lele dalam keramba yang sama tidak mengalami gangguan berarti," tutupnya.