Hapakat Kembali Gelar Diskusi, Soroti Penurunan Penutur Bahasa Bakumpai

Komunitas pemerhati Bakumpai, Hapakat, kembali menggelar diskusi terpumpun dengan tema perkembangan dan keberlangsungan penutur Bahasa Bakumpai.

Jan 2, 2026 - 09:24
Jan 2, 2026 - 09:24
Hapakat Kembali Gelar Diskusi, Soroti Penurunan Penutur Bahasa Bakumpai
Hapakat dalam salah satu sesi diskusi yang melibatkan berbagai narasumber dari lintas keilmuan. Foto: Hapakat

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Komunitas pemerhati Bakumpai, Hapakat, kembali menggelar diskusi terpumpun dengan tema perkembangan dan keberlangsungan penutur Bahasa Bakumpai. 

Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung 24 Januari 2026, sekaligus menandai pelaksanaan diskusi kedelapan sejak Hapakat dicetuskan.

Adapun diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan, politisi dan tokoh masyarakat Murung Raya, Koordinator Hapakat Bakumpai, hingga kalangan akademisi. 

Kehadiran para narasumber lintas sektor ini diharapkan mampu memperkaya perspektif, sekaligus merumuskan langkah konkret pelestarian Bahasa Bakumpai.

"Pemilihan tema diskusi didasari keprihatinan kami terhadap penurunan jumlah penutur Bahasa Bakumpai," papar Koordinator Hapakat, Rusdiansyah, Jumat (02/01/2025).

"Melalui diskusi berkelanjutan, diharapkan Bahasa Bakumpai tidak hanya bertahan sebagai identitas budaya, tetapi juga tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda," imbuhnya.

Mengutip hasil penelitian Sjahrial SAR Ibrahim, Durdje Durasid, dan Darmansyah, wilayah penutur Bahasa Bakumpai berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, serta sebagian kecil di hulu Sungai Katingan.

Sementara di Kalimantan Selatan, penutur aktif Bahasa Bakumpai masih relatif kuat di Barito Kuala, khususnya di Kecamatan Marabahan, Bakumpai, dan Kuripan. 

Namun kecamatan lain di Batola, jumlah penutur Bahasa Bakumpai diperkirakan hanya sekitar 10 persen dari total penduduk.

Sedangkan di Kalimantan Tengah, Bahasa Bakumpai digunakan secara luas di Barito Utara, Barito Selatan, Barito Timur, dan Murung Raya. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebaran penutur Bahasa Bakumpai justru melampaui batas administratif Kalimantan Selatan.

Hapakat sendiri bermula dari diskusi kecil yang digelar 18 Desember 2019. Komunitas ini dirintis Adenansi, Indra Gunawan, Nasrullah, Budi Sani, Fahri Rahman, Didi Gunawan dan Rafiqurrahman. 

Mereka datang dari beragam latar belakang. Mulai dari aktivis lingkungan, akademisi, hingga jurnalis.

"Selanjutnya diskusi digelar lebih serius, menghadirkan beberapa narasumber dari berbagai kalangan dan semua dialog dalam diskusi menggunakan Bahasa Bakumpai," Nasrullah.