Dugaan Kekerasan di Ponpes Al-Furqan Banjarmasin, Sejumlah Santri Menjadi Korban
Dugaan kekerasan dalam Ponpes Modern Al-Furqan Banjarmasin mengapung ke permukaan, setelah sejumlah orang tua mengeluhkan tindakan yang diduga dilakukan kakak tingkat di lingkungan asrama.
KABARKALSEL.COM, BANJARMASIN - Dugaan kekerasan dalam Ponpes Modern Al-Furqan Banjarmasin mengapung ke permukaan, setelah sejumlah orang tua mengeluhkan tindakan yang diduga dilakukan kakak tingkat di lingkungan asrama.
Informasi dihimpun menyebutkan dugaan kekerasan melibatkan sejumlah santri. Adapun jumlah korban sementara diperkirakan mencapai belasan orang,
Salah seorang santri yang diduga menjadi korban duduk di kelas II Madrasah Aliyah. Akibatnya korban mengalami cedera di bagian ari-ari, setelah diduga terkena pukulan diduga kakak tingkat.
“Terduga pelaku ingin memukul di perut, ternyata tergelincir hingga mengenai ari-ari anak saya,” papar orang tua korban berinisial EW, Rabu (12/08/2026).
Mengutip penuturan sang anak, EW menjelaskan peristiwa tersebut terjadi di lingkungan asrama, Sabtu (08/09/2026). Dalam satu kesempatan, korban bersama sejumlah siswa dikumpulkan di halaman oleh kakak angkatan.
“Selanjutnya anak saya mendapat tindakan yang seharusnya tidak perlu dilakukan di lingkungan pendidikan,” tegas EW yang berdomisili di Barito Kuala.
Setelah mengalami cedera, korban sempat dibawa ke RSUD Ansari Saleh untuk menjalani pemeriksaan. Kemudian korban pulang ke rumah dan tidak kembali tinggal di asrama lantaran masih trauma.
“Saya cuma ingin ingin mata rantai tindakan kekerasan seperti itu dapat diputus. Saya khawatir anak saya akan melakukan hal serupa kepada adik tingkat,” harap EW.
Sementara Ponpes Al-Furqan tidak menampik kabar yang mencuat. Mereka juga menyayangkan kejadian yang dilaporkan dan sedang berupaya menyelesaikan.
“Terkait masalah kasus kekerasan, sekarang dalam tahap penyelesaian," papar Koordinator Kesantrian Ponpes Al-Furqan, Suyatno, dalam kesempatan terpisah.
"Kami tentu tidak menginginkan kasus kekerasan tersebut. Kalaupun misalnya terjadi juga, mungkin disebabkan kesalahpahaman yang harus diselesaikan dan dibicarakan antara kedua belah pihak,” imbuhnya.
Sementara Kepala Asrama Ponpes Al-Furqan, Chusnul Aqib, menambahkan masih menggali informasi mengenai kejadian tersebut. Komunikasi dengan orang tua santri juga telah dilakukan.
“Informasi yang beredar memang benar. Kami dari pengelola asrama masih mencoba menggali untuk mengetahui kejadian secara utuh. Komunikasi dengan orang tua juga sedang berjalan, karena kejadian ini masih baru,” jelas Aqib.
Mengenai jumlah korban yang disebut-sebut mencapai belasan santri, Aqib belum dapat memastikan. Pendataan masih dilakukan ustaz dan mudabbir.
"Namun berdasarkan pendataan sementara, bentuk kejadian yang dilaporkan tidak seragam. Sebagian berupa verbal, tetapi memang terjadi pula sentuhan fisik,” tukas Aqib.
Pun terdapat orang tua yang telah membawa anak mereka menjalani pemeriksaan medis. Berdasarkan informasi yang diterima Ponpes Al-Furqan, hasil pemeriksaan tidak menunjukkan masalah medis.
"Meski demikian, kami tetap menyayangkan seandainya kekerasan benar terjadi. Kami akan terus melakukan pendalaman dan berkomunikasi dengan orang tua santri yang merasa anak mereka menjadi korban," tutup Aqib.

