Ibarat Penyakit Menular, Puluhan Motor Brebet Usai Isi Pertalite di HST

Setelah sempat terjadi di Banjarmasin, motor brebet usai mengisi pertalite di SPBU mulai menular ke Hulu Sungai Tengah (HST).

Nov 26, 2025 - 22:02
Nov 27, 2025 - 00:04
Ibarat Penyakit Menular, Puluhan Motor Brebet Usai Isi Pertalite di HST
Sudah puluhan motor masuk bengkel dalam beberapa pekan terakhir di Hulu Sungai Tengah, setelah diisi pertalite. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, BARABAI - Setelah sempat terjadi di Banjarmasin, motor brebet usai diisi pertalite di SPBU mulai menular ke Hulu Sungai Tengah (HST).

Sudah puluhan motor masuk bengkel dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya para pemilik mengeluhkan motor brebet hingga mati total, setelah mengisi pertalite.

"Fenomena motor brebet sudah terjadi sejak akhir Oktober hingga November 2025 ini. Rata-rata motor matik yang bermasalah," papar salah seorang mekanik motor di Barabai, Amat, dikutip dari Antara, Rabu (26/11/2025).

"Penanganan yang dilakukan beragam. Mulai dari kerusakan ringan, hingga paling parah bongkar total karena kerusakan cukup berat. Tangki BBM juga harus dibersihkan," tambahnya.

Pun warna pertalite yang dikuras dari tangki, terlihat berbeda karena berwarna agak hijau terang. Sisa pertalite juga mengendap, sehingga busi sebagian motor juga harus diganti.

Akibat persoalan tersebut, pengguna pertalite pun ramai-ramai beralih menggunakan pertamax hingga terjadi kekosongan stok di sejumlah SPBU dalam beberapa waktu terakhir.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan HST, Aris Waluyo, menjelaskan beberapa waktu lalu telah memanggil para pengelola SPBU untuk dimintai tanggapan dan klarifikasi.

"Para pengelola SPBU mengaku telah melaksanakan sesuai SOP Pertamina dan menyampaikan data hasil pengujian kualitas. Juga tidak ditemukan keluhan maupun gangguan kualitas dari SPBU," tukas Aris. 

"Sebagai tindak lanjut, mereka berkomitmen menjaga stok pertamax tetap aman, dan tetap melakukan pengujian minyak dengan berbagai alat penguji sesuai standar," tambahnya.

Tidak cukup hanya memanggil, Komisi II DPRD HST juga melakukan inspeksi mendadak ke SPBU Mandingin dan Sungai Rangas. Selain mencari titik pangkal motor brebet, mereka juga menelusuri penyebab kekosongan yang berulang.

Hasilnya didapati stok BBM yang tidak stabil dan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat, sehingga kondisi ini tidak bisa lagi dianggap normal.

“Masalah kelangkaan BBM sudah terlalu sering terjadi. Masyarakat harus keluar masuk SPBU hanya untuk memastikan sudah tersedia," sahut H Dudi Hermawan, Ketua Komisi II DPRD HST.

Pertamina pun diminta memastikan kelancaran distribusi BBM dengan penguatan pengawasan, terukur, dan konsisten. Kemudian pengelola SPBU diwanti-wanti lebih memprioritaskan masyarakat dibandingkan para pelangsir.

Terlebih kerap terjadi kekosongan stok BBM di hampir semua SPBU, tetapi tersedia banyak di tingkat eceran. Padahal harga eceran jauh lebih mahal dibanding di SPBU.

“Pertamina jangan hanya omong-omong. Jangan sampai terjadi pembiaran permainan di lapangan atau distribusi yang tidak jelas. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegas Dudi.