Kubah Abah Guru Sekumpul Masih Ditutup, Berikut Penjelasan dan Alasannya
Setelah memasang banner larangan, Kamis (08/01/2026) lalu, Pengelola Musala Ar-Raudhah Sekumpul kembali menegaskan alasan penyebab kubah KH Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) masih ditutup.
KABARKALSEL.COM, MARTAPURA - Setelah memasang banner larangan, Kamis (08/01/2026) lalu, Pengelola Musala Ar-Raudhah Sekumpul kembali menegaskan alasan penyebab kubah KH Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) masih ditutup.
Pemasangan banner larangan tersebut diduga berawal dari sikap oknum peziarah yang dinilai kurang menjaga adab. Mulai dari meletakkan uang di pintu atau pagar kubah, hingga mencium dan mengusap tembok luar kubah dengan alasan mencari berkah.
Lantas dalam pemberitahuan resmi yang ditandatangani putra Abah Guru Sekumpul, H Muhammad Amin Badali dan H Ahmad Hafi Badali, Selasa (20/01/2026), dijelaskan pemasangan banner maupun penutupan kubah diputuskan melalui pertimbangan panjang dan matang.
Diketahui kubah Abah Guru Sekumpul ditutup sejak wabah Covid-19. Penutupan berlanjut karena proses rehabilitasi kubah, termasuk renovasi Musala Ar-Raudhah.
Berikut penjelasan resmi ahli waris melalui siniar Ar-Raudhah Sekumpul:
Menanggapi pertanyaan mengenai banner yang terpasang, itu memang dari kami berdua. Tidak ada yang memasang banner seperti itu tanpa sepengetahuan dan keputusan kami. Kalaupun ada yang memasang tanpa komunikasi dengan kami dari awal, maka pasti banner itu tidak akan terpasang lama.
Mengenai memasang banner, beserta alasan dan penyebab kenapa Kubah/Tempat Ziarah masih ditutup itu pastinya ada. Setiap keputusan dan kebijakan yang kami ambil, semuanya pasti setelah pemikiran dan pertimbangan yang banyak dan panjang.
Jika diperhatikan dari awal kami sudah jelas mengumumkan dan memberitahukan bahwa Kubah/Tempat Ziarah masih ditutup. Dan kalau sudah dibuka pasti akan diberitahukan lagi. Yang berarti jika belum ada pemberitahuan, maka keadaannya masih tetap sama ditutup. Sedari awal kami tidak ada menyediakan dan tidak pernah mengizinkan adanya tempat-tempat ziarah di luar Kubah itu. Dan juga tidak ada satupun pihak yang berizin atau membicarakannya kepada kami.
Mungkin pada umumnya orang berpikir banner itu dipasang hanya karena adanya kejadian orang-orang yang menaruh kembang dan uang. Tetapi sebetulnya dan faktanya bukan hanya karena itu. Pada kesempatan ini kami akan menjelaskan apa saja yang sebetulnya menjadi penyebabnya.
Semakin banyaknya orang yang melupakan pesan, ajaran, dan kurangnya adab kepada Abah yang juga Guru kita.
Banyak orang yang melupakan adabnya dalam berziarah. Itu selalu kami perhatikan sedari dulu. Dengan berjalannya waktu dan jaman pun berubah. Sekarang sudah memasuki jaman digital, social media. Zaman ini sudah sangat berubah dan berbeda. Yang juga jadi semakin berbahaya dengan banyaknya platform/wadah untuk orang menyebarkan fitnah, kebencian dan opini-opini miringnya. Banyak yang semakin melupakan cara adab berziarah karena banyaknya yang hanya memikirkan untuk berfoto-foto, video, dan konten lainnya.
Kemudian banyak muncul lagi hal-hal lainnya. Semakin banyak yang melupakan pesan Abah. Melupakan apa yang Abah tidak inginkan. Banyak pihak yang menjual, mengaitkan, dan menggunakan nama Abah untuk kepentingan pribadinya. Banyak pihak yang memanfaatkan dan mengambil untung untuk pribadi. Contoh yang jelas nyata, adanya pasar dan tempat-tempat jualan yang dekat dengan Kubah dan Musholla Arraudhah. Yang dulunya tidak ada di jaman Abah. Sekarang semakin banyak dan bertambah. Banyak juga yang berlindung dengan alasan mengambil berkat padahal kenyataannya karena duniawi yang menguntungkan mereka.
Lalu juga semakin banyaknya pihak yang memanfaatkan pada waktu yang berdekatan dengan 5 Rajab. Banyaknya pihak yang semakin giat mengejar dunia berjualan, dan membuat penginapan dengan harga yang tidak wajar. Dan juga modus-modus lainnya yang menguntungkan untuk mereka pribadi.
Kami juga sudah pernah mencoba dan berusaha menyampaikan secara tertutup kepada pemda dan lainnya yang kami pikir mungkin bisa membantu menertibkan menata area dan juga menegaskan aturan tentang perumahan/kompleks perumahan dan pedagang yang seharusnya ada aturan tegas mengenai tempat untuk berjualan. Tetapi kenyataannya tetap tidak ada pergerakkan, tidak ada solusi dan tidak ada hasil perubahannya.
Semakin banyaknya pihak dan orang-orang yang seperti itu, semakin yakinlah kami tidak membuka lagi pintu dan tempatnya. Agar hal-hal yang sudah disebutkan tadi tidak semakin membesar. Kami lakukan dan usahakan apa yang kami bisa. Yang pada akhirnya kami memutuskan untuk memasang banner dan menyampaikan pesan melalui itu dengan harapan orang-orang bisa lebih sadar dan paham.
Teruntuk pihak-pihak yang berkata dan meminta kubah dibuka agar berkurang bala musibah. Kami pun ini berusaha menjaga untuk tidak semakin banyak fitnah yang terjadi. Untuk tidak semakin banyak hal-hal kurang baik yang dilakukan di tempat sakral. Untuk tidak semakin banyak pihak yang hanya memikirkan duniawi dan tidak beradab kepada Guru. Karena itulah yang sebetulnya juga bisa mendatangkan dan menyebabkan bala musibah. Ketika banyak yang mungkin tidak sadar dengan kesalahannya dan kualatnya kepada Guru. Dan perlu diingat bahwa beliau ada mengajari kita juga tentang ziarah sirr.
Kepada pihak yang merasa dan menganggap dirinya murid, anak angkat, dan sayang cinta kepada Abah. Kami harap untuk selalu membantu menjaga apa yang sudah jelas Abah pernah sampaikan dan ajarkan. Jagakan dari hal-hal yang jelas Abah tidak senangi agar tidak ada dan tidak terjadi. Bersama-sama kita jaga dan tertibkan agar Abah tetap senang. Kita jaga agar Abah tidak terkena fitnah karena ulah pihak-pihak yang tidak memahami dan tidak benar-benar peduli kepada beliau.
Mohon maaf jika ada kata dan kalimat yang salah atau kurang tepat. Kami harap penjelasan dan pesan yang kami sampaikan ini cukup jelas. Dan juga diharap pengertiannya untuk kedepannya. Kami paham pastinya akan selalu ada pro-kontra. Tetapi apapun keputusan dan kebijakan yang kami ambil, itu semua pasti usaha terbaik kami untuk Abah dan Guru yang sangat kami hormati, cintai dan sayangi.
Semoga kita semua selalu kuat, sabar, dan istiqomah menjaga Guru kita dan beradab kepada beliau.