Masalah Lama Belum Tuntas, APPI Catat 28 Klub Liga Indonesia Terbelit Tunggakan Gaji

Persoalan mendasar masih menghantui Liga Indonesia. Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mencatat 28 klub masih memiliki tunggakan gaji pemain dengan nilai mencapai Rp14,8 miliar.

Aug 31, 2026 - 18:43
Sep 1, 2026 - 18:46
Masalah Lama Belum Tuntas, APPI Catat 28 Klub Liga Indonesia Terbelit Tunggakan Gaji
Launching pemain dan jersey PSM Makassar menjelang Super League 2026/2027. Dalam catatan APPI, Juku Eja termasuk klub yang terbelit tunggakan gaji. Foto: RRI

KABARKALSEL.COM, JAKARTA – Persoalan mendasar masih menghantui Liga Indonesia. Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mencatat 28 klub masih memiliki tunggakan gaji pemain dengan nilai mencapai Rp14,8 miliar.

Ironisnya klub-klub yang masuk daftar penunggak masih berkompetisi Super League hingga Liga 4. Adapun pemain yang belum mendapatkan berjumlah 303 orang.

“Total kasus yang sedang ditangani, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan National Dispute Resolution Chamber (NDRC) yang belum dilaksanakan, total sebanyak 28 klub," beber Legal APPI, Mohammad Agus Riza Hufaida, dikutip dari Antara, Senin (31/08/2026).

"Dengan total 303 pemain dari Super League sampai Liga 4, nilai tunggakan keseluruhan telah mencapai Rp14,8 miliar," sambungnya.

APPI menyayangkan fenomena tersebut, karena persoalan pembayaran gaji pemain seharusnya tidak lagi menjadi masalah yang berulang.

"Gaji merupakan hak dasar pemain. Bahkan hadis (Nabi Muhammad SAW) menegaskan upah harus diberikan sebelum keringat pekerja mengering," tegas Agus.

Lebih jauh lagi, APPI menegaskan klub yang masih memiliki persoalan pembayaran hak pemain semestinya tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi. 

“Sebenarnya sejak beberapa tahun lalu, kami sudah berulang kali menyampaikan mitigasi-mitigasi, termasuk soal zero tolerance terkait dengan klub lisensi,” tukas Riza.

Dalam daftar yang disampaikan APPI, sejumlah klub yang disebut memiliki persoalan tunggakan gaji adalah PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, dan Persikota Tangerang.

Kemudian Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena, Persid Jember, PS Siak, Bantul United, dan PSM Madiun.

Selanjutnya Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC.

Dari sekian klub, PSM dijatuhi sanksi larangan transfer oleh FIFA diduga akibat menunggak gaji pemain. Tidak hanya sekali, tetapi Juku Eja dihukum enam kali sepanjang Super League 2025/2026.

Sanksi pertama dijatuhkan 8 Oktober 2025, seiring sengketa finansial yang pelik dengan mantan pelatih Bernardo Tavares. Kemudian 9 Januari 2026, sanksi dijatuhkan akibat gugatan Lucas Dias.

Sedangkan sanksi terakhir diberikan 22 Mei 2026, sehingga membuat PSM dilarang melakukan aktivitas transfer selama tiga periode kedepan. 

“Seharusnya (persoalan gaji) sudah ditinggalkan beberapa tahun lalu, karena semua ingin membawa liga naik kelas. Namun di sisi lain, masalah dasar terkait hak pemain masih menjadi problem,” tutup Riza.