ISPA di Kalsel Capai 3.990 Kasus, Banjarmasin Paling Terdampak

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mencapai 3.990 kasus. Banjarmasin menjadi daerah dengan laporan terbanyak, mencapai 988 kasus.

Sep 1, 2026 - 14:16
Sep 1, 2026 - 14:16
ISPA di Kalsel Capai 3.990 Kasus, Banjarmasin Paling Terdampak
Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin memimpin pembagian masker gratis kepada pengguna jalan di Simpang Empat Masjid Sabilal Muhtadin, Senin (31/08/2026). Foto: Humas Polresta Banjarmasin

KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mencapai 3.990 kasus. Banjarmasin menjadi daerah dengan laporan terbanyak, mencapai 988 kasus.

Angka tersebut merupakan gabungan laporan dari puskesmas dan rumah sakit di seluruh kabupaten/kota. Dari total kasus, sebanyak 3.506 kasus tercatat di Puskesmas, sedangkan 484 kasus lain berasal dari laporan rumah sakit.

“Data tersebut merupakan laporan mingguan yang berasal dari gabungan puskesmas dan rumah sakit," papar Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, dr Diauddin, Selasa (01/09/2026).

"Oleh karena bersifat mingguan, data terus dievaluasi seiring perkembangan kasus ISPA di Kalsel. Berdasarkan sebaran sementara, Banjarmasin menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi hingga 988 kasus," sambungnya.

Berikutnya Banjarbaru dengan 670 kasus, Hulu Sungai Tengah 405 kasus, Banjar 391 kasus, Barito Kuala 287 kasus, dan Hulu Sungai Selatan 244 kasus.

Selanjutnya Tanah Laut 218 kasus, Kotabaru 210 kasus, Tabalong 181 kasus, Tanah Bumbu 135 kasus, Tapin 102 kasus, Balangan 81 kasus, dan Hulu Sungai Utara dengan 78 kasus.

"Jumlah kasus di satu daerah tidak otomatis menggambarkan kondisi keseluruhan Kalsel. Perbedaan jumlah kasus dapat dipengaruhi kondisi masing-masing wilayah dan laporan yang masuk," tukas Diauddin.

“Hal yang terpenting adalah memastikan masyarakat yang mengalami gejala mendapat pelayanan kesehatan dan penanganan. Kami juga mengingatkan seluruh pelayanan kesehatan agar merespons apabila terjadi peningkatan kasus," tutupnya.