Pasar Paringin Balangan Kolaps, Minim Pembeli dan Ratusan Kios Kosong

Kondisi Pasar Paringin di Kecamatan Paringin Selatan, Balangan, semakin hari bertambah memprihatinkan.

Jul 31, 2026 - 17:58
Jul 31, 2026 - 17:58
Pasar Paringin Balangan Kolaps, Minim Pembeli dan Ratusan Kios Kosong
Kondisi Pasar Paringin di Kecamatan Paringin Selatan, Balangan, semakin hari bertambah memprihatinkan. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, BALANGAN – Kondisi Pasar Paringin di Kecamatan Paringin Selatan, Balangan, semakin hari bertambah memprihatinkan. 

Dikutip dari Antara, pasar tradisional yang biasanya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, sekarang kian sepi pengunjung. Ratusan kios kosong ditinggalkan pedagang, sementara aktivitas jual beli terus menurun.

"Kami sedih dan kecewa melihat kondisi pasar yang sebelumnya dibanggakan, sekarang sepi seperti kuburan di tengah kota," papar salah seorang warga Paringin, Adi, Jumat (31/07/2026).

Pengelolaan Pasar Paringin dalam beberapa tahun terakhir pun dinilai belum maksimal. Keterbatasan inovasi membuat pasar kehilangan daya tarik, sehingga semakin banyak pedagang memilih meninggalkan lokasi.

"Peran pemerintah daerah, khususnya dinas terkait bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Paringin, sangat dibutuhkan untuk mencari solusi," imbuh Adi.

"Kami berharap pengelola pasar dapat menghadirkan berbagai terobosan agar Pasar Paringin dan Pasar Adaro kembali menjadi pusat perdagangan yang ramai dikunjungi masyarakat," sambungnya.

Sekretaris Pengelola Pasar Paringin, Hendri, mengakui jumlah pedagang terus berkurang karena penyusutan pengunjung yang datang untuk berbelanja.

Tercatat dari lebih 300 unit toko yang tersedia di Pasar Paringin, hanya sekitar 170 unit masih terisi. Bahkan sebagian kios yang masih ditempati, hanya dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan barang.

"Kami  juga menunggu inovasi-inovasi yang akan dilakukan oleh UPT Pasar Paringin agar dapat menjadikan Pasar Paringin sebagai sentra ekonomi masyarakat," sahut Hendri.

Kondisi Pasar Paringin yang semakin lesu, turut menjadi perhatian DPRD Balangan. Ketua Komisi II DPRD, Sri Huriyati, menilai penurunan aktivitas perdagangan di pasar tradisional tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pasar digital dan belanja daring.

"Namun juga tidak boleh dibiarkan pedagang tradisional yang belum memiliki kemampuan memasarkan produk secara digital tertinggal begitu saja," tukas Sri Huriyati.

UPT Pasar Paringin pun didorong menghadirkan program pelatihan pemasaran digital, pendampingan penggunaan media sosial dan marketplace, penyediaan akses internet, hingga promosi bersama.

Selain transformasi digital, pembenahan fisik pasar juga harus menjadi perhatian agar masyarakat kembali tertarik berbelanja langsung.

Pasar Paringin perlu menghadirkan lingkungan bersih, aman, nyaman, serta memiliki daya tarik yang mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.

"Status pasar tradisional tidak cukup hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman berbelanja yang baik sehingga masyarakat tetap memilih datang ke pasar," tegas Sri Huriyati.

"Diperlukan sinergi semua pihak untuk menyusun strategi menghidupkan kembali aktivitas pasar. Program promosi, festival UMKM, pasar tematik, hingga kebijakan yang berpihak kepada pedagang kecil dapat menjadi bagian dari solusi," tandasnya.