Tekan Risiko Karhutla, KLH Meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca di Kalsel

Menekan risiko akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan di Kalimantan Selatan.

Aug 14, 2025 - 19:51
Aug 16, 2025 - 19:44
Tekan Risiko Karhutla, KLH Meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca di Kalsel
Direktur Pengendalian Karhutla KLH, Dasrul Caniago, bersama-sama memeriksa pesawat yang digunakan dalam OMC di Kalimantan Selatan. Foto: MC Kalsel

KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Menekan risiko akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan di Kalimantan Selatan.

Peluncuran dilakukan Direktur Pengendalian Karhutla KLH, Dasrul Caniago, di Ruang Swadarma Lanud Syamsudin Noor, Kamis (14/08/2025).

Diketahui OMC tersebut sesuai janji Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, ketika menghadiri Rakor Kesiapsiagaan Karhutla di Kalsel Tahun 2025, Kamis (07/08/2025) lalu.

"Sudah dijanjikan dukungan pembiayaan dari KLH untuk pelaksanaan OMC di Kalsel. Sekarang komitmen tersebut sudah diwujudkan,” ungkap Dasrul.

OMC dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari yang terhitung sejak 13 Agustus 2025 dengan target dua kali penyemaian garam per hari. Pemilihan waktu ini didasari analisis para ahli yang menyatakan ketersediaan awan di Kalsel berada dalam kondisi optimal. 

"Garam yang digunakan bersifat higroskopis, sehingga mampu menarik partikel air untuk memicu proses pembentukan hujan,” jelas Dasrul.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, tercatat 140 hotspot hingga 6 Agustus 2025 dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sedangkan luas lahan terbakar sementara mencapai 155 hektare. 

Adapun secara nasional, catatan sementara menunjukkan lebih dari 11 ribu hektare lahan terbakar hingga pertengahan Agustus, termasuk kebakaran besar di Riau yang terjadi Juli 2025 lalu. 

Baca juga:

Menteri Lingkungan Hidup Wanti-wanti Pelaku Pembakaran Lahan di Kalsel

Antisipasi Dampak Karhutla, Kalsel Pasang Status Siaga Darurat

Di sisi lain, hasil monitoring Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut yang dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), masih memperlihatkan situasi rawan.

Hingga 13 Agustus 2025, sekitar 65 persen area berada dalam kategori rawan dengan TMAT antara 0 hingga 40 sentimeter di bawah permukaan tanah. 

"Artinya sebagian besar lahan gambut mulai mengering. Kalau terus dibiarkan, gambut yang kering mudah teroksidasi dan terbakar, sehingga menimbulkan kabut asap," wanti Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, dalam kesempatan yang sama.

Diketahui lahan gambut tersebar di Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong, dan Barito Kuala. Dengan demikian, menjaga kelembapan lahan gambut menjadi prioritas untuk mencegah kebakaran.

“Tentunya kKami berharap pelaksanaan OMC berjalan lancar, aman, dan efektif dalam mengurangi titik panas, serta menekan risiko karhutla,” tutup Edison.

Sementara Sekretaris BPBD Kalsel, Iswantoro, menyampaikan telah melakukan berbagai upaya mitigasi karhutla. Di antaranya koordinasi antarinstansi dan aktivasi posko siaga. 

BPBD Kalsel juga telah memulai sejumlah kegiatan penunjang di lima titik strategis sebagai pendukung upaya pencegahan karhutla. 

“Kami berusaha semaksimal mungkin melakukan backup dan penguatan jalur komunikasi, sehingga seluruh pihak bisa terhubung dan bekerja sama optimal,” tutup Iswantoro.