Akademisi ULM Soroti Flyer Batola Berselawat, Dinilai Alami Anomali Semiotik

Flyer kegiatan Batola Berselawat 2025 dalam rangka Hari Jadi ke-66 Barito Kuala (Batola), menuai sorotan dari kalangan akademisi.

Dec 15, 2025 - 00:54
Dec 18, 2025 - 00:54
Akademisi ULM Soroti Flyer Batola Berselawat, Dinilai Alami Anomali Semiotik
Flyer kegiatan Batola Berselawat 2025 dalam rangka Hari Jadi ke-66 Barito Kuala (Batola). Foto: Instagram Pemkab Batola

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Flyer kegiatan Batola Berselawat 2025 dalam rangka Hari Jadi ke-66 Barito Kuala (Batola), menuai sorotan dari kalangan akademisi. 

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, menilai desain flyer tersebut mengandung anomali semiotik atau kondisi ketika simbol visual kehilangan kekuatan dan kejelasan dalam menyampaikan pesan.

Sorotan tersebut muncul flyer resmi beredar di masyarakat, termasuk ditampilkan akun media sosial Pemkab Barito Kuala, Minggu (07/12/2025).

Terlihat logo Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan beserta tagline 'Bekerja Bersama Merangkul Semua' yang digaungkan Gubernur H Muhidin dan Wakil Gubernur H. Hasnuryadi Sulaiman, 

Semua elemen itu diletakkan sejajar dengan logo Pemkab Batola, logo Hari Jadi ke-66 Batola, serta tagline 'Batola Satu' yang diusung Bupati H Bahrul Ilmi dan Wakil Bupati Herman Susilo.

"Kendati sebatas flyer, komposisi visual tersebut memunculkan sejumlah implikasi makna yang problematik," cetus Nasrullah.

Salah satunya penempatan logo Pemprov Kalsel di antara simbol resmi Pemkab Batola. Posisi ini menimbulkan kesan bahwa kegiatan Batola Berselawat 2025 merupakan agenda bersama antara Pemprov Kalsel dan Pemkab Batola.

“Implikasi gambar tersebut bisa jauh, mulai dari asumsi sharing anggaran, dukungan logistik, hingga penggunaan fasilitas milik provinsi," beber Nasrullah. 

"Padahal secara substansi dan konteks, kegiatan Batola Berselawat digelar dalam rangka Hari Jadi Pemkab Batola, bukan peringatan Hari Jadi Pemprov Kalsel," sambungnya.

Nasrullah yang juga putra kelahiran Bumi Ije Jela, memandang logo Hari Jadi ke-66 Batola telah mengalami pergeseran makna, karena ditempatkan sejajar dengan logo Pemprov Kalsel dan Pemkab Batola. 

Akibatnya logo berbentuk angka 66 tersebut secara visual tampak seperti entitas kelembagaan, bukan simbol peringatan atau momentum temporer.

"Kalau keterlibatan Pemprov Kalsel benar adanya, maka secara logis dan komunikatif kegiatan tersebut semestinya diberi nama ‘Kalsel & Batola Berselawat’," tukas Nasrullah.

Fenomena itulah yang lantas disebut sebagai anomali semiotik atau kondisi ketika simbol tidak lagi berfungsi optimal sebagai penyampai pesan, karena mengalami dislokasi penempatan atau ketidaksesuaian konteks.

Terdapat dua faktor utama yang diduga melatarbelakangi anomali tersebut. Bisa disebabkan keterbatasan literasi visual perancang, sehingga tidak memahami hirarki simbol dan relasi makna antarlogo. 

"Kemudian terputusnya transmisi makna. Ini akan terjadi kalau pembuat desain tidak memahami substansi kegiatan yang direpresentasikan secara visual," tutup Nasrullah.