Antara Budaya dan Kebiasaan, Lingkungan Menanggung Penyesalan
KABUPATEN Barito Kuala dikenal sebagai daerah agraris dengan bentang sungai yang luas, terutama Sungai Barito yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
KABUPATEN Barito Kuala dikenal sebagai daerah agraris dengan bentang sungai yang luas, terutama Sungai Barito yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Namun, di balik potensi besar ini, Batola menghadapi tantangan serius terkait kebersihan lingkungan, khususnya persoalan sampah dan sanitasi. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini kerap berubah menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga.
Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, timbulan sampah yang ditangani di Kabupaten Barito Kuala pada tahun 2023 mencapai 17.976,25 ton.
Sementara itu, catatan timbulan sampah per tahun mengalami peningkatan signifikan: sekitar 35.179 ton pada 2022 dan naik menjadi 36.061 ton pada 2023. Fakta ini menunjukkan bahwa produksi sampah di Batola terus meningkat, sementara pengelolaan di lapangan belum sepenuhnya merata.
Di Kecamatan Tamban, misalnya, desa-desa yang berada di pinggiran Sungai Barito kerap merasakan dampak langsung. Ketika air sungai meluap, sampah yang hanyut terbawa arus masuk ke area persawahan.
Limbah plastik dan sisa rumah tangga yang bercampur lumpur merusak kualitas tanah, mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan menurunkan produktivitas panen.
Situasi ini jelas menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan lagi sekadar isu kebersihan, melainkan sudah mengancam ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Suara dari Masyarakat
Krisis sampah di Batola bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga kisah pilu masyarakat kecil yang hidup bergantung pada sungai dan tanah.
Acil Galuh, seorang petani di Kecamatan Tamban, menceritakan sebelum terjadinya banjir bandang yang melanda Kalsel pada tahun 2021 silam, hasil panen sangat bagus. Namun setelah kejadian tersebut, sampah-sampah plastik berdatangan dan bercampur dengan tanah sehingga membuat kondisi sawah menurun tingkat kesuburannya.
Cerita serupa juga terdengar di Desa Jelapat Baru. Warga setempat mengenang perubahan lingkungan mereka dengan nada getir:
“Dulu Desa Jelapat Baru bersih dari sampah bahkan bebas dari nyamuk. Namun sekarang berubah, sampah berserakan di mana-mana bahkan nyamuk merajalela. Di kolong rumah, sawah, sekolah, bahkan makam desa banyak dijumpai sampah.”
Lebih jauh, masyarakat Batola kini dihadapkan pada kebingungan dalam mengelola sampah. Mereka menyadari bahwa setiap cara membawa risiko, “Dibakar dapat menimbulkan asap buruk, dibuang ke sungai dapat menimbulkan banjir, dan dikubur dapat merusak kualitas tanah.”
Kondisi ini menggambarkan betapa rumitnya persoalan persampahan di Batola. Minimnya fasilitas pengelolaan sampah membuat masyarakat tak punya pilihan yang benar-benar aman.
Situasi ini diperparah dengan buruknya fasilitas sanitasi di wilayah pedalaman, di mana masih banyak warga yang belum memiliki toilet layak sehingga buang air di sungai menjadi hal yang lumrah.
Sebagai perbandingan, di Kota Banjarmasin pemerintah menargetkan 80 persen kelurahan menjadi wilayah Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BAB) pada 2024.
Namun hingga pertengahan tahun, baru 61% dari 52 kelurahan yang bisa mendeklarasikan diri. Artinya, untuk wilayah pedalaman Batola, kondisinya jauh lebih tertinggal dan menuntut perhatian serius.
Pengalaman pribadi juga menegaskan urgensi masalah ini. Pada tahun 2024, saya berkesempatan menjadi narasumber dalam program Banua Bicara TVRI Kalimantan Selatan yang mengangkat tema mitigasi sampah dan isu lingkungan.
Dalam forum itu, saya berdiskusi langsung dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Hanifah Dwi Nirwana (sekarang Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup).
Saya sampaikan bahwa salah satu langkah paling mendesak adalah memastikan seluruh wilayah di Kalsel, khususnya Kabupaten Barito Kuala, mendapatkan fasilitas truk sampah yang merata.
Tanpa truk pengangkut yang memadai, masyarakat sulit terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Sampah akhirnya kembali dibuang ke sungai, dibakar, atau dibiarkan begitu saja.
Kehadiran truk sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang merata akan menjadi pondasi penting dalam sistem pengelolaan lingkungan.
Hal ini sekaligus menjadi jawaban terhadap keresahan masyarakat yang selama ini menghadapi masalah
sampah tanpa solusi konkret dari hulu ke hilir.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Menghadapi masalah besar tidak selalu harus dengan solusi yang rumit. Ada beberapa langkah kecil yang bisa dilakukan bersama, terutama oleh pemuda Batola, agar tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan:
1. One Hand One Tumbler
Gerakan sederhana membawa tumbler sendiri dapat mengurangi sampah plastik sekali pakai secara signifikan. Jika gerakan ini dikampanyekan di sekolah, kampus, dan komunitas pemuda, Batola bisa menjadi pionir pengurangan plastik di Kalsel.
2. Pembuatan Toilet untuk Masyarakat Kurang Mampu
Pemerintah bersama pemuda dapat menggagas pembangunan toilet sederhana atau septic tank komunal. Fasilitas ini tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga mencegah pencemaran sungai akibat buang air sembarangan.
3. Bank Sampah Diperbanyak
Bank sampah dapat menjadi solusi ganda: mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi. Pemuda bisa menjadi motor penggerak pengumpulan sampah anorganik yang kemudian ditukar dengan insentif atau dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
4. Bantuan Truk Sampah dan TPA yang Merata
Fasilitas persampahan harus menjangkau hingga pelosok. Pemuda dapat menjadi jembatan aspirasi dengan mendorong pemerintah daerah menghadirkan truk sampah dan TPA di setiap kecamatan, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada cara tradisional membuang sampah.
5. Pemberdayaan Masyarakat melalui Daur Ulang Kreatif
Pemerintah dapat mendorong pelatihan keterampilan bagi masyarakat untuk mengubah sampah plastik menjadi produk kerajinan tangan bernilai jual tinggi, seperti tas, dompet, pot bunga, atau hiasan rumah. Selain mengurangi sampah, langkah ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa, sehingga lingkungan bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan.
Peran Pemuda dalam Pembangunan Berkelanjutan Langkah-langkah di atas sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan 6 (Air Bersih dan Sanitasi) dan tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan).
Pemuda Batola memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Dengan kreativitas, energi, dan jejaring yang luas, pemuda bisa mendorong lahirnya gerakan sosial yang menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Lebih dari itu, keterlibatan pemuda dalam isu lingkungan akan memperkuat posisi mereka sebagai mitra strategis pemerintah. Pemuda tidak hanya hadir sebagai pengkritik, tetapi juga sebagai penggerak solusi. Kedepan, jika gerakan kecil ini dilakukan secara konsisten dan kolaboratif, Batola bisa menjadi contoh daerah yang unggul dalam mengelola lingkungan hidup.
Persoalan sampah dan sanitasi memang tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat luas: dari kesehatan masyarakat hingga ketahanan pangan. Kabupaten Barito Kuala memiliki tantangan besar, namun juga memiliki peluang besar jika pemuda mau bergerak bersama.
Dari gerakan membawa tumbler, membangun toilet, memperbanyak bank sampah, hingga memperjuangkan truk sampah, TPA, dan pemberdayaan masyarakat lewat daur ulang semua itu adalah langkah nyata untuk mewujudkan Batola yang Sejahtera, Agamis, Terpadu, dan Unggul
Oleh: Muhammad Hafiz
Catatan Redaksi:
Artikel opini ini merupakan pandangan pribadi penulis. Redaksi memberikan ruang bagi pembaca untuk mengekspresikan gagasan dan pandangan sepanjang sesuai dengan kaidah jurnalistik dan etika publikasi.