Bukan Sekadar Tuan Rumah, Marabahan Mesti Bahalap Selama MTQN Kalsel 2026

Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXXVII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan di Marabahan, Barito Kuala (Batola), mendapat dukungan sekaligus catatan dari kalangan akademisi.

Jun 13, 2026 - 22:46
Jun 14, 2026 - 02:50
Bukan Sekadar Tuan Rumah, Marabahan Mesti Bahalap Selama MTQN Kalsel 2026
Tinggal beberapa hari lagi, Barito Kuala (Batola) menjadi pusat sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional (MTQN) XXXVII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan 2026.

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XXXVII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan di Marabahan, Barito Kuala (Batola), mendapat dukungan sekaligus catatan dari kalangan akademisi. 

Salah satunya antropolog ekologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, menilai Marabahan memang layak menjadi tuan rumah karena memiliki berbagai fasilitas pendukung yang memadai.

Selain berstatus sebagai ibu kota kabupaten, Marabahan memiliki ketersediaan akomodasi, ruang kegiatan, lapangan acara, dan aksesibilitas yang memudahkan konektivitas antar lokasi pelaksanaan kegiatan.

Pun banyak manfaat yang dipetik sebagai tuan rumah. Mulai dari lonjakan transaksi lokal, pemberdayaan UMKM, hingga mendorong pemberantasan buta aksara Al-Qur'an.

"Momentum lain yang didapat sebagai tuan rumah adalah kesempatan memperkuat dan mempertegas citra Marabahan sebagai Kota Bahalap," ungkap Nasrullah, Sabtu (13/06/2026).

"Dengan kata lain, urusan kebersihan perlu menjadi perhatian serius. Sirkulasi material sampah dari lokasi produksi hingga pembuangan jangan sampai tertahan dan menumpuk," tegasnya.

Bahalap sendiri merupakan akronim dari Barasih, Harum, Langkar dan Pantas, selain berarti bagus atau indah dalam Bahasa Bakumpai. 

Konsep tersebut tidak hanya mencerminkan keindahan fisik lingkungan, tetapi juga menggambarkan tata kelola kota yang bersih, nyaman, dan tertata.

Berita Terkait:

Jelang MTQN XXXVII Kalsel 2026, Banjar Pertegas Dominasi atau Batola Ulangi Sejarah?

Batola Terancam Gagal Tuai Untung Dari Tuan Rumah MTQN Kalsel 2026, Ini Penyebabnya

Dalam perspektif antropologi, Bahalap berkaitan erat dengan etnosanitasi atau pemahaman masyarakat mengenai kebersihan lingkungan yang berakar dari nilai dan budaya lokal.

"Konsep lokalitas terkait etnosanitasi itu lantas melahirkan kata-kata 'buangi', 'putiki', 'simpuni', 'barasihi' dan lain-lain dalam Bahasa Banjar," beber Nasrullah.

"Tagline Baiman yang diusung Bupati H Bahrul Ilmi dan Wakil Bupati H Herman Susilo juga selaras dengan Bahalap, terutama dalam menguatkan pesan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman," sambung doktor antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada ini.

Di sisi lain, peningkatan sampah merupakan konsekuensi dari kerumunan manusia. Sisa makanan, minuman, hingga berbagai kemasan yang digunakan selama kegiatan akan menghasilkan material sampah dalam jumlah besar.

"Tentunya timbunan sampah dapat menjadi sebuah paradoks, ketika muncul setelah kegiatan keagamaan yang sakral. Padahal semestinya sampah berada di ruang profan," tukas Nasrullah.

Sebagai langkah antisipasi, tersedia sederet langkah praktis yang perlu dilakukan. Salah satunya penyebaran tempat pembuangan dan penampungan sampah di berbagai titik strategis, terutama tempat berkumpul masyarakat, termasuk lapangan, pemondokan kafilah, hingga pasar. 

"Langkah terakhir adalah pengangkutan sampah ke TPA. Percepatan pengangkutan menjadi faktor penting agar tidak terjadi penumpukan di penampungan maupun pembuangan sementara," jelas Nasrullah. 

"Semua pihak harus terlibat, baik secara individu maupun struktural, sehingga kebersihan benar-benar menjadi tanggung jawab bersama," tutupnya.