Cetak Sawah Rakyat di Kinarum Tabalong Mangkrak, Petani Belum Bisa Menanam

Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025 di Tabalong yang digadang-gadang mampu memperkuat ketahanan pangan, justru menyisakan ironi.

Jul 31, 2026 - 16:53
Jul 31, 2026 - 16:53
Cetak Sawah Rakyat di Kinarum Tabalong Mangkrak, Petani Belum Bisa Menanam
Lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025 di Desa Kinarum yang terbengkalai dan belum bisa dimanfaatkan hingga sekarang. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, TABALONG – Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025 di Tabalong yang digadang-gadang mampu memperkuat ketahanan pangan, justru menyisakan ironi. 

Puluhan hektare lahan cetak sawah rakyat di Desa Kinarum, Kecamatan Upau, hingga sekarang masih terbengkalai dan belum dapat dimanfaatkan petani.

Padahal bantuan benih dan pupuk dari Kementerian Pertanian sudah lebih dulu dikirim. Kondisi ini membuat bantuan pertanian yang seharusnya segera digunakan, terpaksa disimpan di gudang desa. 

"Luas lahan CSR yang telah dibuka mencapai puluhan hektare, sehingga diharapkan bisa segera dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan," papar Camat Upau, Agustian, dikutip dari Antara, Jumat (31/07/2026).

Kepala Desa Kinarum, Epatha, menambahkan pekerjaan pembukaan lahan (land clearing) hingga sekarang belum rampung. 

"Kurang lebih 30 hektare lahan CSR sudah dibuka, tetapi belum tuntas dikerjakan. Sementara bantuan benih sudah datang dan masih menumpuk di gudang desa," tukas Epatha.

Sementara Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan Perikanan dan Pertanian (DKPPP) Tabalong, Rahmani, mengakui proyek CSR memang menghadapi sejumlah kendala teknis di lapangan.

Kondisi medan berat dan vegetasi yang cukup rapat menyebabkan sebagian besar pekerjaan hanya mampu mencapai tahap land clearing, sehingga tak dilanjutkan ke tahap pengolahan lahan.

"Memang sejumlah lokasi lahan CSR terhenti hanya sampai land clearing, tidak sampai olah lahan seperti di Desa Kinarum," jelas Rahmani.

Namun lahan yang belum selesai akan kembali dikerjakan dalam tahun anggaran 2026 melalui kegiatan pengolahan lahan secara swakelola dengan melibatkan Brigade Pangan.

"Lahan sawah baru tidak bisa langsung maksimal digarap. Tentu dibutuhkan keseriusan semua pihak, terutama pemilik lahan dibantu Brigade Pangan untuk penggarapan. Kalau dibiarkan maka akan kembali ditumbuhi semak belukar," tegas Rahmani.

Sebaliknya CSR Desa Masingai II, Kecamatan Upau, menunjukkan hasil lebih baik setelah Kelompok Tani Mergo Sugih berhasil melaksanakan panen perdana, Rabu (29/07/2026).

Berdasarkan hasil ubinan, produktivitas padi mencapai sekitar 5,2 ton per hektare, meski wilayah tersebut tengah dilanda musim kemarau.

CSR di Desa Masingai II memiliki luas sekitar 3 hektare dengan memanfaatkan sumber air dari anak sungai di sekitar kawasan pertanian.

"Namun demikian, lahan tersebut baru bisa ditanami selama musim kemarau seperti sekarang. Kalau musim hujan, kondisi tanah berubah menjadi lumpur dengan kedalaman cukup tinggi," papar Sunaryo selaku Ketua Kelompok Tani Mergo Sugih.

"Kami berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat memberikan dukungan untuk mengatasi persoalan kondisi lahan, sehingga intensitas tanam bisa menjadi dua kali setahun," tutupnya.