DPRD Batola Minta Dukungan Lebih Besar Usai Kunjungan Wamen Transmigrasi ke Cahaya Baru
Harapan besar diapungkan seusai Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, langsung mengunjungi Desa Karang Indah yang menjadi bagian Kawasan Transmigrasi Cahaya Baru di Barito Kuala (Batola), Rabu (20/08/2025).
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Harapan besar diapungkan seusai Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, langsung mengunjungi Desa Karang Indah yang menjadi bagian Kawasan Transmigrasi Cahaya Baru di Barito Kuala (Batola), Rabu (20/08/2025).
Bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalimantan Selatan, Mauladi mengunjungi salah satu dari 45 kawasan transmigrasi prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 itu.
Mereka pun disambut Bupati H Bahrul Ilmi bersama Wakil Bupati Herman Susilo, Ketua DPRD Ayu Dyan Liliana Sari Wiryono, Forkopimda, dan sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, Mauladi juga melakukan panen padi dan jeruk di lahan seluas masing-masing 326 hektare dan 60 hektare.
Mauladi tidak datang dengan tangan kosong, karena menyalurkan bantuan Kementerian Transmigrasi untuk peningkatan sarana dan prasarana.
Adapun bantuan diperuntukkan renovasi sekolah, pembangunan jalan usaha tani dan jalan desa dengan total anggaran sebesar Rp4,8 miliar.
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, mengoperasikan combine harvester ketika mengawali panen raya di Desa Karang Indah. Foto: Economic Travelling
"Suatu kehormatan untuk kami di Batola, khususnya warga di Karang Indah, karena dikunjungi Wakil Menteri Transmigrasi. Kami juga berterima kasih atas bantuan yang telah digelontorkan," ungkap Ayu.
"Mudahan semangat para petani bertambah untuk mewujudkan Batola sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Lebih jauh lagi, terjalin keharmonisan dengan Kementerian Transmigrasi dan lebih banyak lagi bantuan yang diberikan," sambungnya.
Sementara Mauladi juga antusias, karena transmigrasi seharusnya bisa menciptakan pusat ekonomi baru, swasembada pangan dan pemerataan pembangunan.
"Kami senang karena sebagian besar kawasan transmigrasi menjadi lumbung pangan nasional. Kami juga akan terus berupaya agar kawasan transmigrasi berkontribusi sebagai sentra produksi beras nasional," ungkap Mauladi.
"Dengan kerja sama intensif seluruh kementerian seperti Pekerjaan Umum, Pertanian, serta Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, diharapkan produktivitas pangan meningkat dan tahun depan tidak impor lagi," imbuhnya.
Baca Juga: Bertemu Wakil Menteri Transmigrasi, DPRD Batola Bahas Pengembangan Cahaya Baru
Melalui kerja sama seluruh stakeholder melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, ditargetkan produksi padi meningkat dari biasanya 6 ton per hektare menjadi 8 ton per hektare.
"Dengan pola serupa, program transmigrasi tak hanya mensejahterakan transmigran dan warga sekitar, tetapi bisa berkontribusi dalam mewujudkan kedaulatan pangan," tegas Mauladi.
Sementara terkait penambahan transmigrasi baru di Kalsel, Mauladi menjelaskan masih dalam proses wacana. Penyebabnya penambahan transmigrasi baru lebih menyasar kawasan yang luas, tetapi minim sumber daya manusia.
"Sampai sekarang yang sudah resmi mengusulkan adalah Konawe Utara di Sulawesi Tenggara dan Halmahera Selatan di Maluku Utara, serta beberapa kabupaten di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat," beber Mauladi.
"Transmigrasi sendiri bukan sekadar perpindahan penduduk. Ini juga berkaitan dengan upaya menjaga integrasi bangsa. Pertemuan adat dan budaya yang berbeda diharapkan dapat membuat rasa persatuan bangsa semakin tinggi," sambungnya.
Ditemani Bupati H Bahrul Ilmi, Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, memanen jeruk di Desa Karang Indah yang menjadi bagian Kawasan Transmigrasi Cahaya Baru. Foto: Diskominfo Batola
Selain mengunjungi Karang Indah, Mauladi juga membuka Sosialisasi dan Tindak Lanjut Program Produk Ekspor di Kawasan Transmigrasi Cahaya Baru. Kegiatan berlangsung sejak 20 hingga 22 Agustus 2025 di Banjarmasin.
Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat orientasi ekspor produk unggulan hasil transmigrasi. Terlebih Cahaya Baru tak hanya memproduksi beras, tetapi juga jeruk dan jamur tiram.
Tak hanya dalam bentuk segar, jeruk juga telah dikembangkan menjadi serbuk sari jeruk dan bahan baku es krim, termasuk berbagai produk turunan lain. Sementara jamur tiram juga dinilai memiliki potensi besar menembus pasar ekspor.
Pun pelatihan ekspor menggandeng narasumber dari kalangan eksportir, serta buyer internasional dari Hong Kong melalui Zoom Meeting.
“Kami ingin kawasan transmigrasi tak hanya fokus kepada pangan dasar, tapi juga berkembang ke arah komoditas bernilai tambah dan berdaya saing global,” tutup Mauladi.