Dua Helikopter Kecelakaan Dalam Sepekan, BNPB Evaluasi Operasi Water Bombing

Evaluasi menyeluruh dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyusul kecelakaan helikopter Super Puma H-225 di Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, Minggu (08/11/2026).

Nov 8, 2026 - 22:03
Nov 9, 2026 - 02:37
Dua Helikopter Kecelakaan Dalam Sepekan, BNPB Evaluasi Operasi Water Bombing
Puluhan warga menarik badan helikopter Super Puma H-225 seusai terjatuh di Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Barito Kuala, Minggu (08/11/2026). Foto: Istimewa

KABARKALSEL.COM, JAKARTA - Evaluasi menyeluruh dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyusul kecelakaan helikopter Super Puma H-225 di Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, Minggu (08/11/2026).

Dalam misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan teknik water bombing, helikopter angkut bernomor registrasi VH-HGM itu terjatuh setelah mengambil air.

Seorang Helicopter Landing Officer (HLO) bernama Yayan Supyansuri meninggal dunia. Sementara pilot Hugh Andrew John dan kopilot Mick Betteridge berhasil selamat.

"Penyebab kecelakaan belum dapat disimpulkan. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan resmi," ungkap Kapusdatin BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers virtual.

Kejadian tersebut hanya berselang empat hari dari kecelakaan serupa yang menimpa helikopter Mi-17 TNI AD di Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (04/11/2026), sekitar pukul 11.18 WIB.

Sama seperti kejadian di Tabatan, helikopter yang ditumpangi 8 personel tersebut mengalami kecelakaan ketika melakukan pengambilan air untuk water bombing. 

Dalam peristiwa di Seruyan, 3 prajurit gugur. Mereka adalah Letkol Cpn (Anumerta) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anumerta) Nurhafiz Akbar, dan Sertu (Anumerta) Heri Prasetyo.

Berita Terkait:

Helikopter Water Bombing Jatuh di Sungai Barito Batola, Warga Bantu Evakuasi

Tragedi Helikopter Water Bombing di Batola, Seorang Kru Meninggal Dunia

Sedangkan 5 personel yang selamat adalah Kapten Cpn Febri, Letda Cpn Fercis, Pratu Gilang, Serka Kadiya, dan Kapten Cpn Suganda. 

"Kejadian tersebut tentu menjadi perhatian serius BNPB, khususnya dalam melaksanakan operasi udara untuk penanganan karhutla. Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan operasi udara," tegas Berton.

Terdapat tujuh aspek yang menjadi perhatian dalam evaluasi tersebut. Mulai dari kesiapan teknis dan kelaikan armada helikopter yang digunakan dalam operasi, serta kesiapan dan kompetensi awak pesawat.

Kemudian prosedur penerbangan dalam pelaksanaan misi pemadaman karhutla, serta prosedur pengambilan air dan pelaksanaan water bombing.

Selanjutnya kondisi lokasi operasi, termasuk karakteristik sungai, arus air, hambatan di sekitar lokasi, serta ruang manuver helikopter. 

Berikutnya kondisi cuaca dan faktor keselamatan penerbangan, serta koordinasi antara awak pesawat, pengendali udara, dan unsur yang bertugas di lapangan.

Selain melakukan evaluasi internal, BNPB juga akan berkoordinasi dengan operator helikopter dan instansi penerbangan terkait untuk memastikan armada yang digunakan dalam operasi berikutnya memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan.

"Evaluasi segera dilakukan, karena operasi pemadaman karhutla tetap berlanjut, tetapi dengan memperhatikan aspek keselamatan secara ketat," tutup Berton.