Progres Pembangunan Fisik Capai 85 Persen, Tiga Sekolah Rakyat di Kalsel Segera Beroperasi

Progres pembangunan fisik tiga Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan terus meningkat. Operasional pun ditargetkan dalam waktu dekat.

Jul 10, 2026 - 23:53
Jul 10, 2026 - 23:54
Progres Pembangunan Fisik Capai 85 Persen, Tiga Sekolah Rakyat di Kalsel Segera Beroperasi
Peninjauan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Banjarbaru yang dilakukan Dinas Sosial Kalsel dan Kementerian Pekerjaan Umum. Foto: Media Center Kalsel

KABARKALSEL.COM, BANJARBARU - Progres pembangunan fisik tiga Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan terus meningkat. Operasional pun ditargetkan dalam waktu dekat.

Ketiga Sekolah Rakyat yang menjadi program nasional Kementerian Sosial tersebut berada di Banjarbaru, Barito Kuala dan Tanah Bumbu. 

Sekolah Rakyat Banjarbaru berlokasi di Jalan Batu Besi, Kecamatan Landasan Ulin. Kemudian Sekolah Rakyat Barito Kuala berada di Desa Simpang Nungki, Kecamatan Cerbon.

Sedangkan Sekolah Rakyat Tanah Bumbu beralamat di Jala Kodeco Kilometer 10, Kecamatan Simpang Empat.

“Pembangunan fisik sudah mencapai sekitar 85 persen," papar Kepala Dinas Sosial Kalsel M Farhanie, melalui Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial Rahmady Abbasmay, Jumat (10/07/2026).

"Dengan luasan kawasan yang cukup besar, progres tersebut sudah baik dan terus dikebut agar dapat segera difungsikan,” sambungnya.

Bahkan bisa saja Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dapat dimulai 14 Juli 2026, seandainya bangunan dan tenaga pendidik sudah siap. 

“Target MPLS memang dimulai 14 Juli 2026. Namun pelaksanaan tetap bergantung kepada kesiapan bangunan dan sumber daya manusia. Kalau semuanya telah siap, kegiatan akan segera dimulai,” tegas Rahmady. 

Selain pembangunan fisik, proses penerimaan peserta didik baru terus dilakukan. Setiap jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, hingga SMA ditargetkan menerima 90 siswa.

"Sampai sekarang kuota peserta didik untuk SMP dan SMA telah terpenuhi. Sementara pemenuhan kuota siswa SD masih menjadi tantangan, karena masih kekurangan sekitar 40 hingga 50 calon siswa," beber Rahmady.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran sebagian orang tua untuk melepas anak-anak usia sekolah dasar mengikuti sistem pendidikan berasrama (boarding school).

“Banyak orang tua yang masih merasa khawatir melepas anak mereka tinggal di asrama. Kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami konsep Sekolah Rakyat ini,” tukas Rahmady.

Tahapan seleksi calon peserta didik sendiri telah selesai. Selanjutnya Dinas Sosial masih menunggu hasil penetapan dari Person In Charge (PIC) Program Sekolah Rakyat di Kementerian Sosial.

"Adapun rekrutmen kepala sekolah dan tenaga pendidik masih berproses di Kementerian Sosial. Sedangkan pemerintah daerah diminta membantu penyediaan guru sementara hingga proses rekrutmen selesai,” tutup Rahmady.