Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Enam Kecamatan di Banjar Masuk Zona Rawan Karhutla

Belajar dari pengalaman, Pemkab Banjar bergerak lebih cepat mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Jul 2, 2026 - 22:29
Jul 5, 2026 - 22:29
Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang, Enam Kecamatan di Banjar Masuk Zona Rawan Karhutla
Sekda Banjar H Yudi Andrea mengecek kesiapan pompa pemadam seusai Apel Kesiapsiagaan Pengendalian Karhutla 2026, Kamis (02/07/2026) pagi. Foto: Media Center Banjar

KABARKALSEL.COM, MARTAPURA – Belajar dari pengalaman, Pemkab Banjar bergerak lebih cepat mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Langkah antisipasi ditandai dengan pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Pengendalian Karhutla 2026, Kamis (02/07/2026)  pagi. 

Apel tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum memastikan kesiapan personel, peralatan, hingga koordinasi lintas instansi menghadapi musim kemarau.

Terlebih berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dan berada di bawah kondisi normal. 

"Menyikapi situasi yang akan terjadi,diperlukan kesiapsiagaan dari pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait untuk mengantisipasi karhutla," papar Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Banjar, H Yudi Andrea, dikutip dari Antara.

Hasil pemetaan BPBD Banjar menunjukkan enam kecamatan dengan hamparan lahan gambut yang luas, telah dijadikan fokus utama pengawasan agar api tidak berkembang menjadi bencana besar.

Kecamatan tersebut adalah Martapura Barat, Martapura Timur, Sungai Tabuk, Gambut, Kertak Hanyar, dan Cintapuri Darussalam. 

"Pencegahan menjadi fokus utama. Kami menargetkan kejadian karhutla ditekan hingga 50 persen dibanding tahun sebelumnya melalui kesiapsiagaan dan sosialisasi yang lebih masif kepada masyarakat," tegas Yudi.

Sementara di lapangan, BPBD Banjar juga memastikan seluruh peralatan penanggulangan telah berada dalam kondisi siap digunakan. Mulai dari pompa pemadam, selang, mesin pemadam hingga mobil tangki air.

Juga diaktifkan tiga posko utama di Kantor BPBD Banjar, Martapura Barat, dan Cintapuri Darussalam. Posko ini tersebut diperkuat jaringan pendukung di sejumlah kecamatan dan ditopang anggaran operasional sekitar Rp100 juta.

"Kami sebenarnya telah beberapa kali turun menangani karhutla yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Berkat respons cepat, api berhasil dilokalisasi sebelum merambat ke kawasan permukiman," jelas Kepala Pelaksana BPBD Wasis Nugraha

Dari hasil evaluasi, penyebab utama karhutla masih didominasi aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Sementara kondisi cuaca yang kering dan tiupan angin membuat api lebih cepat menyebar.

"Kami juga memperkuat edukasi kepada masyarakat melalui media sosial, siaran radio, pemasangan spanduk dan pamflet, hingga sosialisasi langsung ke desa-desa guna menekan potensi kebakaran sejak dini.

"Pencegahan menjadi kunci. Kami terus bersinergi dengan seluruh instansi terkait agar potensi karhutla dapat diminimalkan sejak dini," tutup Wasis.