Sumpah Pemuda 2026, Pemkab Batola Apresiasi Puluhan Anak Muda Berprestasi
Peringatan Sumpah Pemuda 2026 di Barito Kuala (Batola) tidak hanya menjadi ajang mengenang perjuangan pemuda, tetapi juga momentum mengapresiasi generasi muda berprestasi.
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Peringatan Sumpah Pemuda 2026 di Barito Kuala (Batola) tidak hanya menjadi ajang mengenang perjuangan pemuda, tetapi juga momentum mengapresiasi generasi muda berprestasi.
Atas prestasi di berbagai bidang, puluhan pemuda mendapat penghargaan dari Pemkab Batola melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporbudpar) yang diserahkan bertepatan dengan upacara peringatan ke-98 Tahun Hari Sumpah Pemuda, Senin (2/11).
Mereka yang meraih penghargaan di antaranya Norannisa selaku juara I Wira Muda Berprestasi Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan 2026. Kemudian Syarif Hidayat sebagai juara I Putra Pariwisata Kalsel 2026.
Prestasi juga diraih Malik Dastan yang menjadi juara I kategori pidato putra dalam Lomba Tingkat (LT) IV Pramuka Tingkat Provinsi Kalsel.
Penghargaan juga diberikan kepada Askiya Ramadani sebagai juara I peta pita putri dan Rezky Dian Aditya sebagai juara I robotik putra di LT IV Pramuka Tingkat Provinsi Kalsel.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati H Herman Susilo yang membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan fisik maupun teknologi.
"Kemajuan sejati harus berawal dari kualitas manusia, terutama karakter generasi muda yang mencintai tanah air, pantang menyerah, dan memiliki kepedulian terhadap sesama," ungkap Herman.
"Untuk mencapai sasaran tersebut, seluruh pihak harus membentuk generasi masa depan yang memiliki karakter patriotik, gigih, dan berempati," imbuhnya.
Adapun sikap patriotik tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan pengabdian dan tindakan nyata. Sementara kegigihan diperlukan agar pemuda tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan maupun kegagalan.
Sedangkan empati menjadi pengingat bahwa keberhasilan pribadi tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kondisi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan.
"Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan makna. Kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arah. Sementara kemajuan tanpa kemanusiaan bukan kemajuan yang sesungguhnya," tutup Herman.



