Tak Sekadar Bantuan, DPRD Batola Soroti Akar Masalah Banjir Jejangkit
DPRD Barito Kuala (Batola) menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Kecamatan Jejangkit.
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN – DPRD Barito Kuala (Batola) menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Kecamatan Jejangkit.
Diantar langsung Ketua DPRD, Ayu Dyan Liliyana Sari Wiryono, Senin (12/01/2026) sore, bantuan beragam bahan pokok tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami gangguan aktivitas selama berhari-hari.
“Semoga bantuan tersebut bisa membantu mengurangi beban harian masyarakat yang terdampak. Kami turut prihatin dengan kondisi yang dialami warga Jejangkit,” ungkap Ayu.
Selain jangka pendek, DPRD Batola juga telah memikirkan penanganan jangka panjang melalui sinergi dengan pemerintah daerah.
Terlebih penanganan tidak cukup hanya kepada tahap darurat, tetapi harus dibarengi dengan langkah strategis untuk menekan debit air agar bencana serupa tidak terus berulang.
“InsyaAllah kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi yang tepat, baik melalui pengendalian debit air maupun program penanganan banjir lain agar kejadian ini tidak berulang,” tegas Ayu.
Sementara anggota DPRD Batola, Gunawan, dalam kesempatan yang sama menegaskan banjir di Jejangkit bukan lagi persoalan baru. Banjir hampir terjadi setiap tahun sejak 2021 dan berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Berita Terkait:
PKS Batola Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir di Mandastana
Julong Group Antar Bantuan Senilai Ratusan Juta untuk Warga Terdampak Banjir di Banjar dan Batola
“Seperti keinginan masyarakat, kami berharap pemerintah daerah memberikan solusi konkret. Salah satu persoalannya adalah tata air yang menyebabkan endapan air melebihi kapasitas," beber Gunawan.
"Tidak hanya di Jejangkit, situasi serupa juga terjadi di kecamatan lain seperti Mandastana dan Alalak,” sambung anggota Komisi III DPRD Batola ini.
Selain faktor curah hujan, terdapat saluran air menuju Sungai Barito yang perlu segera ditangani. Sebelumnya masyarakat setempat menginginkan pengerukan yang menghubungkan Ray 7 Desa Tabing Rimbah di Kecamatan Mandastana dengan Daerah Irigasi Rawa (DIR) Terantang.
DIR Terantang sendiri melintasi sejumlah desa seperti Karang Indah, Karang Bunga, Karang Buah, Karang Dukuh, Samuda dan Murung Keramat, sebelum bermuara di Sungai Barito.
Di sisi lain, telah dilakukan normalisasi saluran air yang menghubungkan DIR Jejangkit dengan Sungai Bamban maupun Sungai Rasau di Kecamatan Rantau Badauh. Baik Sungai Bamban maupun Sungai Rasau sama-sama terkoneksi ke Sungai Barito.
"Kalau pembiayaan (pengerukan) tidak memungkinkan melalui APBD kabupaten atau provinsi, sebaiknya segera diusulkan kepada pemerintah pusat," tukas Gunawan.
"Terlebih sejak 2021, banjir bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Ini yang melumpuhkan aktivitas dan ekonomi masyarakat," tutupnya.