Upaya Merawat Bahasa Bakumpai Lewat Buku Antologi Puisi Pajaliau Purun

Bahasa Bakumpai yang dinilai rawan berdasarkan penelitian Balai Bahasa Kalimantan Selatan, kini mendapat ruang baru untuk terus dikenal dan dipelajari.

Sep 22, 2026 - 18:59
Sep 23, 2026 - 04:01
Upaya Merawat Bahasa Bakumpai Lewat Buku Antologi Puisi Pajaliau Purun
Selain peluncuran buku Pajaliau Purun (Antologi Puisi Dua Bahasa Bakumpai-Indonesia), event hajatan Komunitas Perahu Kata di Aula Selidah, Marabahan, Barito Kuala, juga diisi gelar wicara. Foto: Kabar Kalsel

KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Bahasa Bakumpai yang dinilai rawan berdasarkan penelitian Balai Bahasa Kalimantan Selatan, kini mendapat ruang baru untuk terus dikenal dan dipelajari.

Salah satunya melalui buku Pajaliau Purun (Antologi Puisi Dua Bahasa Bakumpai-Indonesia) yang diluncurkan di Aula Selidah, Marabahan, Barito Kuala (Batola), Selasa (22/09/2026). 

Buku setebal 162 halaman tersebut bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi menjadi upaya nyata dalam memperkenalkan dan melestarikan Bahasa Bakumpai.

“Alhamdulillah pembuatan buku sepenuhnya didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah(Kemendikdasmen) melalui Balai Bahasa Kalsel,” ungkap Syarif Hidayatullah selaku Ketua Komunitas Perahu Kata yang menjadi penggagas penerbitan buku.

“Dengan tujuan memperkenalkan Bahasa Bakumpai, kami membuat sebuah buku yang mudah dipahami oleh bukan penutur Bahasa Bakumpai," imbuhnya.

Proses penyusunan buku diawali dari pengumpulan sebanyak 66 karya puisi sejak Juli hingga Agustus 2026. Setelah diseleksi tim kurator yang terdiri dari Aspihannor, Budi Kurniawan dan Surya Achdiat, terpilih 62 puisi dari 50 penulis.

"Diharapkan buku tersebut mendorong bukan penutur untuk mempelajari Bahasa Bakumpai. Buku juga akan didistribusikan ke sejumlah sekolah," jelas Syarif.

Hal yang membanggakan dari Pajaliau Purun adalah sejumlah penulis bukan Dayak Bakumpai. Beberapa di antaranya berasal dari Hulu Sungai Tengah dan Tanah Bumbu. 

"Kami menganggap fakta tersebut memperlihatkan keinginan dari orang bukan Dayak Bakumpai untuk mempelajari Bahasa Bakumpai,” beber Syarif.

“Makanya selain diahdirkan dalam bentuk fisik, Pajaliau Purun juga tersedia dalam bentuk digital yang dapat diakses melalui laman lebubahalap.web.id,” sambungnya.

Dari 62 karya yang termuat dalam Pajaliau Purun, kebanyakan menampilkan kearifan lokal. Sedangkan tema yang diusung di antaranya urban legend, budaya, lingkungan dan romansa.

Baca Juga:

Tatkala Bahasa Bakumpai Perlahan Kehilangan Bunyi di Tanah Kelahiran

DPRD Batola Dorong Disporbudpar dan Huma Mufakat Godok Pelestarian Bahasa Bakumpai

Sementara pemilihan judul didasari keinginan kurator untuk memperlihatkan entitas nyata (purun) dan abstrak (pajaliau). Diketahui purun merupakan tumbuhan endemik lokal yang menjadi bahan baku kerajinan tangan. 

Sedangkan pajaliau diyakini sebagai penyakit teguran dari para leluhur kepada seseorang karena kesalahan atau kealpaan. Dalam literatur medis modern, pajaliau bisa disebut vertigo.

Mewakili Pemkab Batola, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar), Sirpan, mengapresiasi penyelenggaraan dan penerbitan antologi tersebut.

“Mewakili Pemkab Batola, kami berterima kasih atas penyelenggaraan kegiatan. Ini membuktikan kebudayaan selalu hidup dan berkembang. Kami juga berharap semua yang berkaitan dengan Dayak Bakumpai semakin berkembang," sahut Sirpan. 

“Upaya pelestarian dan pengembangan sebuah budaya bukan hanya didasari silsilah dan aliran darah, tetapi juga berkaitan dengan kecintaan orang-orang yang bukan Dayak Bakumpai untuk mengenal, mempelajari dan ikut menjaga," tambahnya.

Sementara antropolog sekaligus akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah, mengapresiasi dukungan Pemkab Batola terhadap kemajuan dan perkembangan kebudayaan Dayak Bakumpai.

Namun pengembangan kebudayaan perlu dilakukan dari berbagai sisi dan tidak berhenti hanya kepada penguatan identitas kelompok.

“Diharapkan juga Pemkab Batola lebih mengangkat Dayak Bakumpai bukan dari sisi etnosentris saja, tetapi juga etnosains dan kemajuan kebudayaan," harap Nasrullah.

"Bahkan kami juga berharap banyak Warisan Budaya Tak Benda (WBTb), baik Dayak Bakumpai, Banjar, Jawa, Bali dan suku yang lain di Batola,” tutupnya.

Selain peluncuran buku, kegiatan yang dihadiri berbagai elemen masyarakat tersebut juga diisi gelar wicara. Selain Sirpan dan Nasrullah, juga dihadirkan Sitti Nurmila yang merupakan ahli waris dan pelestari Rumah Bulat sebagai pembicara.