Jejak Harley-Davidson di Kalimantan, Dari Iklan Kolonial Hingga Turing Bersejarah
Jauh sebelum ekkspansi berbagai merek sepeda motor pabrikan Eropa dan Asia, Harley-Davidson ternyata sudah lebih dulu mengaspal di Kalimantan.
KABARKALSEL.COM, BANJARMASIN - Jauh sebelum ekspansi berbagai merek sepeda motor pabrikan Eropa dan Asia, Harley-Davidson ternyata sudah lebih dulu mengaspal di Kalimantan.
Bahkan sejak akhir dekade 1920, motor produksi Amerika Serikat tersebut bahkan telah menjadi simbol prestise dan kemajuan teknologi di wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai Borneo dalam Pemerintahan Hindia Belanda.
Kehadiran sepeda motor ke Hindia Belanda terjadi mulai dekade 1920-an. Kota-kota besar seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang menjadi pintu masuk berbagai merek kendaraan bermotor, termasuk Harley-Davidson.
"Selama masa itu, kendaraan roda dua lebih banyak digunakan oleh pejabat kolonial, kalangan militer, pengusaha, serta warga Eropa yang tinggal di Nusantara," papar Ketua di Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur, dikutip dari siniar pribadi.
Selanjutnya dari Jawa, perkembangan penggunaan sepeda motor kemudian merambah ke berbagai pulau dan daerah , termasuk Kalimantan.
Sekitar pertengahan 1928, masyarakat di Borneo sudah mulai mengenal dan membeli sepeda motor, terutama Harley-Davidson yang terkenal tangguh untuk menaklukkan medan berat.
Popularitas Harley-Davidson tidak terlepas dari kondisi infrastruktur yang mulai berkembang. Jalan darat atau postweg yang dibangun pemerintah kolonial menjadi jalur penting yang memungkinkan kendaraan bermotor menjangkau wilayah-wilayah pedalaman.
Salah satu bukti keberadaan Harley-Davidson di Kalimantan terekam dalam sebuah foto koleksi KITLV sekitar 1928. Foto ini memperlihatkan seorang kepala pasar (marktmeester) di Barabai, Hulu Sungai Tengah, berdiri bersama sepeda motor yang diduga merupakan Harley-Davidson Model BA.
Meski identitas kepala pasar tidak disebutkan, foto itu menjadi bukti menarik bahwa kendaraan bermotor tidak hanya digunakan oleh pejabat Eropa, tetapi juga oleh kalangan pribumi terdidik yang bekerja dalam struktur pemerintahan kolonial.
Diketahui seorang marktmeester memiliki tanggung jawab mengelola pasar, menata aktivitas perdagangan, memungut retribusi, hingga menegakkan aturan pasar setempat.
"Minat masyarakat terhadap Harley-Davidson juga didorong strategi pemasaran yang agresif. Salah satunya terlihat dalam iklan yang dimuat surat kabar De Indische Courant edisi 14 Januari 1928," beber Mansyur.
Iklan tersebut mempromosikan model Harley-Davidson keluaran 1928 dengan menonjolkan penurunan harga melalui slogan 'Belangrijke Prijsverlaging'. Ilustrasi motor ditampilkan secara rinci untuk memperkuat kesan modern, kuat, dan bernilai tinggi.
Calon pembeli juga ditawarkan kemudahan pembayaran melalui skema cicilan atau pembayaran bertahap. Dalam iklan itu disebutkan bahwa masyarakat dapat meminta daftar harga dan informasi mengenai syarat pembayaran yang fleksibel.
Sebagai distributor resmi, nama W Ph Van Laar yang berkedudukan di Surabaya dicantumkan dalam iklan. Kehadiran agen resmi ini memberikan jaminan kepada calon konsumen bahwa produk dapat diperoleh melalui jalur distribusi terpercaya.
Tujuh tahun kemudian, tepatnya dalam edisi 14 September 1935, De Indische Courant kembali memuat iklan Harley-Davidson yang menegaskan bahwa W Ph Van Laar merupakan perwakilan tunggal Harley-Davidson di Hindia Belanda.
Iklan tersebut menampilkan sosok pengendara di atas Harley-Davidson, menggambarkan kendaraan itu sebagai simbol modernitas, kekuatan, dan status sosial.
Target pasar pun jelas. Mulai dari pejabat kolonial, pengusaha, aparat pemerintah, warga Eropa, serta kalangan elite lokal yang memiliki kemampuan finansial tinggi.
Upaya promosi Harley-Davidson di Kalimantan tidak hanya melalui iklan surat kabar. Distributor juga menggelar kegiatan yang cukup spektakuler berupa perjalanan jarak jauh tanpa henti atau nonstop turing.
Rencana kegiatan tersebut diberitakan oleh surat kabar De Locomotief edisi 5 Oktober 1927. Diawali dengan laporan kedatangan FA Michel selaku perwakilan perusahaan Van Laar Surabaya ke Kantor Pos Borneo di Kandangan.
Lantas Michel disebut akan melakukan perjalanan tanpa henti pertama di Kalimantan. Rute yang dipilih membentang dari dari Bandjermasin (Banjarmasin) menuju Moeara Oja (Muara Uya) di Tabalong, kemudian kembali lagi ke Banjarmasin dengan total jarak sekitar 560 kilometer.
Selama masa Hindia Belanda, Muara Uya dikenal sebagai titik akhir jalan pos di Kalimantan. Namun perjalanan ini menjadi tantangan besar, karena kondisi jalan yang masih jauh dari kata ideal.
Akhirnya disiapkan Harley-Davidson satu silinder berkapasitas 350 cc dan dikendarai secara bergantian. Michel bertugas mengendarai motor dari Banjarmasin menuju Muara Uya, sementara perjalanan pulang ke Banjarmasin dilanjutkan oleh sang adik.
Untuk mendukung perjalanan, motor menggunakan bahan bakar dari BPM, oli merek Gargoyle, serta ban luar dan ban dalam Good Year.
Sejumlah pos pemeriksaan disiapkan di sepanjang jalur guna memastikan perjalanan berlangsung lancar. Konsumsi bahan bakar dan oli juga direncanakan dicatat sebagai bagian dari uji ketahanan kendaraan.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu catatan menarik dalam sejarah otomotif Kalimantan. Selain menunjukkan kemampuan Harley-Davidson, aksi ini juga menjadi strategi promosi efektif untuk menarik minat calon konsumen di wilayah pedalaman.
Hampir satu abad kemudian, jejak Harley-Davidson di Kalimantan menjadi bagian menarik dari sejarah transportasi dan perkembangan teknologi.




