Pertama di Batola! SSC PLUT UMKM BAIMAN Siap Bantu UMKM Naik Kelas
Pelaku UMKM di Barito Kuala (Batola) segera menikmati akses pembinaan usaha yang lebih mudah tanpa harus berulang kali datang ke kantor pemerintah.
KABARKALSEL.COM, MARABAHAN - Pelaku UMKM di Barito Kuala (Batola) segera menikmati akses pembinaan usaha yang lebih mudah tanpa harus berulang kali datang ke kantor pemerintah.
Diberi nama Smart Service Centre (SSC) PLUT UMKM BAIMAN, layanan pembinaan usaha mikro berbasis digital pertama di Bumi Selidah ini disiapkan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopperindag) Batola.
Dalam tahap awal, proyek perubahan tersebut telah disosialisasikan di Aula Mufakat, Marabahan, Kamis (13/08/2026). Berhadir para camat, tenaga ahli statistik, perwakilan masyarakat dari 17 kecamatan, serta sejumlah pemangku kepentingan lain di Batola.
Kehadiran unsur kewilayahan dan data itu akan menjadi kunci, karena SSC dirancang bekerja di atas dua fondasi sekaligus berupa jangkauan pelayanan sampai ke desa dan akurasi data pelaku usaha mikro.
"Diharapkan seluruh lapisan masyarakat tahu dan mengerti SSC PLUT UMKM BAIMAN sebagai pusat pelayanan usaha mikro, baik dari sisi kelembagaan, sumber daya manusia, produksi, pemasaran, maupun pembiayaan," papar Diskopperindag Batola, Hery Sasmita, seusai sosialisasi.
Meski memiliki nama yang cukup panjang, SSC PLUT UMKM BAIMAN menawarkan kemudahan registrasi. Pelaku usaha tidak perlu menyiapkan tumpukan dokumen atau berkali-kali mendatangi kantor pelayanan.
Cukup menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan mengisi formulir yang disediakan, pelaku usaha langsung masuk ke dalam basis data pembinaan.
“Satu NIK untuk satu identitas usaha. Kalau sudah terdaftar, pelaku usaha langsung masuk basis data pembinaan dan berhak atas layanan konsultasi, pelatihan, pendampingan legalitas, fasilitasi pemasaran, sampai akses pembiayaan,” jelas Hery.
Pendekatan single identity berbasis NIK tersebut sekaligus bertujuan mengatasi persoalan pendataan UMKM yang berpotensi tersebar dan tumpang tindih antarinstansi.
Dengan sistem satu pintu, data pelaku usaha diharapkan lebih mudah diverifikasi, serta dapat digunakan sebagai dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan dan program pembinaan.
Oleh karena dirancang sebagai portal berbasis web dan aplikasi yang mudah diakses, sekaligus berfungsi selayaknya kantor virtual untuk pelaku usaha, SSC PLUT UMKM BAIMAN bertumpu kepada empat modul utama.
"Modul pertama adalah registrasi dan single identity berbasis NIK sebagai pintu masuk pendataan pelaku usaha mikro," ungkap Hery.
Berikutnya e-konsultasi atau tele-consulting yang memungkinkan pelaku usaha berkonsultasi dari jarak jauh dengan konsultan pendamping. Konsultasi mencakup bidang kelembagaan, sumber daya manusia, produksi, pemasaran dan pembiayaan.
Tidak sekadar mendata, Smart Service Centre (SSC) PLUT UMKM BAIMAN diproyeksikan dapat mendorong ratusan UMKM di Batola naik kelas hingga 2029. Foto: Istimewa
Kemudian modul e-learning dan bank dokumen yang menyediakan materi pembelajaran, serta panduan pengurusan berbagai kebutuhan legalitas usaha, termasuk NIB, sertifikasi halal dan PIRT.
"Terakhir modul executive dashboard yang menampilkan data UMKM secara real time, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pimpinan daerah dalam mengambil kebijakan," beber Hery.
Solusi Pelayanan
Urgensi kehadiran SSC PLUT UMKM BAIMAN tergambar dari angka. Berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) 2025, jumlah UMKM di Batola mencapai 42.471 unit yang tersebar di 17 kecamatan.
Sementara Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Batola yang berada di Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, hanya diawaki 7 orang. Mereka terdiri dari seorang pengelola, seorang tenaga administrasi, dan 5 konsultan pendamping.
"Artinya seorang petugas harus melayani rata-rata lebih dari 6.000 pelaku usaha atau rasio sekitar 1 berbanding 6.067. Dengan pola pelayanan konvensional yang mengharuskan tatap muka, cakupan layanan sulit dipenuhi," tukas Hery.
Di sisi lain, Data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan skor Pilar Dinamisme Bisnis Batola turun dari 4,01 hingga akhir 2024 menjadi 2,94 di pengujung 2025.
"Sebaliknya Pilar Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi menguat menjadi 4,77. Kondisi ini menunjukkan peluang memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari strategi memperluas pembinaan dan penguatan usaha masyarakat," tegas Hery.
Selain menjadi salah satu solusi, proyek perubahan tersebut diarahkan untuk mendukung visi Batola SATU (Sejahtera, Agamis, Terpadu, Unggul) Menuju Indonesia Emas, terutama dalam penguatan kemandirian ekonomi dan pelayanan publik berbasis digital.
Sementara tagline BAIMAN atau Batambah Ilmu Manajemen menegaskan semangat SSC PLUT UMKM BAIMAN yang bertujuan agar pembinaan tidak berhenti dengan pendataan saja, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pelaku usaha.
"Terlebih dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Pemkab Batola menargetkan 168 UMKM informal naik kelas menjadi usaha formal hingga 2029," sahut Hery.
"Sudah semestinya pemerintah menjemput pelaku usaha lewat kanal digital dan bukan hanya menunggu di kantor. Mudahan dengan SSC PLUT UMKM BAIMAN, tidak seorang pun pelaku usaha mikro di Batola yang merasa tidak tersentuh pembinaan," tutupnya.
Adapun proyek perubahan yang dibawa Hery merupakan bagian dari Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XVIII Tahun 2026 yang diselenggarakan BPSDMD Kalimantan Selatan.
Bertindak sebagai mentor adalah H Wahyudi yang juga Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Batola.

