Semakin Mudah Diakses, 90 Persen Pekerja Teknologi Mengandalkan AI
Cukup mudah diakses, semakin banyak pula pekerja industri teknologi menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam pekerjaan sehari-hari.
KABARKALSEL.COM, JAKARTA - Cukup mudah diakses, semakin banyak pula pekerja industri teknologi menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam pekerjaan sehari-hari.
Dalam riset terbaru DevOps Research and Assessment (Dora) milik Google yang dikutip dari CNN, AI digunakan oleh 90 persen pekerja. Angka ini naik 14 persen dibanding 2024.
Persentase tersebut didasari survei terhadap 5.000 profesional teknologi di berbagai negara. Adapun AI paling banyak digunakan untuk tugas seperti menulis dan memodifikasi kode.
Fakta tersebut muncul di tengah perdebatan soal dampak AI terhadap lapangan kerja dan ekonomi.
Beberapa tokoh industri, termasuk CEO Anthropic, Dario Amodei, sempat mengkhawatirkan AI dapat meningkatkan angka pengangguran. Namun pelaku industri lain menilai kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan.
Di sisi lain, data menunjukkan bahwa lulusan baru di bidang teknik komputer dan ilmu komputer mengalami tantangan lebih besar dalam mencari pekerjaan.
Dari The New York Fed, tingkat pengangguran untuk lulusan jurusan tersebut lebih tinggi dibanding bidang sarjana sejarah, seni dan Bahasa Inggris.
Sementara jumlah lowongan kerja untuk insinyur perangkat lunak di platform Indeed dilaporkan turun 71 persen antara Februari 2022 hingga Agustus 2025.
Google sendiri menjadi salah satu perusahaan yang mendorong penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak. Perusahaan ini menawarkan berbagai alat bantu bertenaga AI, mulai dari versi gratis hingga berbayar seharga 45 dolar AS per bulan.
Persaingan di ranah AI semakin ketat dengan kehadiran perusahaan seperti Microsoft, OpenAI, dan Anthropic, serta sejumlah startup seperti Replit dan Anysphere yang terus meroket.
"Sebagian besar tim internal Google sudah memanfaatkan AI dan terintegrasi dalam berbagai aspek pekerjaan teknis, termasuk dokumentasi maupun editor kode," beber Ryan Salva, Kepala Divisi Pengembangan Alat Bantu Pemrograman di Google.
Meski penggunaan meningkat, tidak semua profesional teknologi merasa yakin dengan hasil AI. Sebanyak 46 persen responden mengatakan agak mempercayai kualitas kode yang dihasilkan AI.
Sedangkan sebanyak 23 persen hanya mempercayainya sedikit, dan 20 persen mengaku sangat percaya.
Dari sisi kualitas kode, 31 persen responden merasa AI hanya sedikit meningkatkan hasil kerja. Sementara 30 persen merasa tidak berdampak sama sekali.
"Kemampuan AI dalam pengembangan perangkat lunak berada di antara level tiga dan empat dari lima skala kematangan. Artinya AI sudah bisa mencari solusi lintas sistem, tapi masih membutuhkan pengawasan manusia dan berbagai lapisan pengaman," beber Salva.
"Terlebih terdapat bagian penting dalam pengembangan perangkat lunak yang tidak bisa diotomatisasi. Namun demikian, AI justru akan membantu menyederhanakan tugas-tugas yang dianggap membosankan oleh para pekerja," sambungnya.
Kedepan peningkatan penggunaan AI kemungkinan besar turut didorong oleh hype atau gaung besar teknologi ini, "Pengembangan perangkat lunak itu seperti industri fesyen. Semua berlomba mengejar gaya celana jeans terbaru," tutup Salva.