Berjuang Melawan Karhutla di Bincau Banjar, Enam Petugas Pemadam Dilarikan ke IGD

Pengobatan enam petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di IGD RSUD Ratu Zalecha Martapura, Jumat (16/10/2026) malam, dipastikan gratis.

Oct 16, 2026 - 23:12
Oct 17, 2026 - 02:13
Berjuang Melawan Karhutla di Bincau Banjar, Enam Petugas Pemadam Dilarikan ke IGD
Bupati Banjar Saidi Mansyur menjenguk petugas yang dirawat di di IGD RSUD Ratu Zalecha Martapura, setelah mengalami gangguan pernapasan ketika memadamkan karhutla di Desa Bincau, Jumat (16/10/2026) malam. Foto: Media Center Banjar

KABARKALSEL.COM, MARTAPURA - Pengobatan enam petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di IGD RSUD Ratu Zalecha Martapura, Jumat (16/10/2026) malam, sudah dipastikan gratis.

Keenam petugas pemadam kebakaran tersebut mengalami sesak napas dan  beberapa di antaranya sempat pingsan akibat paparan asap, ketika memadamkan karhutla di Desa Bincau. 

Mereka adalah Hasanudin, M Hasan, M Rizky, Aditya dan Yosi Rahman yang merupakan relawan Bumi Selamat Rescue (BUSER 690), serta Aulia Rizky dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar. 

Guna menghindari hal yang tidak diinginkan, mereka langsung dilarikan ke IGD RSUD Ratu Zalecha guna mendapatkan perawatan intensif.

Tidak lama berselang, keenam petugas pemadam kebakaran tersebut dibesuk Bupati Saidi Mansyur yang didampingi Kepala BPBD Wasis Nugraha.

Juga Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Agus Siswanto, dan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Faisal.

“Tentunya semangat dan kepedulian para relawan harus diapresiasi. Namun keselamatan diri tetap harus menjadi perhatian utama. Jangan memaksakan diri apabila kondisi fisik sudah tidak memungkinkan,” pesan Saidi.

“Kami berharap hal seperti itu tidak terjadi lagi. Sesuai komitmen Pemkab Banjar, penanganan kesehatan akan digratiskan," tegasnya.

Sementara Ketua Buser 690 Banjar, Hasan Hamdan, menjelaskan situasi pemadaman karhutla di Bincau cukup berisiko karena asap yang cukup tebal.

Sejak sekitar pukul 15.00 hingga 18.30 Wita, kobaran api dilaporkan masih terus menyala sehingga petugas harus bekerja ekstra untuk mengendalikan kebakaran.

“Saya juga berada di lokasi dan sempat mengalami sesak napas. Mata juga terasa perih akibat asap, karena karhutla di Bincau cukup luar biasa,” papar Hasan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Banjar untuk meminta bantuan tabung oksigen. Mudah-mudahan bantuan ini bisa segera disalurkan, karena keselamatan petugas dan relawan di lapangan harus benar-benar diperhatikan," tutupnya.