BGN Ungkap 4.700 Porsi MBG Picu Gangguan Kesehatan Anak

Fakta miris terungkap dari Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprogramkan Presiden Prabowo Subianto untuk anak usia sekolah.

Sep 22, 2025 - 23:35
Sep 22, 2025 - 23:38
BGN Ungkap 4.700 Porsi MBG Picu Gangguan Kesehatan Anak
Kepala Badan Pangan Nasional (BGN), Dadan Hindayana memaparkan tentang kasus MBG yang menyebabkan gangguan kesehatan. Foto: Antara

KABARKALSEL.COM, JAKARTA - Fakta miris terungkap dari Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprogramkan Presiden Prabowo Subianto untuk anak usia sekolah.

Penyebabnya Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan sebanyak 4.700 porsi MBG telah menyebabkan gangguan kesehatan untuk siswa.

"BGN sudah membuat 1 miliar porsi makan sampai sekarang. Namun ditemukan 4.700 porsi yang menimbulkan gangguan kesehatan terhadap anak-anak," jelas Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam konferensi pers dikutip dari Antara, Senin (22/09/2025).

Berdasarkan pemetaan kasus yang dilakukan BGN, ditemukan 7 kasus dengan 1.281 orang mengalami gangguan kesehatan di Wilayah 1 Sumatera. Kemudian terdapat 27 kasus yang menyebabkan 2.606 orang mengalami gangguan kesehatan di Wilayah 2 Jawa.

Selanjutnya di Wilayah 3 yang meliputi Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua, ditemukan 11 kasus dengan 824 orang mengalami gangguan kesehatan.

"Kami menyesalkan kejadian tersebut, sekaligus terus memperketat mekanisme. Diinstruksikan agar setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memulai dengan jumlah yang kecil untuk menekan gangguan kesehatan," imbuh Dadan.

Sebagai contoh SPPG yang seharusnya melayani 3.500 orang dari 20 sekolah, disarankan hanya mendistribusikan MBG untuk 2 sekolah di hari pertama. Setelah dinilai mampu, jumlah sekolah yang dilayani baik bertahap.

Solusi tersebut berkaca dari sebagian besar kejadian gangguan kesehatan yang disebabkan SPPG baru. Terlebih rata-rata SPPG membutuh pembiasaan, karena harus menyediakan ribuan porsi dalam sehari.

"Setiap SPPG perlu memitigasi dini dengan memperhatikan pengelolaan bahan ketika akan mengganti pemasok. Ini terjadi di Banggai Kepulauan, Sulawesi Selatan, akibat pengolahan ikan cakalang yang kurang benar," jelas Dadan.

"Kalau tidak membersihkan dengan baik, cakalang rentan menyebabkan alergi hingga bahkan bisa mematikan. Makanya semuanya harus hati-hati," tegasnya.

Sementara Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Universitas Gadjah Mada, Prof Sri Raharjo, menegaskan aspek keamanan pangan tidak boleh diabaikan dalam pelaksanaan MBG.

"Keracunan makanan bisa disebabkan food intoxication atau keracunan akibat racun yang dihasilkan oleh bakteri, dan food infection atau infeksi akibat mengonsumsi bakteri patogen," beber Raharjo.

"Kedua tipe keracunan itu kerap tanpa tanda-tanda yang terlihat. Namun efek keracunan baru muncul beberapa jam atau bahkan keesokan hari usai dikonsumsi,” sambungnya.

Risiko keracunan dari masakan berskala besar memang cukup tinggi. Penyebabnya proses memasak memerlukan waktu lama dan bisa menjadi salah satu faktor kunci kontaminasi. 

Walaupun bahan makanan sudah terjamin aman, makanan tetap bisa terkontaminasi selama proses pengolahan tidak ditangani dengan benar.

“Beberapa sekolah sudah menjalankan program semacam MBG dengan skala lebih kecil. Semestinya pemerintah bisa bekerja sama dengan sekolah dan bertanggung jawab dengan makanan untuk siswa masing-masing," usul Raharjo.

"Target 82,9 juta orang yang dicanangkan BGN di tahun pertama terlalu banyak dan terlalu cepat. Seharusnya fokus kepada skala kecil dulu dan dibenahi, lalu pelan-pelan sekolah lain mulai dapat bagian,” tutupnya.